TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
APA YANG KAU TABUR, ITU YANG KAU TUAI



Makanan yang tadi dipesan oleh Terra datang. Bahkan meja-meja di susun sedemikian rupa. Para wartawan berdatangan.


Tidak ada satu pun orang yang kembali mengungkit masalah yang baru saja usai. Terra menyambut kedua orang tua Haidar, calon mertuanya.


Herman pun datang ketika mendapat undangan dari kemenakannya, ia sudah lebih damai dengan keadaan, bahkan perusahaannya makin lama makin baik. Sosok cantik, nampak mengikut kemana pun pria berusia enam puluh tahun itu berada.


"Dia siapa, Paman? Dari tadi mengikutimu terus?" tanya Terra penuh selidik pada sosok cantik berkisar umur dua puluh lima tahun itu.


"Entah, aku tak tahu, padahal sudah kupakai anti lengket, dia masih saja menempel padaku," saut Herman kesal menatap sosok cantik itu.


Terra tersenyum. Terlihat sekali, tatapan cinta dari perempuan yang dari tadi mengikuti pria matang ini. Herman mendengkus ketika tangan gadis itu menggenggam tangannya.


Pria beruban itu nampak malu setengah mati, ketika orang-orang menatapnya penuh senyum. Ia sudah terlalu tua untuk mengenal asmara.


"Jangan begitu, Paman," ucap Terra iba pada perempuan yang menggandeng tangan pamannya itu.


"Oh ya, paman kenalkan ini Kakek Terra dari pihak ayah, Bart Dougher Young," ujar Terra memperkenalkan sang kakek.


Herman menjabat pria itu dengan gagah. Ia yakin jika ayahnya hidup lagi, pasti akan kembali mati sambil berdiri ketika tahu, jika pria yang dulu disebutnya 'bule kere' itu, adalah seorang putra raja bisnis Eropa.


'Kau memang bodoh, Ayah,' gumamnya sinis dalam hati.


Terra masih menggendong Lidya dan Rion. Dua balita menggemaskan itu memeluk erat ibu mereka. Entah mengapa.


"Sayang, Mama keberatan, sama Papa Idal, yuk," ajak Haidar.


Keduanya menggeleng, malah memeluk Terra erat. Akhirnya Haidar hanya bisa menjaga ketiganya dari dekat.


Virgou menatap bayi montok yang mendekap erat Terra. Entah mengapa, hatinya berdegup dengan kencang. Ada gelenyar dan desiran aneh yang merasuk kesetiap pori-porinya.


Virgou menatap lekat Rion yang tiba-tiba menatapnya. Balita itu merasa jika pria yang menatapnya ini tengah menantangnya.


"Pa'a biat-biat!' serunya tak suka.


"Hei, Baby, kenapa marah-marah?" tanya Terra.


"Ipu wowang biat-biat Ion, Mam. Ion embak suta!' ucapnya tak suka sambil menunjuk Virgou.


"Hei, kita kenalan yuk," ajak Terra sambil mendekati Virgou.


Jantung Virgou berdebar. Rion menatapnya dengan pandangan tak suka.


"Ini, Daddy Virgou," saut Terra.


Mendengar kata Daddy, membuat Virgou terhenyak. Ia seperti mau menangis.


"Hai, Dedi, atu Iya," ucap Lidya memperkenalkan diri dengan suara lembutnya.


Hati Virgou meleleh. Ia pun menjulurkan dua tangannya, untuk mencoba menggendong gadis kecil itu. Tapi, Lidya menolak. Entah mengapa ia tak mau lepas dari pelukan ibunya.


"Ini Lidya dan ini Rion," saut Terra memperkenalkan kedua anaknya.


"Apa mereka anak ...."


"Mereka anak-anak ku," potong Terra cepat.


Virgou mengangguk. Ia akan mengingat dengan jelas jika ketiga anak itu adalah anak-anak Terra yang berarti anak-anaknya juga.


"Hai, Rion," sapa Virgou dengan suara tercekat.


Entah kenapa, dengan bayi montok ini, pria itu seperti mau menangis.


"Hai," balas Rion cuek.


