
Hari ini,.Lidya tengah menikmati bekal makan siangnya.. Putri tidak satu kelas lagi dengannya. Sahabatnya itu berada di kelas empat B. Sedang Lidya berada di kelas empat A.
Putri datang ke kelas Lidya. Kini, bocah perempuan itu juga membawa bekal makan siangnya.
"Hai, Dya. Kamu udah makan duluan ya?' Lidya menoleh.
"Hi, Put. Iya nih, tadi sarapannya cuma roti jadi siang gini udah laper," jawabnya.
"Hehehe ... aku tadi sebenarnya mau tukeran bekal ama kamu, tapi udah makan duluan. Ya, udah besok yaa," ujar Putri terkekeh.
Ia membuka kotak makannya. Nasi putih lengkap dengan sayur dan lauknya. Ia pun memakannya setelah mengucap doa.
"Wih ... enak ya Putri sekarang. Udah bisa bawa bekal. Dulu boro-boro bawa, kadang dia nemoek sama Lidya kek cecak!” ledek Nina, salah satu murid kelas empat.
Putri tak peduli. Ia masih nikmat dengan makanannya. Nina, yang diabaikan pun kesal. Ia pun menggumpal kertas bekas bungkus gorengan, lalu melemparnya. Siapa sangka, gumpalan kertas itu masuk dalam kotak makan Putri.
Nina tertawa senang.
"Tuh, makanan kamu. Sama dengan sampah!" ujarnya menghina Putri.
Lidya yang belum selesai makan mulai sudah tidak tahan lagi menahan emosinya. Ia pun meletakkan sendok, kemudian berdiri lalu menatap Nina.
"Kamu kenapa sih Nin? Kenapa kamu gangguin Putri terus??" tanya Lidya kesal. "Apa salah Putri ke kamu!"
"Cis ... ngapain sih kamu belain dia. Nggak ada untungnya tahu!" sergah Nina mencibir.
"Kamu keterlaluan, Nin. Kamu tahu apa yang kamu lakuin itu benar-benar di luar batas kemanusiaan!" bentak Lidya.
"Kamu tahu, kalau makanan itu dibeli dengan Uang?!" sergah Lidya lagi. "Kamu tahu, berapa kilo baju yang mesti Ibunya Putri cuci untuk bisa makan enak seperti itu?"
Nina acuh. Ia masa bodo. Ia pun mengambil roti yang juga ia beli tadi selain gorengan. Lidya merebut roti itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Itu makanan aku Lidya!" bentak Nina marah.
"Itu tadi juga makanan Putri!" Lidya balas membentak Nina.
"Bagaimana rasanya. Jika pembuatanmu langsung kubalas seperti itu?!' seru Lidya dengan wajah memerah karena emosi.
"Dya," panggil Putri sendu.
"Jangan samakan dirimu dengan dia. Kertasnya bisa dibuang kok. Nggak apa-apa," ujarnya lagi.
"Ini nggak bisa Putri!"
"Nggak apa-apa, Dya," ujar Putri menenangkan sahabatnya.
"Kok enak gitu sih. Gantiin roti aku!" seru Nina tak terima.
"Berapa?" tanya Lidya dengan nada pongah.
"Sepuluh roti aku belikan untuk mengganti rotimu tadi!" lanjutnya masih marah.
"Lidya!" tegur ibu guru yang tiba-tiba datang, karena sebentar lagi masuk kelas.
Datangnya ibu guru pun dimanfaatkan oleh Nina untuk mengadu.
"Bu, Lidya sombong Bu. Dia buang roti saya ke tempat sampah. Trus mau gantiin dengan sepuluh roti. Mentang-mentang anak orang kaya."
"Apa benar, itu Lidya?" tanya ibu guru dengan nada tidak suka.
Nina tersenyum sinis. Lidya bukan orang yang suka berbohong.
"Iya, benar saya katakan itu."
"Kenapa begitu. Ibu rasa Mama mu tidak mengajarkanmu sombong!" tegur ibu guru lagi.
"Memang. Tapi, apa ibu tidak menanyakan alasan saya kenapa berbuat seperti itu?" tanya Lidya.
"Kalau salah ya salah Lidya. Tidak ada pembelaan!" ujar Bu guru tegas.
"Baik kalau begitu saya juga akan mengadukan dia karena telah melempari makanan teman saya dengan sampah!" seru Lidya.
"Apa benar begitu, Nina?"
"Tidak Bu. Lidya bohong!" elak Nina tentu dia yang berbohong.
"Nina tidak mengaku, jadi Ibu percaya dia tidak melakukannya!"
"Nina!" bu guru memandang Nina dengan tatapan menyelidik.
Nina masih menyangkal perbuatannya. Lidya makin kesal. Ia melihat sudut ruang kelas ada kamera pengawas.
