
Ketika Virgou hendak pergi. Terra menatap Haidar meminta ijin. Pria itu mengangguk. Kemudian secepat kilat, gadis itu memeluk Virgou dari belakang.
"Jangan tinggalkan aku, Kak!" pinta Terra.
Virgou terhenyak. Debaran jantungnya berpacu, walau ia merasa kelegaan setelah mengatakan semuanya. Tapi, mendapat pelukan dari Terra secara tiba-tiba? Virgou sedikit shock.
Darren yang dari tadi sedang berkutat dengan ponselnya mencari tahu suatu kebenaran. Pria itu terkejut ketika mendapat sesuatu.
"Mama, lihat ini. Event itu, bukan Ayah yang memenangkan, tapi ...," kalimat Darren terpotong.
Terra melepas rangkulannya. Virgou terpaku. Event yang di maksud adalah event besar yang terjadi puluhan tahun lalu. Yang pasti berita itu sudah lama terhapus.
"Kak Virgou yang memenangkan event itu dengan selisih angka yang tadi disebutkan!?" ucap Terra tak percaya ketika melihat deretan informasi yang didapatkan Darren.
"Tunggu dulu, bagaimana bisa kau dapatkan informasi itu. Itu sudah lama sekali!' seru Virgou tak percaya.
"Tentu saja, karena putraku pintar. Jadi ia bisa mendapat informasi apa pun dari ponsel ciptaannya," aku Terra memuji Darren dengan penuh kebanggan.
Darren menatap ibunya dengan penuh binaran mata suka cita. Ia begitu senang atas pujian dari Terra.
"Anakmu?" tanya Virgou lagi.
"Ya, dia putra sulungku," jawab Terra.
Virgou terdiam. Ia terpana dengan jawaban Terra.
"Tapi anak itu ...."
"Anak ini adalah anakku, tidak ada yang mengubahnya," potong Terra cepat
"Kau lihat, Kek. Dia bisa mengakui anak hasil kesalahan Ayahnya. Sedang aku yang lahir dari pernikahan sah, kalian sebut sebagai anak haram!" ucap Virgou dengan suara tercekat.
Terra dan lainnya menatap tajam keluarga Bart. Gadis itu ingat ketika awal, sang kakek menyuruhnya menyembunyikan keberadaan ketiga anaknya.
"Kenapa kalian jahat sekali?" tanya Terra mendesis.
Bart kehilangan kata-kata. Pria itu ingat. Saudara kembarnya menikah lebih dahulu ketika masih berusia remaja, karena kecelakaan. Adik kembarnya itu menghamili anak gadis orang.
Bart ingat betapa, ia kecewa dengan sang adik yang menurutnya mencoreng nama baik keluarga. Pernikahan itu menghasilkan empat anak, Samuel, ayah Virgou adalah anak bungsu.
Pernikahan Samuel pun masih muda, karena berpacaran ia dinikahkan langsung ketika berusia tujuh belas tahun.
Bart menikah ketika menginjak usia tiga puluh tahun. dua tahun menikah baru memiliki Frans. empat tahun kemudian baru Ben, dua tahun kemudian Leon hadir. Ben lahir satu tahun lebih dulu dari Virgou.
"Aku minta maaf," ucap Bart berurai air mata.
Terra memejamkan matanya. Virgou hanya bisa bungkam. Entah kemana sifat liciknya terbang ketika ia mendapat pelukan dari Terra tadi.
"Te, ingin semuanya melupakan ini," saut Terra lirih.
Virgou menoleh gadis itu. Ia tak percaya. Hatinya tidak terima. Baru ia berucap tiba-tiba seseorang datang menghampiri Bart dan menyerahkan dokumen. Pria itu mengatakan sesuatu.
"Terra, orangku mengatakan jika kepolisian menunggu keputusan mu tentang kecelakaan Ayahmu. Pihak polisi menemukan jika mobil yang dikendarai telah disabotase," ucap Bart.
Terra terdiam. Haidar langsung merengkuh bahu Terra karena, tubuhnya mendadak limbung.
"Te," panggil Haidar.
"Aku buktikan, jika aku bukan pelakunya," saut Virgou tegas.
Pria itu hendak pergi. Tiba-tiba.
"Cukup!" pekik Terra.
"Tolong, cukup semuanya, Te lelah," ucap Terra dengan mata terpejam.
"Te," panggil Virgou, Bart, Frans dan Leon bersamaan.
