
"Apa katamu?" tanya Daud gusar.
Arimbi sudah geram bukan main. Tapi, gadis yang ditunjuk sangat santai sekali.
"Kenapa?" tanya Kevin menyeringai.
"Bukankah jadi keuntungan dia karena telah mencium pria the most wanted di kampus ini?" lanjutnya pongah.
Arimbi dan Daud mau muntah mendengar kepercayaan diri pria itu.
"Cakepan Baba kemana-mana!" tolak Daud membandingkan.
"Yee jauh keles kalo Ama Baba mah,' sahut Arimbi mendebat.
"Kalah sama semua pria kita," lanjutnya meralat.
Daud mengangguk. Tak ada satu pun pria yang wajahnya mengecewakan. Walau wajah Kevin itu juga tampan, tapi di banding Daud, nilai ketampanan Kevin hanya berkisar di angka tujuh. Sedang Daud di angka sempurna.
"Aku harus apa?" tanya Nai lagi.
Daud dan Arimbi menoleh pada saudaranya yang memang tengil dari kecil itu.
"Nai!" peringat Arimbi.
Daud menghitung lawannya. Ia yakin akan terjadi sedikit perkelahian. Jantungnya berdetak cepat. Dulu, mereka sempat berkelahi dengan para penjahat ketika nyaris masuk dalam klub malam. Daddy datang bersama kakak panutan semua adiknya dan menolong mereka yang nyaris kalah. Daud kini mulai bisa memperhitungkan bagaimana ia membela saudaranya nanti.
"Lo mesti cium gue!" sahut Kevin membuyarkan lamunan Daud.
"Aku harus cium kamu?" tanya Nai dengan mata mengerjap. Gadis itu lupa tak bicara gagu.
"Eh ... Lo nggak gagu ternyata?!" tanya Kevin marah.
Nai menutup mulutnya. Lalu ia nyengir kuda. Arimbi dan Daud hanya bisa melihat tingkah saudaranya.
"Ayo cium gue dan saudara Lo akan aman, trus Lo nya bahagia karena udah cium gue," ujar pemuda itu lagi dengan pandangan merendahkan Nai.
Nai maju. Kevin bahagia luar biasa, Arimbi dan Daud sudah sewot setengah mati. Tapi, keduanya percaya jika Nai akan berbuat sesuatu yang tidak akan merendahkan dirinya.
Makin lama Nai mendekati Kevin. Pemuda itu mengusap pipi dan air liurnya yang nyaris saja menetes.
"Nih ... cium gue di sini," ujarnya sambil menunjuk pipinya.
'Lu mau cium pipi, gue langsung noleh dan kita ciuman bibir. Pas itulah, ciuman Lo ke foto!' gumam Kevin licik dalam hati.
Nai makin mendekat, Kevin menyerahkan pipinya. Ia sudah tersenyum licik di sana dan bersiap.
'Satu ... dua ... ti ....'
Plak! Satu tamparan kuat mendarat di pipi Kevin yang cukup mulus itu. Begitu kuatnya tamparan Nai hingga telinga pemuda itu berdenging dan tubuhnya sempoyongan.
"Bangsat!" sentak para preman yang bersama Kevin.
Mereka pun menyerang Nai. Daud yang sudah memperhitungkan hal itu lalu membantu saudaranya. Terjadilah perkelahian tak imbang itu.
Keturunan Dougher Young plus Pratama dan keturunan trah tertinggi kasta Jawa, Triatmojo. Mampu meladeni sepuluh preman. Bahkan. dua orang langsung terkapar tak berdaya.
Sementara di tempat parkir para pengawal tampak gelisah. Mereka mendatangi tuan dan nona muda mereka.
"Kita susul Tuan Muda!" ajak Rio pada rekan-rekannya.
Tiga belas pengawal itu pun menyusul ke dalam kampus. Terkejut lah mereka ketika melihat tuan dan nona muda mereka tengah berkelahi. Maka tak ayal membuat tiga belas pria kekar itu pun menyerang para preman dan memukuli mereka membabi buta.
Petugas keamanan kampus yang sedang berkeliling langsung mendatangi perkelahian itu. Ia meniup peluitnya.
Melihat sebelas pria terkapar dan babak belur. Mereka mengenali Kevin sebagai salah satu mahasiswa yang cerdas dan tampan tergeletak.
"Ada apa ini, kenapa mereka babak belur?!" sentak petugas itu marah.
Rio menatap tajam petugas bernama Ahmad. Ahmad langsung menelan saliva kasar.
"Preman bisa masuk kampus?" tanya Rio dengan suara intimidasi.
