
Bomesh makin asik bercerita. Itu hiburan bagi semua. Bart sudah lemas karena perut kram menahan tawa. Pria tua itu duduk lemas di sebelah Virgou yang juga kram perutnya.
"Bomesh dan Domesh ingatannya tajam ya," puji Demian.
"Terima kasih, Tuan. Tapi, bukan hanya ingatannya tapi pendengarannya juga sangat tajam. Ia akan tau apa yang orang katakan dari jarak dua meter sekalipun," jawab Maria lesu.
Darren dan Haidar sampai memijat pipi mereka yang kram karena dari tadi menahan tawa.
"Sudah gosipnya?" tanya Nai.
Semua anak remaja dari tadi juga melebarkan senyumnya. Lelah mereka terbayar tadi akibat kisah yang dibawakan bayi tampan itu.
"Pasih banat Ata' Nai!" jawab Bomesh sambil mengingat kisah seru yang melibatkan tetangganya.
"Seupeneulna yan palin pita deunel ipu olan peulantem. Poalna olanna beliat-beliat!" lanjutnya serius.
Saf, Lidya dan Aini juga Putri pun membayangkan bayi mereka nanti akan seperti empat perusuh ini.
"Aini nggak keberatan jika anak-anak nanti secerdas dan seheboh mereka. Seru tau," timpalnya.
Lidya mengangguk setuju. Putri sudah tertawa membayangkannya. Aini yang paling antusias, karena lingkungannya sama dengan lingkungan Maria, istri Gomesh.
"Kau nggak berencana pindah Gomesh?" tanya Dav yang sudah lemas karena menahan tawa.
"Ingin sekali pindah, tapi rumah itu adalah peninggalan mendiang mertua. Kemarin Maria nyaris tergadaikan oleh pamannya gara-gara rumah itu," jawab Gomesh.
"Teulpadai tan?" celetuk Sky bertanya.
Semua menepuk kening mereka. Terra ingin menyudahi percakapan bayi yang sudah sembarangan itu. Tapi, lagi-lagi Bart melarangnya. Bahkan Kean, Calvin, Nai, Sean, Al, Daud, Satrio, Arimbi, Dimas, Dewa, Dewi, Rasya, Rasyid, dan Kaila sangat tenang dan mengikuti obrolan adik-adik mereka.
Sedang Sebastian, Billy dan Martha tak mengerti apa yang Benua dan lainnya bicarakan. Hanya Ella yang sedikit mengerti bahasa mereka. Martha yang usianya sama dengan Samudera saja hanya bisa berbahasa Inggris. Karena mereka semua sudah sekolah.
"Biarin sih, Ma. Kan mereka sudah itu lupa tadi bahas apa," celetuk Kaila.
Puspita mencebik mendengar perkataan putrinya itu. Virgou mengangguk setuju. Keempat perusuh itu hanya membicarakan apa yang mereka tahu atau ingin tahu saat itu saja.
"Daddy ... padhi peulpadai ipu pa'a?" tanya Sky penasaran karena ia menunggu jawaban dari tadi.
"Tergadai itu ... eum seperti dijual Baby," jawab pria sejuta pesona itu.
"Pemanan Mommy spasa yan mawu pual?" tanya Bomesh penasaran.
"Pana pisa Mommy bipual Bomesh!" seru kakaknya tak terima. "Mommy butan sayun mayun!"
Saf nyaris terbahak mendengarnya sedang Dav dan Gabe menyembunyikan wajahnya di lipatan lutut dari tadi. Widya lemas dan bersandar pada Khasya yang sudah tak tau seperti apa mukanya karena menahan tawa. Seruni jangan tanya lagi, ia, Gisel, Puspita dan Kanya juga kedua orang tua Budiman hanya bisa menahan tawa dan memilih tak mendengar percakapan anak-anak.
Bram yang sibuk menanyakan Demian apa sudah merekam semuanya.
"Sudah Kakek, sudah Demian rekam," jawab pria itu.
"Berikan rekamannya padaku!" titah Bram.
"Nanti. Mereka masih mengobrol ini. Aku tak mau melewatkan sedikitpun percakapan mereka," ujar Demian menahan keinginan kakek mertuanya.
Sedang Virgou sudah tak tahu lagi harus apa. Herman pun tak peduli, ia membiarkan keadaan.
"Eh ... peultala sayun mayun," sela Bomesh tiba-tiba mengingat sesuatu.
Maria langsung berdecak kesal. Entah ia harus menangis bahagia atau sedih akan kekuatan ingatan putranya itu.
"Beupelapa hali lalu, Bomesh pihat ada tutan sayul peulilin dali lumah te lumah!" jelasnya.