"Baiklah, Te. Tinggal dulu ya, sudah waktunya," ujar Terra kemudian setelah melihat pengacaranya datang.


ia pun ke arah mimbar bersama dua anak dalam dekapannya.


Jepretan kamera membidiknya, lampu blitz menyala berkali-kali di setiap bidikannya. Kamera perekam juga sudah menyorot tengah panggung di mana Terra berdiri dengan dua balita dalam gendongannya.


"Halo selamat siang, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shaloom!' ucapnya memberi salam.


Gadis itu memberi kode pada Darren untuk mendekat. Setelah Darren berada di sisinya. Barulah Terra berbicara.


"Sebelumnya, saya meminta maaf sebesar-besarnya atas semua kejadian yang sempat membingungkan para wartawan dengan keberadaan tiga anak ini."


Semua diam tak ada satu pun yang menyela, kamera masih membidik mengabadikan moment ini.


"Pertama-tama saya akan memperkenalkan tiga adik yang resmi menjadi anak saya nanti secara hukum."


"Ini Darren Hugrid Dougher Young, Lidya Pratiwi Hugrid Dougher Young dan Rion Permana Hugrid Dougher Young."


'Mama tulun," pinta Lidya yang diikuti Rion.


Gadis itu menurunkan keduanya. Rion dan Lidya berdiri di sisi kakaknya, Darren.


"Saya juga memperkenalkan Paman saya, kakak dari mendiang ibu saya, Tuan Herman Triatmodjo."


Herman maju satu langkah dan menganggukkan kepala. Kamera langsung membidik dan mengabadikan gambar pria itu.


"Dan ini adalah kakek dari mendiang ayah saya, Bart Philip Dougher Young beserta dua putranya yakni Frans Dougher Young dan Leon Dougher Young."


Terra juga memperkenalkan istri dari kedua pamannya itu. Mereka yang disebutkan maju dan menunduk sebentar untuk memperkenalkan diri mereka.


"Ini adalah kakak saya, Virgou Black Pristers," saut Terra memperkenalkan Virgou.


Pria yang disebutkan namanya terhenyak. Ia tak tahu jika dirinya juga ikut diperkenalkan. Pria itu maju ke arah mik di mana Terra berada.


"Virgou Black Dougher Young!" ralatnya.


Terra mengulas senyum. Kamera dan lampu blits berkali-kali menyala.


Para wartawan tidak diperkenankan untuk bertanya. Mereka hanya mengabadikan dan menyiarkan siapa Terra selama ini.


"Oh ya, saya juga akan mengumumkan, jika dalam waktu dekat saya akan melangsungkan pernikahan."


Semua wartawan heboh. Bahkan banyak yang mulai menebak-nebak siapa calon suami Terra.


Haidar maju, berdiri di sebelah Terra. Makin ributlah wartawan. Jadi rumor hubungan mereka selama ini benar adanya.


"Saya akan menikah dengan Tuan Haidar Hovert Putra Pratama!"


"Mba, kapan mulai pacarannya? Kok tiba-tiba mau nikah?" tanya salah satu wartawan.


"Kami sudah lama menjalin hubungan. Bahkan sebelum Terra menjabat sebagai CEO," jawab Haidar tegas.


"Kapan nikahnya, kenapa terburu-buru?" desak wartawan lagi.


"Nanti akan diberi tahu!' saut Haidar lagi.


"Mba apa benar tiga anak Mba adalah anak hasil perselingkuhan mendiang Tuan Ben?!"


Para petugas keamanan mulai membubarkan wartawan. Terra menjawab pertanyaan itu dengan setengah berteriak.


"Tidak ada anak hasil perselingkuhan. Mereka hadir karena adanya ikatan suci antara laki-laki dan perempuan! Mereka suci. Jangan hakimi ketiga anakku atas kesalahan yang tidak mereka buat sama sekali!"


Haidar mengelus punggung Terra. Gadis itu sedikit emosi.


Tiba-tiba. Sebuah kue datang bersama para karyawan Terra.


"Selamat ulang tahun, Boss!" seru mereka.


Terra terhenyak. Ia lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.


bersambung.


Barakallah fii umrik, Terra.


next?