TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BUDIMAN MELAMAR GISEL



Sudah satu hari mereka kembali bertugas. Tetapi ketua pengawal masih diemban Gio. Budiman memilih jadi supir Terra dibanding pengawal. Hari ini ia mengajukan cuti selama dua minggu.


"Kamu baru kerja, udah minta cuti aja!" sentak Haidar kesal.


"Potong gajinya, sayang!" sarannya lagi pada sang istri.


Terra hanya memutar mata malas. Budiman acuh dengan ancaman Haidar. Pria itu sudah mengurus semuanya.


"Jadi Kakak benar-benar mau melamar adikku, Gisel?" tanya Terra serius.


"Iya, benar Te. Aku akan melamar adikmu segera. Biar nggak ada yang lirik-lirik dia lagi!" jawab Budiman tegas.


"Baiklah. Te, hanya bisa mendoakan saja agar semuanya lancar," ujar Terra memberi ijin.


Budiman mengangguk. Bart sudah berkali-kali meneleponnya. Pria renta itu sudah mengetahui jika dirinya sudah selesai masa tugas dan sudah kembali bekerja pada Terra sebagai supir cucunya itu.


Gisel sudah berusia dua puluh satu tahun. Ia bekerja sebagai kepala IT di perusahaan Terra. Gabe sudah menjadi CEO di sana. Terra kini hanya di belakang layar, mengawasi perusahaan.


"Jadi kapan kamu berangkat?" tanya Haidar.


"Besok pagi, Kak," jawab Budiman.


Terkadang Haidar geli mendengar panggilan Kak dari mulut Budiman. Tapi, karena memang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.


"Persiapkan dirimu. Aku menebak, kau akan langsung disuruh menikah secepatnya di sana!" ujar Haidar lagi.


Budiman mengangguk. Bahkan ia sudah menyiapkan mental untuk kejadian terburuk. Ditolak lamaran, misalnya. Tetapi ia langsung beristighfar, berdoa lamarannya diterima


"Aku sudah siapkan semua. Mental juga uang yang banyak," ujarnya.


Haidar menepuk pundaknya. Terra juga demikian. Rion yang baru pulang pun bertanya.


"Ma, emang ada apa kok pake peluk-peluk Om Pudi?"


Pria kecil itu masih memanggil Pudi. Entah kenapa, ia masih senang memanggil pria dewasa di depannya dengan nama itu. Budiman pun tak keberatan sama sekali. Toh, hanya Rion dan semua adik-adiknya yang memanggilnya nama itu.


Ah tidak, baby Dimas, baby Maisya dan baby Affan saja yang memanggilnya "Pom Dudi.".


"Om Budi mau melamar Kak Gisel, Baby," jelas Terra.


"Kenapa nggak ngucap salam dulu?" tegur Terra.


"Assalamualaikum, Ma,Pa, Om Budi. Maaf," salamnya sambil terkekeh. Ia lupa.


"Wa'alaikum salam," balas ketiganya.


"Jangan biasakan ya?!" ujar Terra.


"Iya, Mama," Rion pun mencium punggung tangan ketiga orang dewasa.


"Jadi Om Pudi mau melamar Kak Gisel?" Budiman mengangguk dengan senyum mengembang.


"Emang Kak Gisel mau gitu?" tanya Rion usil. Haidar tertawa senang mendengar keusilan Rion.


"Pastinya dong. Kan Om ganteng," jawab Budi dengan percaya diri tinggi.


"Widih ... pede sekali. Ya, udah Ion doain biar semuanya lancar ya," doa Rion tulus.


"Aamiin," semua mengamini doa Rion.


Besok hari. Budiman sudah berangkat ketika matahari belum tampak. Dengan menggunakan taksi daring ia pun pergi ke bandara di mana, ia telah menyewa jet pribadi milik Bram.


"Sudah, kau gunakan saja salah satu pesawat. Tak usah bayar," ujar Bram ketika Budiman menyewa salah satu jet pribadi miliknya.


