TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
LAUNCHING FLYING INTERNET



Gagasan flying internet sudah selesai uji coba. Internet otomatis mati jika ada tekanan udara melebihi kubik perskalanya. Signal dari flying internet dapat menemukan lokasi yang bisa dipakai sebagai pendaratan darurat.


Biaya ujicoba ini begitu luar biasa. Tetapi, karena gagasan para ilmuwan didukung penuh oleh pemerintah. Maka negara inilah yang pertama kali menggagas ide internet jalur udara ini.


Terlebih, susunan kepulauan dan iklim tropis. Kepadatan jalur lalulintas udara di wilayah strategis pun menjadi kendala di awalnya.


Maka, perusahaan Hudoyo Cyber Tech melaunching hanya dua puluh jaringan saja. Dengan skala kecepatan sepuluh hingga lima belas mpps. Para biliyuner pun berbondong-bondong membeli jalur internet udara ini.


Pesawat kepresidenan dan pesawat jet pribadi para raja-raja Arab mulai mendaftar untuk bisa merebut signal udara. Harga ditawarkan sebesar dua puluh juta euro pun tidak masalah bagi kaum borguis.


Hanya hitungan jam dua puluh titik Chanel jaringan laku terjual. Karena observasi uji coba hanya di.dua benua dan beberapa negara di timur tengah.


Harga saham mulai melonjak naik. Para pemegang saham menjadi kaya raya. Banyak para investor menanamkan saham mereka di PT Hudoyo Cyber Tech milik Terra ini.


Semua karyawan mendapat bonus. Dari pihak managerial hingga petugas kebersihan juga keamanan. Raut-raut bahagia pun tercetak di wajah mereka.


Terra akan mengajak anak-anak pergi ke taman bermain di salah satu mall. Tentu saja disambut antusias oleh anak-anak. Terra menyewa satu wahana permainan ski es dan Bombom car.


Virgou dan Herman pun turut serta bersama istri dan anak-anak mereka, begitu juga Budiman dan Gisel. Semuanya bersenang-senang.


Gelak tawa memenuhi ruangan. Para pengunjung pun tak bisa memasuki kawasan yang telah disewa oleh Terra. Penjagaan berlapis dilakukan oleh Gio dan tim.


Lelah bermain, Terra pun mengajak semuanya makan di sebuah restoran yang tak jauh dari tempat itu.


"Kak, kok Ibu dan Bapak nggak diajak?" tanya Terra.


"Ibu menolak, ia sudah terlalu tua untuk senang-senang. Begitu katanya," jawab Budiman.


Tampaknya pria itu tidak menikmati suasana karena kepikiran dengan ayah dan ibunya di rumah.


"Ya, sudah. Bagaimana kita ajak, Ibu dan Bapak ke pantai Papa," saran Haidar.


"Wah, boleh juga tuh. Udah lama.juga kita nggak refreshing. Suntuk banyak kerjaan," sahut Virgou.


"Kebetulan Papa bangun dua vila lagi. Tanah yang di sebelah pantai dijual dan langsung Papa beli," sahut Haidar.


"Oke, sekarang kita pulang cepat dan beres-beres ya. Besok kita sewa bus aja seperti kemarin itu. Jadi biar enak," saran Virgou.


Semua mengangguk setuju. Herman yang belum pernah ke pantai paling antusias.


"Kek anak kecil aja," sindir Virgou.


"Iya, aku dari dulu emang nggak pernah ke mana-mana selain jadi kacung mendiang ayahku," sahut Herman.


"Ish, Ayah. Udah ah. Jangan ingat masa lalu lagi," tegur Terra dengan nada tidak enak.


Semuanya pun pulang. Bersiap untuk besok pergi bersama keluarga. Bram juga diajak ikut. Tetapi, pria itu menolak. Ia ingin di rumah berdua menikmati hari bersama sang istri.


"Mungkin Papa dan Mama ingin masa tenang, sayang. Nanti kita pulang langsung menyerbu rumah mereka, bagaimana?" saran Haidar menenangkan istrinya yang kecewa.


"Oteh!" sahut Terra antusias.


Berkat flying internet muncul. Banyak negara di berbagai benua meminta wilayah mereka masuk observasi. Para biliyuner negara mereka juga ingin menikmati kecanggihan teknologi di udara tanpa gangguan apa pun.


Terra dan Gabe telah membentuk tim untuk melakukan itu. Semuanya akan didanai oleh para supplier negara masing-masing yang meminta observasi wilayah.


Terra pun menyerahkan semua pada Gabe selaku CEO perusahaan. Ia akan kembali ke balik layar. Gabe juga ingin ikut bersenang-senang.


Maka pagi hari semua sudah berkumpul di rumah Terra. Para pengawal pun membentuk tim, bahkan sebagian sudah berada di lokasi untuk mengecek sistem keamanannya.


Terra membawa Romlah dan Ani untuk membantunya memasak. Sedang yang lain berjaga di rumah.


Setelah meletakan semua koper di bagasi bus. Mereka pun berangkat menuju pantai. Butuh waktu dua jam untuk sampai lokasi.


Sampai sana, ternyata sudah disambut oleh orang tua Haidar dan juga Karina dan Zain bersama anak-anaknya. Haidar pun terkejut bukan main.


"Surprise!' seru Bram terkekeh.


Terra memeluk mertuanya. Budiman pun memperkenalkan ayah ibunya pada Bram dan Kanya. Dua orang tua Budiman masih kikuk dan canggung. Walau tidak ketakutan lagi seperti di awal.


Semua menempati vila masing-masing. Haidar dan istri mendapat yang paling besar karena ia paling banyak.


Para perempuan menyiapkan makanan, waktunya sudah masuk makan siang. Seperti biasa mereka masak besar karena jumlah bertambah.


Hingga tak terasa waktu pun cepat berlalu kini malam menjelang. Para pria tengah membakar ikan. Darren mengambil gitar penjaga Villa. Pria remaja itu pun mulai memetik gitar dan mengalun kan lagu.


Suara peralihan anak-anak ke remaja terdengar. Terra terharu. Putranya sudah akil baligh. Wanita itu masih ingin dibutuhkan oleh anak-anaknya. Ia masih menganggap Darren, Lidya dan Rion masih kecil.


Air mata Terra tiba-tiba menetes. Herman melihatnya langsung mendekap tubuh kemenakannya itu.


"Waktu pasti berlalu. Mereka yang akan melindungi kita kelak."


Nasehat Herman seakan tahu pergulatan hati Terra.


bersambung.


maaf up nya dikit-dikit ... othornya masih sakit..


next?