"Bu. Apa kamera itu berfungsi?" tanya Lidya menunjuk kamera tersembunyi.
Bu guru menoleh. Lalu ia pun mengangguk dan paham maksud Lidya. Nina makin tak berkutik ia tak bisa mengelak.
"Habis saya kesal sama Putri, Bu. Dia cuekin saya!" Nina membela diri.
"Dia berbuat tentu ada alasannya," jelas Bu guru.
"Loh, tadi bukannya kata Ibu tidak ada alasan untu satu kesalahan. Kesalahan tetap kesalahan. Saya masih ingat dengan jelas loh, perkataan Ibu tadi!" sergah Lidya tak terima.
Bu guru menelan saliva kasar. Ia lupa jika kini tengah berhadapan dengan murid paling cerdas di sekolah ini. Ia juga sangat genius.
"Sudah, sudah. Kalian minta maaf ya. Jangan perpanjang lagi urusan ini!" seru Bu guru pusing dengan. masalah yang terjadi.
"Toh, Putri tidak masalah dengan makanannya yabg dikotori, iya kan Put?"
Putri menatap pilu makanan yang dengan sudah payah ibunya buat. Benar kata sahabatnya tadi. Ibunya harus mengumpulkan keuntungan yang banyak untuk bisa memasak semewah ini.
Bel berbunyi tanda masuk kelas. Putri dipaksa keluar ruangan kelas empat A. Jam pelajaran sudah dimulai. Lidya pun makin kesal, tidak ada keadilan untuk anak-anak seperti mereka.
Para orang dewasa hanya memikirkan masalah mereka sendiri. Putri menutup kembali kotak bekalnya setelah membuang kertas sampah yang dilempar Nina.
"Nanti, kasih kucing liar aja, dari pada mubazir nggak ada yang makan," ujarnya bermonolog.
Lidya tidak fokus dalam pelajarannya hari ini. Ia tak banyak menjawab soal yang diajukan oleh guru. Gadis kecil itu masih kesal dengan ketidak adilan ini.
"Nanti, kamu harus ganti roti yang kamu buang, ya!" titah bu guru.
"Lalu, apa Nina akan mengganti makanan Putri yang ia kotori Bu?" tanya balik Lidya.
"Loh, kan Nina tidak sengaja," sahut Bu guru membela.
"Saya juga nggak sengaja," balas Lidya.
"Lidya. Kenapa kamu jadi ini jadi pembangkang ya. Jika begini, Ibu akan laporkan ini pada Mamamu!" ancam Bu guru.
"Silahkan, Bu. Saya yakin Mama saya tahu jika saya ingin mencari keadilan di sini!' tandas Lidya tidak takut akan ancaman gurunya.
Bel pulang pun berbunyi. Lidya pun berjalan dengan muka datar dan dingin. Banyak teman yang menyapanya tapi dianggap angin lalu oleh gadis kecil itu.
"Dya, jangan kayak gini dong. Aku jadi nggak enak sama yang lain. Sudah lah, lupakan saja, ya," pinta Putri.
Lidya menatap wajah permohonan sahabatnya itu. Ia sangat tahu, Putri merasa rendah diri. Ia masih beranggapan tidak masalah orang menghina anak miskin seperti dirinya.
"Jika kamu begini terus. Orang akan menindasmu, Put!' seru Lidya menyadarkan sahabatnya.
"Jika kamu tidak menghargai diri kamu sendiri. Lalu siapa yang akan melihat kamu?" serunya sambil mencengkram erat kedua bahu sahabatnya.
"Kau tidak akan pernah sukses jika membiarkan orang lain menindasmu!' bentaknya putus asa.
Putri menunduk. Semua perkataan Lidya benar adanya. Ia tak bisa terus menundukkan kepala.
"Ada aku di sini. Aku akan terus mendukungmu jika kau ingin maju. Tapi, jika tidak. Aku akan berhenti," putus Lidya menurunkan tangannya dari bahu Putri.
"Apa aku bisa pegang kata-kata mu?' tanya Putri ingin meyakinkan dirinya.
"Semua kembali padamu, Put!" sahut Lidya.
Putri pun mengangguk, ia memantapkan diri untuk melawan semua yang menindas dirinya. Lidya pun merangkul bahu sahabatnya. Mereka pun menuju tempat parkir.
"Om Reza, bisa tolong anterin Putri pulang dulu, nggak?" pinta Lidya dengan tatapan penuh permohonan.
"Tentu Nona," sahut Reza mengabulkan permintaan nona kecilnya.
Lidya pun mengajak Putri masuk mobil golf. Kemudian kendaraan dinamo roda empat itu pun meninggalkan halaman parkir sekolah. Rion sudah pulang jam sepuluh pagi tadi.
bersambung.
ih ... Lidya keren kamu nak!
next?