
Benar kata Budiman, siang ini jadwal Darren sangat padat. Usai tamu dari Rusia, masih ada beberapa perusahaan yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan Hudoyo Group. Kebanyakan negara-negara Asia yang ingin menjalin kerjasama di berbagai bidang.
Hingga pukul 18.00 pemuda itu menghentikan pertemuan karena akan masuk maghrib. Darren tertinggal shalat ashar. Karena ketika shalat ashar tiba, pemuda itu masih memimpin rapat hingga menjelang maghrib. Para peserta rapat yang notabene bukan beragama muslim pun menghormati keputusan itu, terlabih mereka ingin istirahat sejenak.
“Om Iskandar, tolong jamu tamu di kantin kita, minta Jovanka untuk menemani mereka,” titah pemuda itu.
“Baik Tuan muda!” sahut Iskandar.
Para tamu pun langsung diajak oleh asisten sekretaris menuju kantin kantor. Kebetulan, kantin memiliki menu yang sesuai dengan lidah para kolega yang menjadi tamu perusahaan. Darren menjadi imam untuk shalat maghrib.
Bacaan pemuda itu tentu sangat baik dan merdu. Hingga usai. Dar
Aini yang ternyata belum pulang, tadi ketika shalat begitu terhanyut mendengar bacaan imam. Gadis itu mencoba mencari tahu siapa yang mengimami para jemaah di musolah ini. Ia cukup terkejut melihat Darren yang menjadi imamnya tadi.
“Mashaaallah, jadi suara indah tadi milik Pak Darren?” tanyanya bergumam sekaligus memuji.
Gadis itu pun hanya menatap pemuda itu dari celah pembatas antara jemaah laki-laki dan perempuan. Hatinya berdesir, senyum tercipta setiap menatap pergerakan pemuda yang sudah mengusik mimpinya.
“Bismillahirrahmannirrahim ... semoga kau adalah jodohku. Aamiin,” pintanya dalam doa.
Aini memutuskan pandangannya, ia tak mau jatuh terseret dalam kubangan dosa karena keterusan menatap Darren. Ketampanan pemuda itu mampu menggetarkan hatinya dan menimbulkan egonya. Gadis itu tak ingin seratus persen memberi hatinya pada manusia. Ia takut sang pencipta akan cemburu karena telah mengabaikan-Nya.
“Ampuni aku ya Allah. Jangan jadikan aku penyembah cinta makhluk-Mu!” serunya dalam hati.
Gadis itu pun beristighafar dalam hatinya. Dengan langkah ringan ia pun berjalan ke halaman parkir perusahaan, menuju motor maticnya. Tak lama, kendaraan roda dua itu pun meluncur di jalan raya. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di rumah sewanya.
Tiba-tiba ia menangkap sosok yang sudah satu tahun lebih ini ia hindari.
Sosok pria dan wanita datang dengan dua anak kecil berusia empat dan lima tahun. Aini sangat mengenali keduanya.mereka adalah paman, adik sepupu almarhum ibunya.
Gadis itu cukup terkejut, dan bertanya, dari mana pria itu tahu tempat tinggalnya. Ia hanya memberitahu pada pemimpin panti dan meminta wanita itu merahasiakan keberadaannya.
“Assalamu’alaikum,” sahut Aini memberi salam.
“Hmmm ... salam. Buruan buka pintunya!” hardik Marni, istri dari Dono.
Aini menatap datar wanita yang baru membentaknya, namun sejurus kemudian, ia melihat dua adiknya itu tampak kelelahan dan kelaparan.
“Kenapa pulang jam segini. Habis dari mana saja?” tanya Dono dengan emosi.
“Kau tau kami menunggumu sudah tiga jam lamanya!’ lanjutnya menghardik.
Aini mengepal tangannya erat. Andai kedua orang itu tak membawa dua anak kecil bersama mereka, sudah ia usir dari tadi. Pintu terbuka. Dono langsung meyambar masuk dengan menyenggol bahu Aini.
‘Gitu aja, lama banget!” gerutu Marni.
Aini hanya mampu beristighfar dalam hati. Ia pun memasukkan motornya ke dalam.
“Loh motornya kenapa dimasukin?” tanya Marni tak suka.
“Kan jadi sempit!” lanjutnya protes.
Lagi-lagi gadis itu hanya bisa menghela napas sabar. Ia tak peduli dengan protesan bibinya itu, setelah mengunci pagar, ia pun mengunci pintu.
“Bu ... Adit lapal,” cicit bocah berusia empat tahun itu.
“Aini, ada makanan tidak?” tanya Marni.
