TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RELA KEHILANGAN



"Bagaimana jika kita jodohkan kedua anak kita?" sebuah ide terlontar dari mulut Ravlina.


Kanya menahan napas mendengar hal itu. Ini lah yang ditakutkan. Wanita itu sangat tahu apa maksud tujuan sahabat suaminya ini.


Bram terkekeh mendengar ide yang dicetuskan oleh Ravlina.


"Sayangnya. Putraku sudah punya calon istri," jawaban Bram mengejutkan Harun dan Ravlina terlebih Sevriana.


"Ca-calon istri?" cicit Sev.


Bram mengangguk. Ia tersenyum penuh penyesalan kepada sahabatnya.


"Maaf ya. Sayang putraku hanya satu. Jika ada dua mungkin aku bisa pertimbangkan ide ini," ungkap Bram..


"Oh ... emm ... apa kamu tidak bisa memaksa sedikit, lagi pula jika pernikahan ini terjadi, kita berdua sangat diuntungkan," ujar Harun. Pria itu seperti hendak bernegosiasi..


Bram tertawa. Kemudian ia mengangguk.


"Demi kelangsungan persahabatan kita. Kau tau kan, bisnis kita berdua semakin berkembang. Jika kita bersatu, kita bisa meluaskan lagi usaha kita," ujar Harun memberikan sebuah keuntungan dari hasil pernikahan ini.


Bram mengangguk. Sedang Kanya hanya diam. Wanita itu sangat ingin menyela semua perkataan Harun. Tapi, ia sangat ingin Bram lah yang mengatakan penolakan itu.


"Kau benar sekali. Jika terjadi pernikahan ini, maka semua pebisnis akan sangat menghargai bahkan peluang investor juga bertambah. Nilai jual saham juga akan melonjak," ujar Bram yang memikirkan keuntungan yang menggiurkan.


Kanya menahan napas, dadanya sesak. Sungguh ia menahan semua kemarahannya. Ia tidak terima ada yang menggantikan posisi gadis yang sudah bersemayam di hatinya.


"Benar kan. Bayangkan, PT Bermegah Pratama Group dengan PT Agatha Company Group bersatu," ulas Harun. "Dunia akan geger dan bisnis akan kita kuasai."


"Ya kau benar sekali," ujar Bram.


"Jadi, tidak apa kan kau membatalkan pernikahan putramu dengan calon istrinya?"


Bram menatap Harun lalu tersenyum. Tiba-tiba senyum itu berubah, wajah yang penuh persahabatan menghilang. Mata tajam dan aura dingin Bram keluar. Sosok arogan dan tidak bisa dibantah pun muncul. Siapa pun akan bergidik jika Bram mulai mengeluarkan taringnya. Kanya bisa merasakan itu.


Harun yang melihat perubahan Bram, agak terkejut. Pria itu masih bingung. Untuk apa sahabatnya itu mengeluarkan aura kepemimpinan yang ditakuti.


'Kenapa auranya jadi begini? Apa karena berbicara bisnis, maka ia berubah?' tanya Harun dalam hati.


Sev yang baru pertama kali merasakan aura kepemimpinan yang begitu kuat, tubuhnya gemetar hebat. Gadis itu menelan saliva dengan sangat sulit, begitu juga Ravlina. Suaminya juga seorang pemimpin perusahaan besar. Tapi, aura yang dikeluarkan Harun tidak pernah sekuat ini.


"Harun," suara berat dan penuh intimidasi keluar dari mulut Bram.


Harun menelan saliva. Ia sangat gugup. Baru pertama kali ia mendapat situasi seperti ini.


"I-iya."


"Seberapa banyak kekuasaan Anda?" tanya Bram masih dengan intonasi yang sama. Datar.


"Anda tau. Perusahaan mu tidak ada seujung kukunya perusahaan Saya. Bahkan jika dibandingkan dengan perusahaan milik mendiang Tuan Hudoyo. Anda kalah jauh!" Aura arogansi mendominasi perkataan Bram.


"Jika pun pernikahan ini tidak terjadi. Tidak ada dampak apa pun. Bukankah kita tak pernah melakukan kerja sama apa pun?" lagi-lagi Harun membenarkan perkataan Bram walau dalam hati.


"Jadi saya rasa kehilangan sahabat seperti dirimu tidaklah mengapa. Dibandingkan jika harus kehilangan kebahagiaan putraku!" ujar Bram masih dengan aura arogansinya.


"Sepertinya, persahabatan kita sampai di sini saja," ujar Bram mengakhiri pertemuan.


Bram berdiri dengan penuh karisma. Siapa pun akan tunduk jika melihat aura yang terpancar dari tubuh pria itu. Bahkan suasana restoran pun berubah karena auranya.


Bram mengamit tangan Kanya, digandengnya mesra tangan sang istri. Dominasi antara arogan dan cinta begitu kuat. Bram pergi dari restoran bersama Kanya meninggalkan sepasang suami-istri yang sudah menjadi mantan sahabat bersama putrinya.


"Hhh ...!" Harun menghirup udara rakus. Dari tadi ia kesulitan bernapas ketika Bram menguarkan aura arogannya. Pria itu mati kutu.


"Dad!" panggil Sev takut.


"Tenanglah Sev. Daddy mengaku kalah pada saat ini. Sekarang adalah usahamu, mendekati Haidar, buat ia berpaling padamu!'


Sev terdiam. Ia membayangkan sosok Bram juga ada pada Haidar, karena selama ini, seperti itulah berita yang ia dengar mengenai pria yang menjadi incarannya.


"Daddy yakin kau bisa menyingkirkan calon istri Haidar. Daddy rasa, ia hanya gadis dari kalangan biasa. Bukan kah selama ini, Haidar tidak pernah mengumbar masalah pribadinya di publik?' tanya Harun.


Sev mengangguk. Gadis itu akhirnya memiliki kepercayaan diri yang kuat. Ia yakin jika dirinya bisa mengalahkan saingan terberatnya untuk mendapatkan Haidar.


"Ya, tentu saja putri kita bisa. Bukankah selama ini, Sev selalu memasuki nominasi sebagai manager terbaik, bahkan wajahnya ada di salah satu mode majalah bisnis!" tekan Ravlina mengingatkan.


"Kau benar. Putri kita lebih maju satu langkah," ujar Harun membenarkan.


Sev tersenyum. Sekarang tantangannya adalah bertemu dengan Haidar. Gadis itu mengingat pada sebuah acara besar tahunan yang akan di selenggarakan sebentar lagi.


"Mom, Dad. Sebentar lagi ada gala dinner para pebisnis. Aku diundang di acara itu. Sepertinya, di momen tersebut aku bisa menggunakan kesempatan untuk bertemu dengan Haidar," usul Sev.


"Ya ... itu bagus, kau bisa langsung bertemu dan mendekatinya. Hanya pasangan resmi saja yang diundang. Daddy yakin, Haidar tidak akan membawa kekasihnya, karena bukan istrinya," ujar Haidar.


"Baiklah sekarang, Mommy dama Daddy pulang. Kau pasti harus bekerja kembali bukan, ini sudah waktu habis makan siang" ujar Ravlina mengingatkan..


"Ah iya, waktuku tidak banyak, tadi aku tidak sempat bilang jika masuk sedikit terlambat!" ujar Sev panik.


Mereka akhirnya pergi dari restoran dengan tujuan masing-masing.


bersambung.


ah ... lega


yuk jan lupa dukung terus karya othor, jangan lupa komentar yang rameeee .makasih