
Sedang di kelas. Lidya tengah menikmati bekalnya. Salah satu murid perempuan mendekatinya. Ia menatap Lidya yang makan bekalnya dengan nikmat. Sesekali ia menelan air liurnya.
Lidya menawarinya. "Kau mau?" murid itu menatapnya lama.
Lidya pun mengambil satu potong roti itu dan menyerahkannya pada salah satu temannya itu. Dengan wajah semringah, temannya itu pun mengambil dan langsung memakannya buru-buru.
"Dih, si Putri nggak tau malu ya, minta-minta!" ledek Pury salah satu murid perempuan.
"Dia nggak minta kok. Aku yang kasih," sahut Lidya enteng.
Putri adalah anak tidak mampu. Gadis kecil itu selalu memakai seragam yang kusam. Kadang kantungnya sobek. Kadang seragamnya kekecilan.
Purry terdiam. Ia tak suka jika ada yang berteman dengan Putri. Ia pun membisikkan sesuatu pada temannya. Entah dari mana hati berbulu gadis kecil yang baru berusia mau delapan tahun itu.
"Jangan temenin Putri, nanti kamu ketularan miskin loh," ujar Sintia menghina.
"Sudah jelek, miskin, hidup lagi!" sindirnya lagi.
Putri menunduk. Lidya tidak suka teman-temannya saling menghina. Ia pun menatap dua murid sekelasnya ini dengan tatapan tidak suka.
"Kamu, tahu. Nanti yang duluan masuk surga adalah orang-orang miskin seperti Putri. Karena mereka paling ringan dihisabnya. Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam pun ingin dibariskan bersama orang-orang miskin, agar beliau cepat masuk surga," ceramah Lidya panjang lebar membela Putri.
Purry dan Sintia terdiam mendengar ceramah Lidya. Mereka kehilangan kata-kata. Lalu pergi meninggalkannya.
Lidya mengelus pundak Putri. Temannya itu hanya tersenyum tipis. Ia berterima kasih masih ada yang mau membelanya.
"Kamu, mau nggak nanti ikut aku ke rumah?" ajak Lidya.
"Buat apa?" tanya Putri takut-takut.
"Belajar bareng," jawab Lidya.
Putri mengangguk setuju. Ia suka sekali belajar, walau nilainya banyak dikatrol karena jarang tak masuk sekolah dikarenakan ia harus mencari uang untuk kebutuhan di rumah.
Lidya suka berteman dengan Putri. Gadis kecil itu tak pernah mengeluh, walau kadang malu karena perutnya berbunyi ketika sedang asik belajar. Bagaimana ia mati-matian menahan lapar selama belajar. Para guru juga pernah memberinya makan di depan kelas. Hingga membuat anak-anak meledeknya.
Lidya baru mengenalnya selama satu minggu ini. Putri sebenarnya cukup pintar di kelas. Ia juga sering berebut nilai dengan Lidya. Tetapi, kecerdasannya ditolak beberapa guru, karena kemiskinannya.
"Kebetulan saja, nilai putri sama dengan Lidya," ujar salah satu guru ketika menyebut nilai yang diperoleh semua murid.
"Lidya kamu lagi malas ya? Kok kalah sama nilai Putri?" tanya salah satu guru ketika memberi soal yang sudah dinilai.
Bahkan tuduhan yang sangat menyakitkan hati Putri. Mencontek.
"Saya nggak nyontek, Pak!" serunya membela diri.
"Loh yang nuduh kamu nyontek siapa?" ujar Guru tak merasa bersalah. "Orang saya cuma bilang, kamu kaya nyontek jawabannya hampir benar semua!"
Lidya hanya mau berteman dengan Putri saja. Padahal guru-guru sering memaksanya untuk berteman dengan yang lain.
"Mending kamu temenan sama Aliyah, anak ibu. Dari pada temenan sama Putri, nanti bekal kamu dimintain dia terus loh."
Lidya tak menggubris perkataan murid lain yang mengatainya aneh. Ia memilih teman melalui nalurinya. Ia bisa berteman dengan semuanya.
Bukan tidak ada alasan. Teman-teman itu banyak memanfaatkan dirinya. Dari katanya meminjam dan tak pernah dikembalikan.
"Kamu jadi anak jangan pelit dong. Masa penggaris harga dua ribu kamu minta," ujar Betty menolak mengembalikan penggaris motif strawberry yang dibelikan Mommy Puspita.
"Bukan masalah murah, tapi itu hadiah," jelas Lidya.
"Ya minta lagi lah!" sahut Betty masih menolak mengembalikan penggaris miliknya.
Lidya pun mengadukannya ke guru. Sang guru menyuruh Betty mengembalikan penggaris itu. Anak perempuan itu pun mengembalikan, tetapi dalam keadaan patah.
