
Terra terpaksa membangunkan dua anaknya, karena hari sudah semakin sore. Lidya dan Rion pun bangun sambil merengek manja.
Dua balita itu bangkit dari ranjang dengan mata setengah terpejam. Menyadari mereka melewati sesuatu, membuat keduanya murung. Baik Rion dan Lidya hanya diam dengan raut wajah sedih.
"Ayo mandi, sayang," ajak Terra lalu membuka baju Rion.
Bayi itu terlebih dahulu mandi. Tak ada ocehan yang dilontarkan dari mulut bayi itu. Terra sedikit bingung. Ia meraba kening dan leher Rion.
"Tidak hangat," gumamnya.
Usai mandi, Terra langsung mengeringkan tubuh bayinya. Sesekali ia menggelitik kaki Rion. Memang bayi montok itu sedikit tertawa. Tetapi kemudian ia kembali diam. Terra sampai kebingungan.
Tidak hanya Rion yang diam. Lidya juga ikut bungkam. Kedua bocah itu benar-benar membuat Terra khawatir sekali. Wajah sedih keduanya membuat wanita itu sedikit panik.
Usai keduanya rapi dan wangi. Lidya dan Rion turun dari ranjang kemudian berjalan dengan bergandengan tangan.
Darren melihat dua adiknya yang menunduk sedih, sangat tahu apa pasalnya mereka berdua begitu. Darren mendekati mereka.
"Kenapa, sedih? Apa karena tidak bisa menyambut kedatangan Mama dan Papa?" mereka berdua mengangguk.
"Kan, Mama Papa belum tahu, acaranya seperti apa. Nggak apa-apa. Kita lanjutkan saja bagaimana?" usul Darren.
Dua balita itu memandangi kakaknya dengan penuh ekspresi dan mata berbinar.
"Pati udah eunda peltejut ladhi!' keluh Lidya.
"Pasti terkejut. Kita coba saja, ya," ajaknya.
"Pati ...."
"Udah, kita mulai dari kamar kakak, kalian masih ingat gerakannya?' Lidya mengangguk sedang Rion menggeleng.
Darren terkikik geli. Ia pun langsung mengajak masuk adik-adiknya. Mereka berlatih sebentar mengikuti gerakan Lidya. Darren mendandani kedua adiknya juga dirinya.
Darren keluar lebih dahulu dari kamar dengan atribut yang meriah. Haidar, Terra dan semuanya sedikit heran, ketika tiba-tiba Darren menyalakan mik yang sudah dia siapkan dari tadi.
"Ehem ... selamat sore Mama, Papa, Om Budi dan semuanya. Darren selaku pembawa acara akan langsung mempersembahkan sebuah hiburan yang akan di mainkan oleh ... Lidya dan Rion!" ujar memberi tahu ala pembawa acara. "Mari beri tepuk tangan yang meriah!"
Haidar dan Terra langsung cepat tangkap apa maksud putranya. Mereka semua bertepuk tangan dengan meriah. Bahkan Haidar bersiul-siul dengan keras.
Kecrekan berbunyi. Rion dan Lidya keluar menari hula-hula. Walau Rion memperburuk gerakannya menjadi lucu. Semua bertepuk tangan sambil berteriak histeris.
Terra sampai menitik air mata karena tertawa keras. Begitu juga Haidar, suaminya. Rion mengambil mik begitu juga Lidya sedangkan Darren mengambil kecrekan, membunyikannya lalu menari.
"Belpom hom Mama ... belpom hom Papa ... belpom hom Om Pudi ... belpom ... hom ...!" nyanyian mereka berdua.
Haidar tak berhenti tertawa begitu juga Terra yang sudah lemas. Budiman apa lagi. Pria tampan itu memegang perutnya yang mulai kram.
Lagu selesai persembahan pun usai. Mereka membungkuk sambil mengucap terima kasih. Semua bertepuk tangan meriah.
Lidya dan Rion terharu kemudian berpelukan. Darren ikut terharu. Ia memeluk kedua adiknya. Terra melihat itu jadi merasa bangga.
Matanya berkaca-kaca melihat betapa kegigihan mereka untuk menyenangkan orang tuanya. Membuat persembahan sederhana. Terra sangat bangga dengan ketiga anaknya.
Terra dan Haidar menghampiri mereka. Lalu memeluk ketiganya. Rion minta gendong begitu juga Lidya.
Terra menggendong Rion sedang Haidar menggendong Lidya. Mereka terpingkal ketika ayah dan ibunya menggelitiki mereka.
"Mama, badhus eundat peltembahannya?" tanya Lidya dengan mata berbinar.
