TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
USAHA TERAKHIR CHERRYL 3



"Tinggalkan Haidar!"


Terra tertawa mendengar perkataan Cherryl.


"Apa untungku meninggalkan pria tampan itu, hmm?" tanya Terra datar. "Apa yang kau berikan?"


Cherryl terdiam. Sosok wanita didepannya ini memiliki aura yang kuat. Berkharisma juga dingin. Tatapan mata yang tajam bahkan senyumnya saja orang bisa takluk akan perintahnya. Itu yang dilihat oleh Cherryl tentang Terra.


Entah sejak kapan Terra mengetik. Namun, sejurus kemudian sederet informasi tentang Cherryl langsung terlampir di layar laptopnya. Terra tersenyum miring.


"Cherryl Febriani Kesuma, dua puluh enam tahun. alamat New York Amerika. Pekerjaan staff akunting di Bounce Accounting Firm." Terra menghentikan jabarannya tentang Cherryl.


Cherryl sedikit terkejut. Bagaimana bisa data dirinya dapat diketahui oleh Terra, sedang perusahaannya menutupi semua identitas karyawannya, karena berbentuk firma.


"Ke-kenapa kau dengan mudah mendapat informasiku?" cicit Cherryl takut.


Terra tersenyum miring.


"Ini belum seberapa. Bahkan aku bisa mengetahui masa lalumu," jawab Terra tenang.


"Ma-masa laluku?"


Lagi-lagi entah kapan Terra menyentuh keyboard. Sederet informasi tentang Cherryl terkuak. Gadis itu terbelalak membacanya. Ya, Terra sengaja menghadapkan layar komputernya di hadapan Cherryl.


"I-itu ... bagaimana bisa?" tanyanya tak percaya.


'Bagaimana bisa ia mendapat info yang semua orang tidak tahu, jika aku hanya anak adopsi?' gumamnya ketakutan.


"Apa kau ingin lebih jauh lagi?" tantang Terra.


Cherryl menelan saliva kasar. Dahinya keluar keringat dingin, aura intimidasi keluar dari sosok CEO yang duduk di hadapannya.


"Kau tahu. Hanya dengan satu tekan saja. Semua informasi tentang dirimu ini akan hilang dan kau ...."


Kalimat Terra terpotong. Ia memajukan tubuhnya lebih dekat dengan wajah Cherryl yang pucat.


"Kau akan menjadi orang tanpa identitas," bisik Terra. "Kau bisa bayangkan. Tidak ada satu negara pun yang mengakuimu selama lima tahun."


"Ah ... tidak. Bahkan selamanya," lanjut Terra enteng sambil menormalkan kembali posisi tubuhnya.


"K-kau tak sehebat itu!" sangkal Cherryl gugup.


Terra menggeleng. Ia menghela napas kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Selamat aku masih baik. Kau boleh pergi sekarang dari sini. Selamanya!" tekan Terra di kata-kata terakhir.


"Tidak ... Kak Haidar masih mencintaiku ... aku ...."


Brak!


Cherryl terlonjak kaget. Terra memukul meja sangat kuat hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras. Beberapa sekuriti datang ke ruangannya.


"Bawa pergi wanita ini!' titah Terra.


Dua orang sekuriti langsung menarik tangan Cherryl. Gadis itu memberontak. Tiba-tiba matanya melihat Darren yang keluar dari pintu di belakang kursi Terra.


"Kau ... dasar kau anak haram!" teriak Cherryl.


Darren mematung. Terra emosi seketika. Dan benar saja. Satu kali ketuk di keyboard, data Cherryl terhapus perlahan.


"Seret dan usir dia!" teriak Terra.


Sekuriti menyeret paksa Cherryl hingga membuat gadis itu berteriak.


Setelah kepergian Cherryl. Terra langsung memeluk Darren yang masih berdiri kaku.


"Sayang," panggil Terra sedih.


Gadis itu menakup pipi putranya. Netra Darren tampak kosong. Terra menangis melihat Darren kembali lagi terpuruk. Ia pun memeluk pria kecil itu penuh kasih sayang.