"Udah, nggak usah ribut di kelas. Lidya, kembali ke kursi mu!" titah sang guru.
Lidya sedih bukan main. Ia tidak tahu harus bilang apa pada Mommynya. Penggaris yang dihadiahkan patah jadi dua. Sejak saat itu Lidya tidak pernah meminjamkan apapun pada teman-temannya.
"Lidya jangan pelit dong. Masa nggak mau minjemin temannya sih!" tegur salah satu guru.
"Nggak ah, Bu. Mereka tidak bertanggung jawab sama barang yang dipinjamkan," tolak Lidya.
Sedang Putri. Gadis kecil malang itu tidak pernah meminjam barang apa pun pada Lidya. Penggarisnya terbuat dari kayu, hasil kerajinan ayahnya. Buku tulisnya, juga merupakan sobekan buku-buku bekas yang dijadikan satu oleh ibunya. Sedangkan penghapusnya terbuat dari gelang karet yang digulung menjadi satu.
Makanya, Lidya lebih senang berteman dengan Putri yang tidak pernah memanfaatkan dirinya. Makanya, ia berinisiatif untuk mengajaknya belajar bersama.
Bel tanda pelajaran usai berbunyi. Semua anak bernapas lega. Lidya menarik tangan Putri. Mereka keluar bersama. Tetapi.ketika hendak menaiki mobil golf. Putri menolak ikut.
"Maaf, Iya, Aku lupa kalau harus kerja dulu," ujarnya sambil berjalan mundur ke belakang.
Putri berbalik dan kemudian berlari. Lidya merasa ada yang tidak beres. Menatap empat pengawalnya.
"Om, telepon Mama dong. Bilang Iya, mau ngikutin temen," pinta Lidya.
"Maaf, Nona harus pulang jika sudah selesai sekolah, ini sudah perintah!' jawab tegas Reza.
Lidya menunduk ia merasa tidak nyaman dengan perasaannya perihal temannya itu. Ia yakin akan terjadi sesuatu.
"Mudah-mudahan, kamu nggak apa-apa. Ya,.Alalh tolong lindungi sahabatku, itu. Aamiin!" doanya sambil mengusap wajah dengan dua tangannya.
Ketika sampai rumah, Lidya senang karena ternyata sang ibu sudah pulang. Ia langsung menghampiri Terra dan mengatakan kegelisahannya.
"Ganti baju dulu, sayang. Udah itu shalat. Nanti kita bicarakan, oteh?" saran Terra.
Walau kecewa dengan pernyataan sang ibu. Ia pun mengangguk. Mengerjakan semua titah sang ibu. Terra memperhatikan putrinya yang gelisah, seperti mencemaskan sesuatu.
"Sayang, kamu kenapa?' akhirnya Terra mulai khawatir dengan kecemasan berlebihan Lidya.
"Ma, kita ke rumah temen Iya, yuk," ajak Lidya dengan wajah cemasnya.
Akhirnya usai makan Terra pun mengiyakan ajakan Lidya dengan membawa semua anaknya.
"Kita mampir dulu ke sekolah ya. Lidya nggak tau alamatnya Putri soalnya!" pintanya sedikit memaksa.
"Baik, sayang," ujar Budiman. Kini ia tak lagi memakai embel-embel Nona dan Tuan untuk anak-anak kecuali Rion. Pria itu masih suka memanggilnya tuan baby.
Lidya berlari ke dalam sekolah, setelah mobil itu berhenti. Beberapa pengawal ikutan berlari menyusul nona kecilnya. Bahkan gadis kecil itu tidak menggubris teriakan Terra menyuruhnya hati-hati.
Setelah mendapat informasi di mana rumah Putri. Mereka kembali ke mobil. Lidya langsung memberi tahu letak rumah Putri. Budiman tahu di mana itu.
Sebuah perkampungan kumuh, di mana Budiman bertemu dengan Didi. Lidya pun cepat turun dari mobil. Hanya bermodalkan insting gadis kecil itu melangkah menuju rumah temannya itu. Dua orang pengawal mengikutinya. Terra menyusul dengan anak-anak. Romlah, Ani, Gina dan Wati ikut dan menggendong anak majikannya. Para bodyguard menyusur jalan.
Terra menemukan putrinya tengah menenangkan anak perempuan seusianya. Tampaknya gadis kecil itu menangis tersedu-sedu. Terra mendekatinya.
"Ada apa sayang?' tanya Terra pada anak perempuan yang dipeluk Lidya.
"Ibu ... Ibu ... hiks ... hiks!"
bersambung.
duh kenapa dengan ibunya Putri ya?
Sebagian cerita ini adalah pengalaman othor yang dibully karena miskin.
next?