
"sentuhan kekeluargaan adalah penyembuh kekosongan hati."
~othor's words 13 September 2021.
******************
Hari ini hari minggu. Bart datang bersama rombongan. Terra yang mengetahui kedatangan kakek, paman juga kakak dan adiknya sudah menyiapkan makanan yang banyak.
"Terra!" panggil Bart ketika masuk rumah.
"Grandpa," sambut Terra.
Bart langsung memeluk cucu perempuannya itu. Pria berusia menjelang delapan puluh tahun itu mencium pucuk kepala Terra. Haidar datang ikut menyambut kakek mertuanya.
Bart juga melakukan hal yang sama pada suami sang cucu ini. Sementara, Frans dan Leon memeluk Terra juga menciumnya secara bergantian.
Virgou menyusul bersama, Gabe, David dan Gisella. Mereka saling peluk dan cium.
Haidar mengajak mereka langsung ke meja makan. Darren yang melihat kakeknya datang langsung menyambangi pria tua itu dan menyalim semuanya. Begitu juga Lidya dan Rion.
Terra tak menyangka jika rumahnya akan menjadi sempit begini. Namun justru jauh lebih hangat kerena mereka harus berjalan dan duduk berhimpitan. Ada gelak tawa juga keriuhan. Pelupuk Terra menggenang.
"Ayah ... kami berkumpul lagi," gumamnya sendu.
Terra hanya berandai, jika ayah dan ibunya berada di antara semuanya. Tertawa bersama, tanpa saling melukai atau membenci kembali.
Haidar menatap istrinya yang begitu terharu melihat semua keluarga berkumpul, mendatangi sang istri dan langsung merangkul pundaknya.
"Apa yang kau pikirkan, sayang?" tanya pria itu kemudian mengecup pelipis Terra.
Wanita itu hanya memeluk sang suami dan membenamkan kepalanya di dada suami. Haidar mengecup pucuk kepala sang istri begitu dalam dan lama.
"Apa yang mengganggumu? hmmm?"
Haidar mengurai pelukannya dan mencubit dagu sang istri agar menghadapnya. Nampak netra Terra yang berkaca-kaca. Istrinya hanya menggeleng sambil menarik dua sudut bibirnya. Haidar mengecup cepat bibir yang selalu menjadi candunya itu.
Terra langsung melepaskan pelukan dan memukul ringan dada suaminya sambil mengerucutkan mulutnya. Haidar terkekeh.
"Sudah, jangan kau pikirkan apa-apa. Kita nikmati kebersamaan hari ini, ok!"
"Oteh!" saut Terra meniru jawaban Rion.
Haidar terkekeh mendengar jawaban itu. Ia pun sedikit tertular bahasa bayi montok itu, bahkan di kantor sekalipun. Seketika, pria itu mencari sosok gembul yang selalu menggemaskan semua orang.
Rion sedang mengerjai Virgou. Bayi gembul itu melompat dan pria tampan itu harus menangkapnya. Virgo yang sedang makan sedikit terganggu
"Baby!" Terra memperingati bayinya.
Rion berhenti. Ia langsung memeluk Virgou dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher pria yang dipanggil Daddy olehnya.
Virgou menoleh tak suka pada cara Terra. Namun, Terra malah menantang tatapan kakaknya itu.
"Jangan terlalu memanjakannya, Kak. Te sudah mulai kerepotan mengajarinya," peringat Terra.
"Jika kau merasa repot. Aku saja yang mengajarinya," saut Virgou enteng.
"Mau kau jadikan apa Rion, jika gurunya adalah kau?" sela Frans sinis, "bajingan?"
"Pancinan, pa'a?" tanya Rion tiba-tiba sambil menegakkan kepalanya.
Virgou yang sedang menyuap, nyaris menyemburkan makanannya ketika mendengar pertanyaan Rion. Frans jadi salah tingkah. Salahnya tadi ia menggunakan bahasa Indonesia.
"Hayo loh, Uncle. Jawab tuh pertanyaan!" umpat Terra kesal.
Frans hanya tersenyum kecut. Rion masih menanti jawaban.
"Antel! pacinan ipu pa'a?" tanyanya lagi dengan wajah tak sabaran.
"Pacinan itu kota di Amerika yang semua warganya berbangsa China," jawab Frans akhirnya.
"Oh," Rion mengangguk tanda mengerti.
Semua tertawa mendengar kepolosan dan ke-sok tahuan balita itu. Mendengar semua tertawa membuat ia merasa dibodohi.