"Cukup, Grandpa, Uncle, Kak. Ini sudah cukup, Te tidak ingin ada yang disakiti lagi. Tolong, hentikan semuanya," pinta Terra memohon.
"Tapi, orang yang membunuh Ayahmu masih berkeliaran!" pekik Frans tak terima.
"Lalu kenapa?" tanya Terra menaikan tinggi suaranya.
"Sudah. Te, mohon hentikan, biarkan alam yang memberinya hukuman. Bukankah, apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai nanti?"
Perkataan Terra membuat semuanya terdiam.
"Tapi aku di sini tertuduh sebagai pembunuh Ayahmu," ujar Virgou.
"Te percaya, bukan Kakak yang membunuh Ayah," saut Terra tegas.
"Aku yang dulu menyelipkan proyek ilegal agar bisnis mafiaku ...."
"Te sudah tahu, Ayah juga tahu!" potong Terra cepat.
"Ben tau?" Terra mengangguk.
Gadis itu menatap lekat Virgou. Pria itu mendapat satu dorongan besar dari pandangan yang diberikan Terra.
"Ibu pernah bilang sama Terra. Tidak ada orang jahat, hanya saja, tidak ada kesempatan dirinya untuk berbuat baik," ucapnya penuh ketegasan.
Bart memeluk cucunya. Ia belajar banyak hal dari seorang gadis yang hari ini berusia sembilan belas tahun.
"Maafkan Kakek ... hiks ... hiks ... tolong maafkan Kakek!" ungkapnya tulus.
Terra membalas pelukan Bart. Gadis itu pun memaafkan sang kakek. Ia sudah cukup lelah dengan semua drama dan konflik yang terjadi selama ini.
Terra beranggapan, dengan memaafkan dan mencoba melupakan semuanya. Hal baru akan muncul, walau tidak mudah. Tapi, ia yakin jika semuanya baik-baik saja ketika telah mengikhlaskan semuanya.
"Aku bangga memiliki cucu seperti mu, sayang," puji Bart.
Pria itu mencium kening Terra lembut dan penuh kasih. Virgou menatapnya. Pria itu mencari kemana semua sifat mesum yang ia bingkai ketika menatap foto gadis itu.
Ia kehilangan semua akal licik dan niat buruk yang ia tanam dan rawat semenjak mengetahui, gadis itu adalah putri dari musuh bebuyutannya, Ben.
'Ternyata, aku hanya cukup mengungkapkan semua kekesalanku,' gumamnya dalam hati.
"Selama ini, aku sibuk merawat kebencianku dan memupuknya hingga subur, hingga mengakar. Tanpa aku pedulikan jika aku ikut terluka karenanya," ucapnya pelan.
Terra mengulas senyum. Ajaran ibunya memang benar. Jangan menyimpan dendam. Karena itu hanya akan membakar hatimu saja, tidak yang lain.
"Jadi keputusannya Tuan?" tanya ajudan yang tadi memberi info tentang perihal kasus kecelakaan yang menimpa, Ben.
"Hentikan saja," jawab Bart ketika menatap Terra.
Terra mengangguk, ia setuju.
"Sudah terlalu banyak luka. Saatnya, kita menyembuhkan luka dengan saling memaafkan dan melupakannya," ucap Terra.
Haidar begitu bangga dengan kekasihnya. Pria itu memeluk gadisnya dari belakang. Virgou langsung melepasnya.
"Nanti peluk-peluknya, ketika sudah sah!" selorohnya.
Haidar berdecak kesal. Terra tertawa tanpa suara. Namun, kemudian, gadis itu malah memeluk prianya dengan erat.
"Terima kasih, karena Mas selalu ada untuk Te, selama ini," ungkap Terra lirih.
"Sama-sama, sayang," saut Haidar membalas pelukan kekasihnya.
Virgou membiarkannya. Beberapa saat kemudian, semua makanan yang dipesan datang. Hari ini Terra akan mengumumkan semuanya.
Herman Triatmodjo datang bersamaan dengan Bram dan Kanya. Semua pun larut dalam perkenalan. Tidak ada satu pun yang menyinggung apa yang terjadi sebelumnya.
Rion dan Lidya kembali diantarkan ke ruang pesta. Dua balita itu langsung minta gendong ibunya dan tak mau turun-turun walau Haidar dan Bram merayu mereka. Bahkan Kakek yang baru mereka kenal.
bersambung ...
ah ... lega ...
tidak ada lagi kesakitan setelah ini.
Good heart, Terra!
next?