
Malam ini, ada beberapa dokter yang bertugas malam. Termasuk Lidya, Aini, Safitri dan Putri. Ditya dan Radit sudah tidur di brankar di ruangan Aini.
Mereka menyusuri kamar-kamar pasien dan melihat kondisi mereka. Aini berjalan bertiga bersama Saf dan Lidya. Aini jadi banyak belajar dari sosok Safitri. Gadis bongsor itu memang sudah seperti buku pengetahuan.
“Bu ... kok suasana agak sedikit senyap ya malam ini?” tanya Aini lalu menggosok tengkuknya.
Lidya hanya diam, ia juga merasakan hawa aneh malam ini.
“Sudah, tidak apa-apa, santai saja. Kita yang lebih sempurna dari dia,” ujar Saf menenangkan.
Sedang di tempat lain, Darren yang memang lembur karena banyaknya permintaan sinyal bawah laut, membuat ia sedikit kualahan. Akhirnya ia pun membatasi pesanan titik signal.
“Tuan Muda,” panggil Budiman.
“Baba,” sahut Darren dengan lesu.
“Semangat ya,” kekeh Budiman.
Darren mengerucutkan bibirnya. Budiman terkikik geli. Mereka pun keluar ruangan hingga naik lift khusus menuju lobi.
Sampai di lobi, mereka berpapasan dengan beberapa karyawan termasuk Ofice girl.
“Loh Bu Lala, kok belum pulang?” tanya Darren pada wanita berusia dua puluh empat tahun itu.
“Ini, masih ada kerjan di bagian divisi pengembangan. Lumayan Boss, buat tambahan lahiran. Anak saya ada tiga di sini,” ujarnya sambil menunjuk perutnya yang besar.
“Kan semua dapat fasilitas full untuk melahirkan berapa pun jumlah bayinya,’ terang Darren.
“Iya, Boss. Tapi kan semenjak suami saya sakit, semuanya saya yang nanggung,” jawab wanita itu tak enak.
“Ya sudah. Sini saya bantu,” ujar Darren mengambil plastik hitam besar.
“Jangan ... ini ....’
“Sudah, tidak apa-apa,” ujar pria itu.
Darren membuang sampah di depan perusahaannya. Budiman mengikuti tuannya. Lala mengucap terima kasih. Hingga ketika pria itu menaiki mobil. Lala mengeluh, tubuhnya sampai membungkuk dalam.
“Bu, kenapa?” tanyanya panik.
“Aaarrgghh!” pekik wanita itu kesakitan.
“Bu Lala!” panggil Darren memegangi tubuh wanita yang malah kini duduk berjongkok.
“Sakit sekali, Boss!” teriaknya kesakitan.
“Sepertinya, Ibu mau melahirkan!” ujar Darren langsung.
“Ayo ikut, naik mobil Bu!” titah Darren.
Pria itu menuntun sang wanita ke dalam mobil. Budiman sudah bersiap. Lalu mobil itu melesat menuju rumah sakit di mana Lidya berada. Hanya butuh waktu sepuluh menit. Mobil pajero sport warna merah itu berhenti di depan lobi rumah sakit.
“Tolong ... ada yang mau melahirkan!” teriaknya.
Putri dan beberapa rekan lainnya langsung bergegas menarik kursi roda. Wanita itu dituntun Budiman untuk keluar dari mobil. Lidya yang melihat kakaknya langsung berlari mendekati.
‘Kak!” panggilnya.
“Tolong karyawati Kakak. Sepertinya dia mau melahirkan. Oh ya janinnya ada tiga!”
“Tidak ada dokter kandungan berjaga, adanya bidan Saf. Panggil beliau cepat!” titah Lidya.
Salah seorang suster berlari mencari keberadaan bidan Saf. Aini datang langsung ikut mendorong kursi roda itu.
“Kakak tunggu aja, atau bisa hubungi keluarganya,” pinta Lidya.
Budiman langsung menghubungi bagian HRD.
“Halo Pak Rustam. Tolong hubungi suami atau keluarga dari Ibu Lala, ofice girl kita!” titah pria itu. “Istrinya mau melahirkan di rumah sakit Pratama Hospital!’
“.....!”
Sambungan terputus. Saf tampak berlari dan masuk ruang bersalin. Ia sudah melapor pada bagian kandungan jika ada pasien yang mau melahirkan malam ini. Gadis itu mencuci bersih tangannya. Putri memakaikan sarung tangan karet padanya. Lala sudah berganti pakaian OK.
“Kita lihat bukaanya ya, Bu!” ujar Saf lalu membuk lebar kaki pasien yang diletakkan pada penopang di sana.
