
Herman membelalakan mata seakan-akan ingin keluar dari sarangnya. Pria itu sangat tidak menyangka langkah yang akan diambil oleh ayah sekaligus atasannya itu.
"Mana bisa begitu!' tolaknya keras.
"Apa kau sekarang berani membangkang ku, Herman?!"
"Ini akan mengejutkan dan pasti menyakiti Terra. Selama ini anda tidak pernah mengakuinya!" teriak Herman sangat kesal.
"Ingat batasanmu Herman. Aku ayahmu yang bicara di sini!" Hardi balas berteriak.
"Aku tidak akan melaksanakan apa perintahku tua gila!' maki Herman murka.
"Jaga batasan mu, anak bodoh!" teriak Hardi lagi.
"Jika kau tak suka. Kau boleh angkat kaki dan tinggalkan marga Triatmodjo!" usirnya.
"Dengan senang hati. Aku sangat malu memiliki Ayah yang serakah seperti mu!" teriak Herman lalu pergi dan membanting pintu.
Blam!
Hardi terkejut mendengarnya. Jantungnya berdetak cepat, napasnya tersengal satu-satu. Pria itu menekan dadanya.
Segera ia berjalan merangkak ke arah meja dan menarik laci setelah dekat dengan benda yang terbuat dari jati berukir itu.
Diambilnya satu botol obat penenang di sana, membuka tutupnya, menuang isi dan kemudian menelan pil pahit. Sedikit serat karena ia menelan tanpa air. Biasanya jika jantungnya kambuh. Herman lah yang mengurusi semuanya. Kini pria itu baru saja diusir olehnya.
"Anak itu. Kerap kepala mirip Ibunya," sungutnya.
Tangannya masih menekan dadanya yang nyeri. Ia duduk menggelosor di lantai. Napasnya masih satu-satu. Sejenak ia menenangkan semua emosinya. Setelah ia merasa tenang, barulah ia bangkit dari lantai lalu duduk di kursi kebesarannya.
Pria itu meraih ponsel di atas meja. Mencari sebuah nama pada layar datar itu. Setelah menemukannya. Ia menekan dan menunggu ketika nada panggil berbunyi.
Setelah satu menit. Sambungan telepon terhubung.
"Halo selamat siang! Dengan editor Daily news. Bisa besok anda menyuruh beberapa wartawan anda ke lobby perusahaan PT Hardi Triatmodjo Sentosa? Saya akan mengadakan konferensi pers," ujarnya.
"......"
"Besok pukul 10.45.. Jangan lewat dari jam itu!" tekannya.
"....."
Hardi menutup sambungan teleponnya. Menggenggam erat ponsel seakan ingin menghancurkannya. Pria itu menahan geram. Namun, ia takut jika jantungnya sakit lagi seperti tadi.
"Kau berurusan dengan Hardi Triatmodjo. Bram Hovert Pratama! Kau akan lihat kekuatan kakek tua ini. Kau tidak akan bisa menyentuh Terra seujung kuku lagi!" ungkapnya penuh kepongahan..
Hardi tersenyum miring. Di kepala pria itu sudah tersusun rencana besar. Bagaimana ia akan mengambil alih perusahaan mendiang menantunya. Dan mengembalikan kredibilitas perusahan besar miliknya.
"Tidak masalah. Panti asuhan cukup bagus untuk tempat ketiga anak itu," ujarnya sambil terkekeh senang.
Sementara di tempat lain tampak sosok pria tampan dengan pesona luar biasa menatap sebuah cover majalah, di mana Terra tengah tersenyum.
Iris birunya memindai wajah cantik yang seakan tersenyum padanya. Diusapnya cover itu dengan ibu jarinya.
"Kau cantik sekali. Terra Arimbi Hudoyo. Tak kusangka kau adalah putri dari sepupu jauhku Ben Hugrid Dougher Young," ujarnya penuh dengan seringai.
"Kau akan menjadi milikku, bahkan Ibu tirimu bisa jatuh kedalam pesonaku hingga mau menghancurkan Ben sialan itu!'
"Kau tau. Aku begitu membenci ayahmu yang selalu hebat di mata Kakekmu Bart Dougher Young. Aku pastikan kau juga akan hancur Terra!"
"Tuan!" seorang pria tampan tiba-tiba masuk.
"Apa lagi!' teriaknya.
"Kita kehilangan sektor D! Interpol sudah menggerebeknya dan menangkap semua pekerja juga managerialnya!'
"Bangsat! Siapa yang membuka sektor D?!" teriak Virgou murka.
"Tidak tahu. Sepertinya sektor D sudah diretas oleh pihak interpol jadi ketahuan!'
Virgou menggeleng tidak percaya. Selama ini, team dari sektor D sangat aman dan licin juga begitu berhati-hati dalam menjalankan semua misi ilegalnya.
"Aaarggh!!" teriak Virgou murka dan melempar semua barang.
"Tutup alur transaksi kita! Bergegas hapus semua data perusahaan. Kita harus pergi secepatnya!" titah Virgou.
"Baik Tuan!" asisten mengangguk dan meninggalkannya.
"Saat ini aku belum bisa membalaskan dendamku, Terra," kecamnya.
Dengan langkah lebar, ia meraih kunci dan meninggalkan ruangan itu. dalam hitungan menit. Tiba-tiba.
Duaarrr!
Ruangan itu hancur luluh berantakan. Semua data dan transaksi dan jejak kerja musnah. Tidak akan ada satu pun bukti kuat untuk menangkap dalang dalam kerja ilegal itu.
Sementara di ruang tidur. Terra baru saja mengurai senyum lebar. Gadis itu baru saja memulai aksi untuk membongkar sebuah sektor terkuat milik para mafia.
Kepalanya yang pusing dan tubuh demamnya perlahan hilang. Sungguh, obat sakitnya sangat ampuh. Mengacaukan dunia mafia adalah obat suntuknya saat ini.
bersambung.
hadeh ... hadeh ... hadeh...