"Wi ... antel bolon ama Ion. Antel bosa woh!" ucapnya.
Terra jadi tertawa terbahak-bahak. Frans belum paham apa perkataan Rion. Virgou mengartikannya tentu dalam bahasa Inggris. Frans langsung paham dan jadi kesal sendiri.
Lidya yang sedang disuapi oleh Gisel, berceloteh ria. Gisel yang belum mengerti apa bahasa bayi di depannya hanya tertawa sambil mencium gemas pipi gembul Lidya yang kemerahan itu.
"You're so adorable!" (kamu gemesin banget!) puji Gisel ketika mencium pipi Lidya.
"Oh ... so sweet, Thank you, princess," ujar Gisel gemas sendiri.
"Ten tyu tu," balas Lidya sambil mengulas senyum manis.
Sarapan sudah usai. Para pria tengah mengobrol di ruang tengah sedang anak-anak bermain di ruang bermain mereka. Sedang Gabe langsung naik ke rumah pohon bersama Virgou dan Darren juga David.
"Daddy!" pekik Rion memanggil Virgou.
"Ya, sayang," saut pria itu dari atas pohon.
"Ion mo mait buja!" pekiknya.
Terra yang mendengar teriakan Rion terkejut. Bayi itu sudah berada di bawah pohon dan sedang berusaha memanjat tali yang menjadi tangga untuk naik.
"Baby, wait!" pekik Terra juga Virgou bersamaan.
Sayang. Genggaman Rion pada tali terlepas. Terra melompat berusaha menjangkau bayi itu.
Hap!
Bruk!
"Auch!"
Virgou dan Terra saling tindih. Dengan posisi Terra tengkurap sedang Virgou terlentang di atas tubuh Terra. Rion berada di tangan pria itu.
Haidar yang melihat itu langsung berlari. Rion yang terkejut karena nyaris terjatuh langsung menangis kencang.
"Kak ... kau berat!' keluh Terra.
"Ah ... sorry. Gue kira tadi di bawah gue kasur rumah sakit," ledek Virgou langsung berdiri.
Terra bangkit. Haidar langsung panik melihat dagu istrinya terluka hingga berdarah.
"Sayang. Dagumu berdarah!"
Semuanya yang ada di atas pohon turun menggunakan tiang panjang.
Tinggi rumah pohon dan tanah hanya berjarak 2 meter. Jadi tadi Virgou langsung melompat, karena tinggi pria itu 190cm.
Mereka semua masuk. Rion sebagai tersangka utama kembali menangis melihat ibunya berdarah.
"Mama ... beuldalah? Hiks ... hiks," Lidya langsung terisak.
Leon langsung memeluk gadis kecil itu dan langsung memberikan pengertian. Pria itu tahu masa trauma Lidya yang melihat langsung kekerasan yang terjadi pada kakaknya.
"Lidya, Mama terluka bukan karena ada yang menyiksa. Tapi, itu murni karena kecelakaan," jelas Leon.
"Dadhi, eunda ada yan putun Mama?' tanyanya dengan ekspresi sedih.
"Tidak ada sayang. Semua sayang sama Mama. Jadi nggak ada yang pukul," jawab Leon.
Lidya pun bernapas lega. Ia mengira jika luka yang didapat ibunya adalah hasil penyiksaan seseorang yang jahat.
Setelah Haidar mengobati luka istrinya. Ia pun bertanya apa ada luka lain. Karena tadi badan besar Virgou menindih tubuhnya.
"Agak perih di dada Ama perut sih. Sepertinya lecet deh," jawab Terra.
"Ya udah, yuk ke kamar. Aku obatin," ajak Haidar.
Terra langsung melotot. Ia tahu pikiran mesum suaminya. Terlebih mata sang suami yang langsung berubah menjadi nakal dan penuh ide terselebung. Terra mencium cepat pipi suaminya.
"Ntar malam ajah," sautnya usil.
"Bener, ya!" ujar Haidar dengan wajah menyeringai penuh kemesuman hakiki.
"Kalo inget," saut Terra usil.
"Akan aku ingatkan, sayang," ujar Haidar dengan alis naik turun.
Terra hanya bisa mendesah serba salah. Ia yang mulai maka ia harus mengakhiri dengan mengikuti kemauan suaminya itu.
Bersambung.
ah ... emang Haidar ama Terra mo ngapain ntar malam? othor masih polos ,ðŸ¤
next.