Domesh diam, karena ia tak tahu cerita mana yang ingin adiknya itu sampaikan.
"Ata' Domesh imat pidat syama Maman Bedot?" tanya Bomesh pada kakaknya.
Domesh mengerutkan kening dan bibirnya. Terra mau mencium bibir merah jambu nan menggemaskan itu. Wanita itu begitu geregetan dibuat para bayi perusuh itu.
"Oh, tutan sayun yan selin ti pandhil Mommy?" Bomesh mengangguk membenarkan.
"Imi yan tapan Bom? Poalna pan celita Maman Bedot tan banat?"
"Yan ...," Bomesh mencoba mengingat hari di mana penjual sayur itu bercerita dan berkelakuan aneh.
"Buwa apau pidha hali teumalin deh!" jawab Bomesh.
"Yan ipu woh Ata'. Yan Maman pilan pistlina pinta pelai!"
"Baby!" Terra langsung memanggil para bayi yang hendak mengobrol lagi.
"Memana Mama Papitli masat bansit pebusna?" tanya Bomesh antusias.
"Masak, Baby," jawab Saf.
Tadi memang ia sempat memasak makanan banyak. Para maid kini menghidangkan makanan itu. Anak-anak berebut ingin makan lebih dari satu. Bahkan Demian pun ribut dengan Sky karena pria itu tak mau mengalah. Sky marah luar biasa.
"Ata' Pemian tan tudah peusal ... padhi eundat usyah banat-banat pansitna!"
"Biya! Peutul ipu, pita pasih beulpunduhan!"
"Peulbuntuhan Spy!" ralat Benua.
"Pertumbuhan!" ralat Cal.
'Biya, madsutna ipu!"
Demian yang memang suka sekali menggoda Sky, hendak menghabiskan pangsit di piring.
Plak!
"Aduh!" pekik Demian merasa perih pipinya.
Sky memukul telak pipi Demian. Virgou berdehem. Sky langsung tertunduk. Ia nyaris menangis. Demian lalu memeluk bayi itu.
"Baby ini pangsitnya buat kamu," ujarnya langsung.
Sky lalu tersenyum. Virgou pun tenang, padahal deheman itu untuk Demian agar berhenti menggoda Sky. Tapi, Sky yang tak tahu, mengira Daddynya marah karena memukul Demian.
'Kits karaokean lagi yuk!" ajak Kaila.
"Bawu ladhu pandut!" teriak Bomesh antusias.
Semua menoleh bayi itu, penasaran. Bomesh yang ditatap sedemikan rupa oleh semua orang dewasa balas menatap dengan tanpa dosa pada semuanya.
"Pemana Palah?" tanyanya polos.
"Nggak Baby. Nggak ada yang salah," jawab Rion.
"Kita hanya penasaran sama lagunya," lanjutnya menjelaskan.
"Oh ... bedithu peulnyata," sahut Bomesh bijak.
Terra tak tahan. Ia mengangkat bayi itu lalu menggelitiknya. Benua dan lainnya juga mau dikelitiki, dengan senang hati Terra melakukannya.
Gelak tawa empat perusuh itu terdengar nyaring. Semua tertular senyum lebar. Bahagia mendengar suara tawa lepas anak-anak.
"Payo banyi!" teriak Bomesh antusias.
"Martha bawu panyi?" tanya Bomesh pada Martha.
Balita itu menggeleng, Gabe sedikit menyesal karena tak lagi mengajarkan bahasa Indonesia aktif pada semua anak-anak, Widya juga sama. Karena bahasa di sana full bahasa Inggris.
"Kamu, saja yang nyanyi, Baby," ujar Dav pada Bomesh.
"Pemanna pidat pisa banyi?" tanya bayi itu.
"I can't speak bahasa," jawab Martha.
Sedang Bastian dan Billy nyaris lupa bahasa Indonesia yang waktu bayi sering mereka gunakan.
"Ya, pudah pidat pa'a-pa'a. Bawu Bomesh acalin?" tawar bayi itu.
Martha mengangguk dengan senyum lebar. Bomesh memberinya mik, bayi itu mengajarkan satu lagu mudah, yaitu satu-satu aku sayang ibu. Setelah tiga kali mengikuti Bomesh bernyanyi, akhirnya Martha pun bisa bernyanyi.
"Syapu-syapu ... apuh payan pibu ... puwa-puwa ...," Martha berhenti.
"Atuh sayan payah,," lanjut Bomesh.
"Bidha-bidha bayan padit tata ... Syapu, puwa, bidha ... bayan bemuana!"
bersambung.
Yang ngajarin pake bahasa beulanet.
next?