“Aku nggak masak, hanya nasi aja. Kalo mau ada telur di lemari pendingin,” jawab gadis itu.
Dono membuka kulkas, ia melihat tempat itu yang kosong, hanya ada beberapa butir telur saja.
“Kamu jadi dokter bukannya kaya, malah tambah miskin, ya?’ sindir pria itu sinis.
Marni tanpa permisi mengambil wajan, meletakan di atas kompor, lalu mengambil telur yang hanya sisa tiga butir saja. Wanita itu mengambil semuanya dan mendadarnya. Setelah didadar dengan ukuran lebar, ia melipatnya dan memotong-motongnya menjadi lima bagian. Ternyata wanita itu cukup tahu diri jika pemilik rumah belum makan.
“Mau makan dulu,” jawab sang gadis.
Ia memang lapar terlebih, ia belum gajian. Uangnya belum ia ambil di ATM.
Kini mereka makan dengan tenang di ruang makan. Rumah sewa gadis itu cukup besar, ada tiga ruangan, ruang tamu, ruang makan dan dapur. Kamar mandi paling ujung. Sedangkan kamar ada dua, beruntung di kamar itu ada kasurnya.
Selesai makan, lagi-lagi Marni tau diri. Ia membereskan meja makan berdua dengan suaminya. Anak-anak disuruh tidur oleh Aini, membuka pintu kamar nomor dua. Ia menjejer kasur busa yang menumpuk menjadi dua, hingga muat untuk paman, bibi dan kedua anaknya. Di sana juga ada dua bantal dan dua guling. Aini menyusunnya sedemikian rupa.
“Oh ya, kalian belum gosok gigi kan?” keduanya menggeleng.
“Gosok gigi dulu, ya,” lanjutnya.
Lagi-lagi keduanya hanya mengangguk. Mereka meminta sikat gigi, Marni membuka tasnya yang ada di kursi ruang tamu dan memberikan benda yang diminta oleh anaknya. Keduanya memberikan sikat gigi itu pada Aini.
“Ke kamar mandi yuk,” ajaknya.
Kedua anak itu mengikuti Aini dan di sana, mereka menyikat gigi setelah diberi odol seujung sikatnya. Setelah mencuci muka dan kaki, mereka pun ke kamar dan merebahkan diri di kasur. Aini ke kamarnya, memberi dua selimut pada Marni.
“Ini buat anak-anak,” ujarnya.
Setelah itu, Dono memanggilnya.
“Aini, Paman ingin bicara.”
“Besok saja, ya. Aku sangat lelah hari ini. Pasti paman juga,” elak gadis itu.
Dono mengangguk, ia juga sangat lelah. Marni sudah menyusul kedua anaknya, tidur.
“Paman tidur ya. Selamat malam,’ ujar pria itu, lalu menutup pintu kamar.
“Selamat malam,’ sahur Aini.
Kini gadis itu merebahkan tubuhnya setelah membersihkan dirinya, beruntung ada kamar mandi dalam kamarnya, jadi ia tak perlu mengantri kamar mandi besok pagi.
Pagi menjelang. Paman dan bibinya belum bangun. Aini pergi ke pasar setelah shalat subuh untuk mengisi kulkasnya yang kosong dan sekalian membeli beras satu karung. Ia yakin. Kedatangan paman dan bibinya ke mari dalam jangka waktu yang lama. Makanya ia pun membeli keperluan agak banyak hingga cukup selama satu mingguan.
Mendengar bunyi sepeda motor dan pintu terbuka. Dono keluar dari kamarnya denga muka bantal. Pria itu melihat kemenakannya berusaha mengangkat satu karung beras. Buru-buru ia membantunya.
Setelah mengisi kulkas. Marni bangun, wanita itu langsung ke kamar mandi untuk cuci muka.
“Apa bisa bicara sekarang?” tanya Dono.
Aini melihat jam di dinding, sudah jam setengah tujuh. Gadis itu menggeleng.
“Nanti saja. Aku akan pulan siang,’ jawabnya.
Dono kembali bungkam. Sedang marni sudah berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Aini pamit berangkat kerja.
“Sarapan dulu, Aini!” teraik Marni.
“Nanti saja di rumah sakit!” teriak gadis itu lalu menjalankan motor maticnya.
“Yah, kunci pagar dulu sana, trus kunci pintunya, takut ada maling,” ujar wanita itu.
Dono melakukan titah istrinya. Setelah itu barulah ia masuk kamar dan membangunkan anak-anaknya untuk mandi.
Bersambung.
Hmmmm ...
Next?