
"Iya," panggil Darren di suatu sore.
Terra dan Haidar tengah menangani empat anak kembar mereka berdua.
"Iya, Kak," sahut Lidya menghampiri kakak laki-lakinya.
Darren menatap sayang adiknya itu. Adik yang selalu ia jaga segenap nyawanya. Ia ingat saat bersama Firsha, ibu mereka. Betapa di tiap jamnya, mereka dilingkupi ketakutan terutama jika sang ayah pergi meninggalkan mereka.
"Boleh Kakak minta tolong?" pinta Darren.
"Boleh, Kak," sahut Lidya.
"Tolong, kuatlah. Lawan orang-orang yang menyakitimu. Jangan diam," pinta Darren.
"Tapi, tenapa?" tanya Lidya.
Gadis kecil ini terkadang bisa fasih dalam berbicara kadang tidak. Darren memeluk sayang, adiknya.
"Karena kakak nggak selamanya bisa menjaga kamu," sahut Darren.
"Tapi, Kak. Kalau kita balas berarti kita sama jahatnya dong dengan mereka?' sela Lidya tak setuju.
"Tapi jika kau lemah. Mereka akan terus menyakitimu. Jangan biarkan itu terjadi, Dik!" sela Darren tak setuju.
"Jadi maksud Kakak gimana?" tanya Lidya.
"Maksud Kakak. Kamu jangan terlihat lemah, jangan mau disakiti. Kau harus kuat seperti Mama," jelas Darren lagi.
"Oh, begitu," Lidya mengangguk.
"Jangan biarkan orang menyakitimu. Lawan mereka jika mereka terus mendatangimu," nasihat Darren lagi.
Lidya mengangguk. Ia harus menjaga dirinya sendiri. Tiba-tiba Rion datang. Balita itu ikut nimbrung.
"Ion manti mawu lawan owang bahat!" sahutnya jumawa.
"Mau lawan bagaimana, Baby?" tanya Lidya sambil tersenyum.
"Ion batan putun owang bahat. Ion pendang patinya!" sahutnya dengan dagu terangkat.
Darren tertawa lirih melihat adiknya. Ia memangku Rion.
"Baby, kalau sudah besar. Jadilah dirimu orang jujur, baik hati dan tegas," nasehatnya.
"Pujul pa'a?" tanya Rion polos.
"Jujur itu tidak boleh bohong. Tidak boleh memutar balik fakta," jawab Darren menyindir Rion.
"Oh ... oteh," sahut balita itu entah mengerti atau tidak.
"Palo bawik bati ipu pa'a?"
"Baik hati itu tidak jahat, suka sayang sama Mama dan Papa juga sayang semuanya," jawab Darren.
"Ion pawan memuana," sahut balita itu sambil mengangguk.
"Iya, tapi ama Om Budi, Ion suka fitnah," sela Lidya tidak suka.
"Bitnah, pa'a?"
"Sama kek bohong. Memutar balik fakta," jawab Darren.
Rion pun tertawa mendengar penjelasan kakaknya.
"Ion suta bolon Om Pudi, Ion ba bowu pama Om Pudi," sela Rion.
"Kalo Baby ba bowu sama Om Pudi nggak boleh bohong. Kalo bohong bisa apa?"
"Belbosa!" sahut Rion.
"Nah, itu tau," sela Lidya.
"Bian emba pa'a-pa'a!" elak Rion.
"Nggak boleh sayang. Kalo ba bowu sama Om Budi nggak boleh bohong," sahut Darren tegas.
"Janji?"
"Banji!" sahut Rion.
Walau tak yakin dengan janji adiknya yang memang usil ini. Darren tetap percaya pada Rion.
"Kakak, besyot antelin Iya daftal silat, sama Kakak ya," pinta Lidya.
"Boleh," sahut Darren menyanggupi keinginan adiknya.
"Ion mawu dudha bilat!' sela Rion semangat.
"Iya, besok kita latihan bareng ya," ajak Darren.
Baik Lidya dan Rion bertepuk tangan. Terra melihat dan mendengar semua percakapan ketiga anaknya itu. Ia pun mendatangi mereka dan memberi kecupan.
"Mama ... Om Pudi mana?"
Terra juga tak melihat dari tadi pria itu. Ia pun menggeleng menjawab tidak tahu.
"Om Pudi!' teriak Rion memanggil.
Balita itu mencari hingga teras. Biasanya pria itu duduk di sana.
"Om Pudi!" pekiknya lagi.
Sosok yang dicari Rion pun muncul. Membawa satu paper bag. Entah apa isinya. Rion memicingkan matanya.
"Ipu pa'a?" tunjuknya pada paper bag yang Budiman bawa.
"Oh ini kertas, Tuan Baby," jawab Budiman.
"Bihat!" pinta Rion.
Budiman menggaruk pelipisnya. Ia sedikit malu jika harus menunjukan sesuatu yang baru saja ia beli. Terlebih pada Rion.
"Mama, Om Pudi pewit!" adunya kemudian.
Budiman jadi salah tingkah. Terra dan Haidar keluar ketika mendengar teriakan Rion.
"Ada apa, Baby?" tanya Haidar.
"Om Pudi pewit Papa. Emba mawu pasih bihat ipu!" adunya sambil menunjuk benda yang dipegang oleh Budiman.
Darren hanya bisa menghela napas panjang. Baru saja ia menasehati adiknya agar tidak memutar balik fakta. Rion melakukannya. Walau apa yang dikatakan Rion benar adanya.
"Baby," peringat Darren.
"Belnel Ata'. Om Pudi pewit!" sanggahnya mempertahankan argumennya.
Haidar dan Terra juga penasaran apa yang dibawa oleh pengawalnya itu. Lidya mendekati dan menatap Budiman dengan tatapan bulatnya. Tak ada yang sanggup menahan tatapan Lidya. Budiman akhirnya membuka paper bag bawaannya. Sebuah kertas surat warna biru plus harum. Terra dan Haidar menutup mulut menahan tawanya.
"Wah, teltasnya bagus sekali!" pekik Lidya girang.
"Buat, Iya, ya Om Budi," pintanya penuh harap.
Budiman pun mengangguk. Menyerahkan kertas surat itu pada Lidya. Rion menatap kertas itu. Lalu menatap pria yang kini bahunya turun dengan helaan napas panjang. Haidar tak dapat menahan tawanya. Terra mengajak Lidya dan Darren masuk.
"Sorry ya Bro," ujar Haidar menepuk bahu Budiman.
Budiman hanya tersenyum. Ia pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Pria itu duduk di kursi. Rion mendatanginya.
"Ban pabal ya blo!" sahut Rion menepuk paha Budiman.
Haidar tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Rion. Budiman mencium gemas balita itu.
bersambung.
ban pabal ya blo!
next?