
Semenjak kejadian itu. Kini Khasya dan Herman sangat berhati-hati mencari baby sitter baru. Sedang Virgou dan Puspita bersyukur, Yuyun, Inah dan Nunik sayang dengan kelima anak mereka, walau seusil apa pun kelakuan keempat anaknya yang sudah aktif.
Sedang Terra juga merasa bersyukur. Selain, ia juga mengurus sendiri semua buah hatinya. Ada Rion si ketua bayinya. Adik yang menjadi putranya itu sangat bisa diandalkan untuk menjaga adik-adiknya. Sudah itu, semua pekerja dan pengawal begitu menyayangi anak-anaknya. Padahal, tingkah mereka benar-benar membuat Terra harus terus mengelus dada. Seperti hari ini.
"Om Duan, Om Belix!" panggil Nai.
Arimbi tengah duduk dipangkuan Terra. Gadis kecil itu tengah manja. Sedang ke enam saudara laki-lakinya tengah menganggu pengawal lainnya.
"Iya, Nona!" sahut Juan dan Felix mendatangi putri dari klien mereka.
"Tautah peulpedaan antala delap dan telan?' tanya Nai.
Keduanya saling pandang. Mereka berusaha mencerna perkataan nona kecil mereka. Robert yang sangat paham bahasa balita langsung mendatangi keduanya. Ia juga mau ikut digombali oleh Nai, nona kecil mereka.
"Saya tidak tahu, Nona. Apa perbedaan gelap dan terang itu," jawabnya yang kini baru dimengerti Felix dan Juan perihal perkataan Nai.
"Talo delap itu, tetita tat ada tamu dan telan itu tetita tamu ada menelani hatituh!" jawab Nai.
Robert meleleh mendengar gombalan Nai. Sedang Juan dan Felix masih berusaha keras mengartikan perkataan, Nai. Begitu, mereka mengetahui apa maksud gadis kecil itu. Keduanya langsung berseri-seri.
Terra hanya menggeleng kepala melihat betapa centilnya putrinya itu.
"Pa, kalau kau lihat betapa genitnya putrimu sekarang. Kau pasti akan memecat semua pengawal ini," gumam Terra pelan.
"Mama, nomon sama spasa?" tanya Arimbi yang masih bermanja dengannya.
"Tidak ada, sayang," jawab Terra berbohong.
Memang anak-anak kini berada di rumahnya. Mereka diantar oleh Herman dan Virgou, dan akan menjemputnya sore nanti. Ibu mereka tidak ikut. Makanya Terra yang menjaga mereka sebelum Rion pulang.
Rasya dan Radit kini sedang asik menyemburkan ludah dan memainkan kaki mereka. Terra membawa dua bayinya dan diletakkan dalam stroller mereka.
"Mama, bohon ipu belbosa loh!' peringat Arimbi.
"Ish ... cewet yaaa," ujarnya lalu menciumi Arimbi hingga tergelak.
Sedangkan Nai masih asik dengan gombalannya. Ketiga pria yang terkena virus gombal Nai, kini memandang penuh pemujaan pada gadis kecil itu.
"Nona, apa kah kau tahu bedanya harum bunga mawar dan harum bunga melati?" tanya Felix kini bergantian.
Nai menggeleng pelan.
"Endat pahu."
"Keduanya kalah harum dengan Nona," jawab Felix.
Nai langsung tersenyum lebar. Ia menakup kedua pipinya dengan tangan dan menggoyangkan badannya. Felix gemas bukan main, begitu juga dengan Juan dan Robert.
"Kau cantik sekali, Nona. Andai kau sudah dewasa. Aku akan memastikan tidak ada satu pria pun yang akan sembarangan bisa mendekatimu!" janji Juan yang disertai anggukan kedua rekannya.
Terra makin menghela napas panjang. Bertambah lah pria-pria posesif yang akan menjaga putrinya. Tetapi, ia senang. Dengan begitu, putrinya akan aman.
"Om, Bobet, Om Duan, Om Belits ... pautah entau peulpedaan tanan panan dan tanan tili?" ketiga pria dewasa itu menggeleng.
"Talo tanan panan Nai imi hatina Nai untut Om pemuana," jawab Nai, lalu menyerahkan tangannya pada ketiga pria dewasa yang langsung diciumi gemas.
"Kalo tangan kirinya?" tanya Juan penasaran.
"Talo tanan tili Nai, ini dantun Nai untut pemuana," jawab Nai juga menyerahkan tangan kirinya.