“Bayinya tiga Bu bidan,” sahut Lala memberitahu.
“Apa bisa normal?” tanya Lala ragu.
Saf melakukan perabaan. Rasa nyaman langsung mendera wanita itu. Ia begitu menyukai sentuhan tangan bidan cantik ini.
“Bisa normal kok,’ jawab Saf dengan senyum indah.
Darren menunggu di luar dengan perasaan cemas. Pihak HRD mengatakan jika suami dari Lala tak bisa datang karena sakitnya. Sedang di rumah sewanya tak ada siapa pun. Kedua orang tuanya sudah pulang kampung kemarin. Maka Darren yang menungguinya.
Tiga jam berlalu. Kini tiga bayi lucu hadir. Darren menempatkan karyawannya di ruangan vvip. Agar dapat penanganan penuh. Bahkan dia sendiri yang mengadzani ketiga bayi itu ketika sudah bersih.
“Makasih ya Boss,’ ujar lala tulus.
“Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu ya,” pamit Darren.
Lidya memeluk kakaknya sayang. Darren membalas pelukan itu dan mengecup kening Lidya.
“Semangat ya, sayang,” ujarnya.
“Siap, Kak!”
“Dek Bidan, bagaimana? Masih semangat?” ujar pria itu pada bidan cantik yang berdiri tak jauh dari sisi adik pria itu.
“Alhamdulillah, saya semangat terus demi mengemban tugas!” jawabnya dengan menekuk tangan ke atas memperlihatkan ototnya yang dibungkus baju.
Darren tertawa melihat lelucon garing tersebut. Aini, Lidya dan Saf terutama Budiman, begitu terpana melihat betapa lepasnya tawa pria yang memandang Safitri penuh arti itu.
“Sesekali datanglah main ke rumah, Dek bidan.” pinta Darren sedikit memohon.
“Adik-adikku ribut bilang kangen padamu, terlebih pangsit rebusmu,” lanjutnya terkekeh.
“InshaAllah, jika ada waktu. Saya pasti main ke rumah pak CEO, balas Saf berseloroh.
Lagi-lagi Darren tertawa lepas. Saf memandangi pria tampan itu, sungguh ia menyukai cara Darren menanggapi lelucon recehnya itu. Ia pun ikut tertawa lirih.
“Aku juga kangen sama kamu,’ bisik pria itu ketika hendak ke mobilnya.
“Saya juga, pak. Kangen ... sama anak-anak,” sahut Saf sambil berbisik.
Darren tertawa lagi. Ia sangat bahagia bersama Safitri, gadis itu selalu bisa menghiburnya malam ini.
“Kakak pamit pulang, ya Sayang!” ujar Darren pada Lidya dan mengerling pada saf.
“Hati-hati di jalan, Babang Darren!” seloroh Saf lagi-lagi membuat pria itu tertawa puas.
Mobil itu pun melesat meninggalkan halaman rumah sakit. Saf meraba dadanya. Ia tersipu malu sendiri. Semua kegiatannya diperhatikan oleh Lidya, Aini dan Putri. Saf menoleh, di dapati ketiganya tersenyum menggoda bidan itu.
“Cie ... cie ... bu bidan!!”
Sedang di dalam mobil darren tampak terus membingkai senyum di wajahnya.
Budiman sampai geleng-geleng kepala. Tapi, dulu ia pernah muda, saat ia jatuh cinta pada sosok gadis yang telah memberinya tiga anak tampan, Gisela Dougher Young.
“Ba, menurut Baba. Safitri itu gimana?’ tanya pria itu dengan pandangan menerawang.
“Bu bidan, cantik, cekatan dan baik hati,” jawan Budiman yakin.
Darren mengangguk membenarkan. Ia bisa melihat betapa Safitri seperti Terra, wanita yang mestinya jadi kakaknya itu.
“Darren jadi lihat mama di sosok Safitri, Ba,” sahut pria itu masih setia dengan pandangan menerawang.
Kali ini Budiman yang mengangguk setuju. Safitri sudah seperti Terra, walau sifat ceroboh dan usil lebih mirip Rion versi wanita. Darren membayangkan jika Safitri adalah istrinya. Pasti ia akan membentuk Rion dan Lidya baru dari rahim gadis itu.
“Safitri ... will you marry me!” teriak Darren di dalam mobil.
“Haaachhi!” Safitri bersin.
“Alhamdulillah!’
“Pak CEO ... i .. ehem love you,’ gumamnya sangat pelan.
Bersambung.
cieeee ... cieee ...
next?