"Kau adalah putraku. Putra kebangganku. Jangan dengarkan dia sayang," tekan Terra menenangkan putranya.


Darren tersadar dari lamunannya. Ia menatap wajah ibunya yang memandangnya penuh kasih sayang. Pria kecil ini pun mulai menangis.


"Mama ... huuuu ... uuu!"


"Ssshhh ... sayang ... sudah, tidak apa-apa. Ada Mama di sini," ujar Terra memeluk Darren, hangat.


Lidya datang dan melihat ibu dan kakaknya menangis. Gadis kecil ini pun ikutan menangis.


"Mama syama Tata Dallen tenapa meyanis?" tanyanya dengan suara sendu.


Terra mengurai pelukannya, lalu mengangkat Lidya. Gadis kecil itu langsung memeluk erat Terra. Dibenamkan kepalanya dalam ceruk leher ibunya.


"Mama ... duyu Iya, syuta liyat Tata Dallen meyanis. Badan Tata Dallen penyuh luta ... hiks ... hiks ... Iya eundak bisya nolon Tata Dallen ... hiks ... hiks ... Iya syedih, Ma ... huuuu ... uuu!"


Terra memejamkan mata. Membayangkan hari-hari di mana Lidya, melihat tubuh Darren yang selalu disakiti ibu kandungnya. Makin perih lah hati Terra.


"Sudah ... jangan ingat lagi. Ada Mama di sini," ujar Terra menahan Isak menenangkan dua anaknya.


Keduanya kini tenang. Walau isak masih terdengar.


"Mama!" panggil Rion yang berada di tempat tidur.


Bayi berusia dua belas bulan ini baru saja terbangun. Terra yang menggendong Lidya mendatangi Rion bersama Darren.


"Hai ... assalamualaikum, selamat sore, Baby," sapa Terra sambil tersenyum.


Rion menatap wajah ibunya yang basah. Sepertinya bayi montok dan tampan itu mengetahui jika ibunya habis menangis.


"Mama ngis?" tanyanya dengan bibir dicebik-cebikkan.


Terra menggeleng. Gadis itu menaruh Lidya. Kini mereka berempat ada di kasur.


"Batwan meyah hajat!"


Terra bingung. Lama mencerna perkataan Rion. Sejurus kemudian ia pun tertawa, setelah tau maksud putranya itu. Bahkan Darren ikut tertawa. Hanya Lidya yang masih memikirkan sesuatu.


Terra mencium pipi Lidya. Gadis kecil itu menoleh ibunya. Kemudian ia pun tersenyum lega. Ia yakin ibunya akan melindunginya juga kakak dan adiknya.


Sementara di tempat lain. Cheryl yang baru sampai rumah. Melihat rumahnya kosong ada beberapa mobil polisi terparkir di luar.


"Ma!" panggilnya.


Gadis itu masuk, melihat empat koper berukuran besar terletak di dekat pintu. Beberapa anggota polisi berdiri. Cherryl melihat ibunya duduk di kursi sambil menangis.


"Ma!" panggil Cherryl lagi.


Feria menoleh, wanita itu menghapus air matanya. Ia pun berdiri mendatangi putrinya. Lalu.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya. Cherryl terhenyak. Para polisi pun terkejut tak menyangka kejadian itu berlangsung begitu cepat, hingga mereka tidak bisa mencegahnya.


"Bu tahan!" peringat salah seorang polisi pangkat perwira.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Feria berang.


"Mama sudah bilang sejak awal kau datang. Jauhi keluarga Pratama! Mereka bukan orang seperti dulu lagi!" lanjutnya penuh emosi.


"Tapi aku mencintai Kak Haidar Ma!"


"Cinta?" Feria menggeleng.


"Apa kau pantas mencintai pria sempurna itu setelah melihat kelakuanmu?" tanya Feria mendesis.


Cherryl terdiam. Gadis itu mengusap pipinya yang perih. Untuk pertama kalinya sang ibu kasar padanya.