Ketiga pria dewasa itu langsung terharu. Mereka sangat tahu jika.Nai tak mengerti apa yang dikatakannya. Tetapi, perkataan manis nona kecil mereka membuat ketiganya sangat bahagia dan langsung bersumpah untuk menjaga Naisya dengan nyawa mereka.
Gara-gara gombalan Nai. Semua penjaga ingin juga merasakan digombali gadis kecil itu. Arimbi yang bingung kenapa saudarinya banyak dikelilingi oleh pria dewasa mendatanginya. Sedang Terra hanya bisa melongo.
"Nona, tahukah engkau persamaan madu dan gula?" tanya Hendra.
"Syama-syama banis!' jawab Kean antusias.
Hendra menggaruk kepalanya. Robert sudah tertawa terbahak-bahak. Ia paling tak bisa menahan tawanya. Sedang yang lain mengulum senyum.
"Iya, benar sih sama-sama manis. Sama manisnya dengan Nona Nai dan Nona Arimbi," jelas Hendra kemudian.
"Alimbi butan dula," sahut Arimbi dengan wajah polosnya.
Kini, Juan, Felix yang tertawa terbahak-bahak. Robert sudah lemas memegang perutnya yang kram. Sedang yang lainnya masih mampu menahan tawa mereka. Hendra lagi-lagi tersenyum kecut. Terra yang mendengarnya pun nyaris terpingkal.
"Yang sabar ya, Kak," ujar Terra pada Hendra yang tak bisa berkutik.
"Ih, bialin aja sih. Meleta ipu dombalin loh. selu!' bela Nai pada kesemua pengawalnya.
"Eman dombal meusti beditu ya?' tanya Al ingin tahu.
"Iya, talo telempuan dombalin lati-lati ... lati-lati dombalin belemtuan," jelas Nai.
"Oh, talo dithu, Kean dombalin Mama, ah," sahut Kean lalu ia pergi ke Terra, diikuti kelima saudara laki-lakinya yang lain.
"Mama, tahu tah entau beulsyamaan pulan dan batahali?" tanya Kean mendahului.
"Tidak Baby," jawab Terra sambil mengulas senyum. Ia telah mengambil ponsel dan melakukan siaran langsung di grup chat familly.
"Talo pulan ipu menelani balam, talo batahali menelani padhi. Syama taya Mama yan syelalu menelani," jawab Kean.
Terra langsung terharu mendengar gombalan putra kakaknya itu. Ia menariknya dan memberikan hadiah banyak ciuman. Melihat video chat gombalan anak-anak pada Terra. Membuat semuanya jadi ingin ikut-ikutan.
Semuanya langsung pulang cepat. Bahkan Puspita dan Khasya sudah langsung menuju rumah Terra bersama anak-anak mereka.
Dimas, Maisya dan Affhan hanya bengong saja. Kemarin mereka ditinggal begitu saja ketika mendengar keributan di atas. Beruntung Ani dan Romlah berada di sana dan langsung bermain dengan ketiganya.
"Ipu meleta napain?' tanya Affhan pada dua saudaranya.
"Beundat pahu. Ladhi noblolin wowang muntin?" jawab Dimas.
Ketiganya memilih mengambil mainan dan bermain. Sedangkan para ibu meminta digombalin oleh putra mereka. Para pengawal pun kembali pada tugasnya, karena mulai takut ketika ayah dua nona mereka datang. Mereka akan mendapat masalah besar.
"Mommy, Punda, Mama. Pahu tah entau beulsyamaan padhi dan balam?' tanya Satrio kini.
Terra, Khasya dan Puspita menggeleng.
"Syama-syama ada yan menelani seupelti Mama dan Papa. Mommy dan Daddy judha Punda dan Ayah," jawab Satrio.
"Oh baby," sahut ketiga wanita itu tersentuh.
Sedangkan para bayi, Rasya, Rasyid, Dewa, Dewi dan Kaila kini mulai mengobrol satu dengan lainnya, yang tentu dengan bahasa mereka.
"Wah, kalian juga mau ngegombal ya?' tanya Puspita pada kelima bayi yang hanya beda bulan itu.
Nai dan Arimbi sudah bergabung dengan tiga adiknya semenjak, para ibu meminta saudara laki-lakinya menggombal.
bersambung.
Readers ... tahukah kalian kenapa Othor tertawa dan tersenyum?
karena Othor bahagia diberi vote, Like, Koment and gift dari kalian.
next?