"Kalian bertiga masuk ruang BP!" perintah Ahmad.
"Apa kau gila?" saut Rio marah.
"Ini kampus, semua yang berurusan dengan perkelahian harus masuk dewan disiplin!" sahut Ahmad.
Daud dan Arimbi mengikuti langkah saudara perempuannya itu. Dewan disiplin adalah seorang dosen killer bernama Rambo. Sesuai namanya. Ia benar-benar galak dan kejam jika ada mahasiswa yang melanggar aturan. Haidar sudah tak menjabat rektor lagi. Pria itu mempersiapkan Calvin untuk menggantikannya. Karena hanya remaja itu yang tertarik di dunia pendidikan.
"Kalian buat masalah?" tanya Rambo tak percaya.
Nai, Arimbi dan Daud berdiri dengan lugunya di hadapan dosen dengan kumis melintang itu. Pria itu sangat tahu sepak terjang ketiganya, bahkan saudaranya yang lain. Tak ada satu pun bertindak di luar kewenangan kampus.
Sementara Kevin dan kawan-kawan dibawa ke ruang klinik kampus untuk diobati.
"Hubungi orang tua kalian. Ini pertama kalinya kalian berbuat kericuhan di sekitar kampus?" tekan Rambo tak menanyakan alasan ketiganya berbuat keributan.
Nai menelepon ibunya dan menjelaskan duduk perkaranya. Baru lah Rambo terdiam. Ternyata tiga remaja tanggung itu membela diri.
Sedang Terra nampak memaki semua pengguna jalan. Ia terkena macet parah. Rion yang mendengar Mamanya marah-marah semakin yakin jika ada yang tak beres.
"Ma, sebenarnya ada apa sih?" tanya remaja itu gusar.
Terra terdiam. wanita itu mendengkus pasrah. Akhirnya ia mengatakan pada bayi besarnya itu. Rion tampak geram setelah mendengar cerita mamanya.
"Keknya seru kalo manggil Om Gomesh," ujar Rion.
"Jangan Baby," larang Terra.
"Om Gomesh kan keluar kota sama Papimu," lanjutnya.
"Ah, Daddy!" sahut Rion makin semangat.
"Baby, biar kali ini Mama yang tangani," pinta Terra.
"Lagi pula sudah lama Mama nggak mukul orang," gumamnya lirih.
"Apa?" tanya Rion yang tak mendengar perkataan ibunya.
"Nggak Baby ... nggak ada apa-apa," jawab Terra cepat.
Akhirnya mereka sudah sampai kampus. Terra dan Rion langsung berlari ke ruang BP. Wanita itu ingin memastikan jika putrinya tidak apa-apa.
"Baby!" panggil Terra.
Nai, Arimbi dan Daud menoleh.
"Mama!" panggil ketiganya.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Terra yang ditanggapi anggukan kepala.
Terra bernapas lega. Tadi di luar ia mendapati sepuluh pengawalnya dengan wajah menunduk. Peraturan kampus membuat mereka tak bisa menjaga ketiga nona dan tuan muda mereka. Semenjak pergantian rektor. Banyak hal diubah seenaknya oleh ketua universitas itu.
"Kenapa Bapak tidak bertanya sebab putri dan putra saya melakukan tindakan itu!" tanya Terra tak puas terhadap kinerja dewan disiplin.
Rambo diam. Ia memang salah besar. Sebagai dewan disipliner mestinya ia melihat dan menelaah kasus dengan bertanya duduk persoalan, bukan main panggil wali siswa mereka.
"Saya hanya kaget saja. Ketiganya tak pernah berbuat onar," jelas Rambo beralasan.
"Loh dengan begitu mestinya anda yakin jika ketiga anak saya ini tak bersalah!' sentak Terra tak terima.
"Beruntung putri saya bisa melawan. Jika tidak ...."
Terra tak melanjutkan perkataannya. Ia takut sendiri, membayangkan apa yang terjadi. Wanita itu menutup mata.
"Mungkin ada korban lain, selai Nai, putri saya. Saya akan bawa ini ke forum orang tua!" ujar Terra dengan tatapan dingin dan menusuk.
"Tak usah seperti itu Bu. Namanya juga kenakalan remaja, hal itu pasti biasa bukan?" ujar Rambo menengahi kekacauan.
"Apa kata Bapak?' tanya Rion kini dengan nada sinis. "Bapak bilang itu biasa?"
"Kamu anak kecil, nggak usah ikut campur!" sentak Rambo.
Pria itu tak suka jika ada anak yang nimbrung percakapan orang tua.
"Keluar kau!" usir Rambo galak pada Rion.
bersambung.
yaah ... alamat deh!
next?