"Mama, sudah bilang, kau boleh pulang asal tidak mengusik keluarga Pratama, kau pun berjanji," ujarnya sendu.


"Tapi, kau ingkar. Kau masih ngotot mendatangi keluarga itu." ujar


"Ma ...."


"Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kau ikut Mama pulang ke Amerika dan semua data dirimu dan perusahaan mendiang ayahmu selamat. Atau kau ...."


"Aku ikut Mama!" putus Cherryl.


Gadis itu ingat ancaman Terra tadi. Ia pun langsung mengambil tindakan cerdas. Feria tersenyum. Ia pun memeluk putrinya.


Tak lama, keduanya pergi dikawal pihak kepolisian. Sampai bandara, mereka masih dikawal. Hingga mereka naik pesawat pun mereka diantar polisi. Setelah mereka duduk, polisi pun baru pergi.


"Pihak perwakilan kami akan menjemput di bandara selanjutnya," ujar polisi sebelum meninggalkan mereka.


Ibu dan anak itu mengangguk.


Beberapa saat kemudian, pesawat lepas landas. Cherryl menatap wajah ibunya yang terus basah karena air mata. Merasa diperhatikan ia pun menoleh.


Menatap putri yang diasuhnya sejak usia dua tahun dengan penuh kasih sayang. Feria mencium lembut kening sang putri.


"Selama kau menurut kata-kata Mama nanti. Kita akan aman sayang. Mama menjamin itu," ujarnya lirih.


**************************


FLASHBACK ENAM TAHUN LALU.


Leo mendapat kiriman sebuah video. Pria itu shock ketika melihat jelas wajah putrinya tengah melakukan adegan ranjang yang begitu panas.


Napasnya tersengal. Ia nyaris roboh jika saja asistennya tak menahan laju tubuhnya.


"Tuan, anda tidak apa-apa?' tanyanya khawatir.


"Seno. Lacak pemilik nomor ini. Bereskan dia, seberes-beresnya!" titahnya tegas.


Sepeninggalan asistennya. Leo langsung memerintahkan IT untuk mensabotase semua rekaman mengenai putrinya dihapus. Mengirim orang ke pihak korban dan memberi uang kompensasi bernilai fantastis. Juga para saksi yang melihat kejadian tersebut.


Menyuap beberapa oknum polisi juga pejabat tertinggi negara. Kasus putrinya hilang tanpa jejak


Seno langsung menjalankan tugas tuannya. Dalam waktu hitungan menit, pria pengirim video sudah tertangkap ketika tengah asik menonton hasil rekaman video pornonya sendiri.


Pria itu dibius hingga tak sadarkan diri. Ponselnya disita dan diganti dengan ponsel yang sama merek dan bentuk juga isinya kecuali video pornonya. Pria itu disuntik cairan penghilang ingatan.


Setelah menjalankan tugas. Orang-orang misterius itu meninggalkannya tanpa jejak.


Leo mengira semua bukti kejahatan putrinya tidak akan ada yang tahu. Siapa sangka. Bram sempat melihat video aksi pembunuhan yang Cherryl lakukan saat itu.


Bram langsung mendatangi Leo. Memarahinya karena melindungi kejahatan. Pria itu langsung memutuskan kerja sama juga persahabatan mereka.


"Jangan ganggu keluargaku lagi. Seumur hidup!" Bram memperingatkan Leo.


"Jika kau berani mengusik. Kau akan tahu sendiri akibatnya!" ancamnya kemudian.


Hari berganti. Leo jatuh tak sadarkan diri dan meninggal di rumah sakit akibat serangan jantung.


Sedang di tempat lain. Seorang pria terbangun dalam kondisi bingung. Ia memegang ponselnya sambil berpikir panjang.


"Gue keknya merencanakan sesuatu. Tapi, apa ya?" pikirnya.


Namun, sejurus kemudian pria ini pun mengendikkan bahu tak peduli. Ia pun kembali tidur tanpa beban apa pun.


(Flashback end).


bersambung.


next?