"Bagus sekali sayang. Mama sukaaa banget," jawab Terra dengan antusias.
"Mama emba bolon tan?" tanya Rion menyelidik.
"Sayang, bener, Mama nggak bohong," sahut Terra yakin.
Rion pun mencium ibunya dan tersenyum. Terra memeluknya gemas. Haidar mencium Darren, Rion, Lidya lalu bibir istrinya.
"Cieee ... Papa genit," ledek Darren.
"Benit ipu pa'a?' tanya Rion dengan tatapan penasaran.
"Eh, tadi Bik Romlah bikin kue loh. Kita minta yuk," ujar Terra mengalihkan pembicaraan.
"Yuk ... yuk," ajak Haidar.
Mereka menghampiri meja makan. Di sana sudah tersedia makanan yang di maksud. Terra mengambil lebih dahulu untuk suaminya, untuk Budiman. Baru untuk ketiga anaknya.
Lidya tiba-tiba menyuapi Budiman dengan tangannya. Pria itu melirik Haidar penuh kemenangan. Haidar langsung cemberut. Terra hanya menggeleng melihat tingkah keduanya.
Tiba-tiba Rion menyuapkan juga kuenya pada Budiman. Sekali lagi, pria itu tersenyum penuh kemenangan. Haidar langsung cemburu. Ia mendengkus kesal.
"Nggak ada yang sayang sama Papa," sungutnya.
"Iya syayang Papa," sahut Lidya lalu mencium Haidar.
"Papa mau, Pa," ujar Lidya meminta Haidar menyuapinya.
Dengan sigap Haidar menyuapi putrinya. Rion pun ikut-ikutan. Akhirnya saling suap pun terjadi diantara mereka.
Sedang di tempat lain. Virgou tengah menikmati kebersamaannya dengan sang istri. Bagaimana ia dengan bangga memperkenalkan istrinya di hadapan para kolega.
Puspita yang memang cerdas dan menguasai tiga bahasa asing. Sangat cepat membaur. Banyak kolega memuji kepiawaian istri Virgou.
"Kau sangat beruntung mendapat istri seperti dia, Tuan Dougher Young," puji salah satu kerabat sambil menunjuk Puspita yang tengah asik mengobrol dengan salah satu istri kolega suaminya.
"Tentu saja aku beruntung," ucap Virgou melihat sang istri.
Kini keduanya di kamar hotel termegah di sana. Kaca besar berbentuk melengkung ke atas sengaja tidak ditutup oleh tirai.
Ruangan yang dihias dengan kelopak mawar bertaburan dan lilin-lilin beraroma sama. Membuat suasana kamar yang termaram menjadi semakin romantis.
Virgou memeluk istri yang menyandar di dadanya yang bidang. Menatap langit dengan penuh bintang dan cahaya aurora warna biru memenuhi langit.
Bibir keduanya saling bertaut.
"I love you," ungkap Virgou sepenuh hati.
"Kau tak bosan mengucap kata itu, sayang?' tanya Ita menatap sang suami sambil mengelus rahang kokohnya.
"Tidak, sampai mati aku tak akan bosan," jawab Virgou tegas.
Puspita ingin bertanya lagi. Namun bibirnya langsung dibungkam oleh mulut pria itu. Kembali mereka berciuman.
Virgou memencet tombol. Maka tertutup lah tirai secara otomatis. Malam ini, Virgou membuat istrinya melayang.
mencumbunya terus hingga kepayahan dan merengek meminta lebih. Virgou yang sudah paham apa yang mesti dilakukan untuk menaklukan wanita di atas ranjang. Memulai keahliannya.
Ia memasuki Puspita dengan penuh kelembutan, hingga sang istri membuka mulut dan memejamkan mata menikmatinya.
Virgou benar-benar melakukannya dengan perlahan, bahkan dirinya sampai merinding karena perbuatannya itu. Sedang Puspita terus merengek meminta lebih.
"Sayang ... jangan menyiksaku!'
Alunan itu pun mulai datang secara perlahan. Semakin lama semakin kuat. Ita mulai merasakan seluruh syaraf di bawah sana berkedut tanda pelepasan akan segera datang.
"Sayang ....!'
"Puspita!'
Keduanya mengerang ketika titik itu terlewati. Kedua tubuh saling menempel seperti dilem.
Napas menderu, peluh bercucuran. Virgou belum puas. Kembali ia menyerang titik sensitif istrinya. Permainan itu pun kembali. Menyatukan cinta mereka.
bersambung.
dah ah ... masih sore ...
next?