"Tidak bisa, Pa," kini Budiman sudah memanggil Bram Papa. Pria itu menyuruhnya.


"Namanya bisnis ya bisnis. Jadi, mohon diterima uangnya," ujar Budiman ketika menyodorkan uang seratus ribu rupiah padanya.


"Astaga! Kau ini!" Bram memukul Budiman yang ternyata hanya mengerjainya.


Budiman terkekeh mengingatnya. Ia pun berangkat menuju benua Eropa di mana di sana Bart sudah tidak sabar menunggunya. Bahkan Gisel sudah lebih dulu sampai.


"Besok, mertua mu akan pulang. Kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Bart. Budiman mengangguk.


"Bagus. Sekarang kau istirahat, sebentar lagi kita makan malam," titah Bart yang langsung dilakukan oleh Budiman.


Sehabis membersihkan diri. Seperti biasa, pria itu tak memakai atasan, hanya celana bokser berwarna hijau tua. Tercetak jelas otot-otot di dada pria itu. Istilah roti sobek pun tergambar nyata.


Pria itu merebahkan dirinya di ranjang super size. Tangannya diangkat sebelah, hingga membuat otot di dadanya bertonjolan. Sungguh memukau mata. Netranya terpejam.


Dua jam ia beristirahat. Kini dua pria beda usia tengah menyantap makan malam mereka. Menu western jadi hidangan pengganjal perut keduanya.


Budiman tidak asing dengan makanan seperti itu. Ia terbiasa karena suka menemani Terra makan jika ada pertemuan di sebuah restoran internasional.


Mereka berbincang sebentar mengenai diri Budiman. Pria itu pun mengakui siapa dirinya.


"Saya lahir dari keluarga berantakan. Ayah saya peminum dan penjudi, ibu saya berubah menjadi perempuan penjaja kenikmatan. Saya lari dari rumah karena tak tahan disiksa ...."


Budiman menceritakan semuanya tanpa kecuali. Bart menepuk punggungnya. Ia memeluk pria yang sebentar lagi akan menjadi cucu menantu.


"Sudah, biar masa lalu jadi pembelajaran kita ke depan. Semua pasti ada hikmahnya," ujar Bart.


Budiman mengangguk. Kini keduanya pun berada di kamar masing-masing. Sudah seharian ini dia tak saling memberi kabar pada kekasihnya. Budiman mengambil benda pipih.


Ia pun mengirim sebuah chat pada gadis pujaannya. "My lovely"


(Hi, assalamualaikum, selamat malam, sayang. Aku sudah berada di rumah Kakekmu, apa kau tahu?)


My lovely mengetik ....


(Wa'alaikum salam. Malam juga calon imamku. Ya, aku tahu kau sudah ada di sana. Grandpa memberi tahuku.)


(Apa kau gugup. Jujur, aku tak bisa memejamkan mataku, mengingat besok aku melamarmu.)


My lovely mengetik ....


(Tidurlah Bang. Aku tak mau besok kau terlambat semenit pun. Bismillah, Sayang.)


(Baik lah calon istriku. Aku tidur agar tak terlambat. Assalamualaikum.)


My lovely mengetik ....


(Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam, sayang. Selamat tidur. I love you)


(I love you more).


Budiman menyudahi chat setelah jawaban terakhir bertanda dua centang biru. Gisel tak lagi membalas chatnya. Gadis itu benar-benar menjaga dirinya. Mereka tak mau berlarut-larut dengan tulisan yang aneh-aneh.


Pagi pun menjelang. Bart sudah gelisah dalam mobil. Padahal, Budiman yang hendak melamar cucunya hanya duduk dengan tenang. Walau jantung pria itu kini berdetak dengan kencangnya.


Butuh waktu empat puluh lima menit mereka baru sampai mansion Leon. Budiman dan Bart disambut hangat oleh Leon. Patricia pun ada di sana, sebagai ibu dari Gisel tentu dirinya juga ingin menyaksikan putrinya dilamar. Walau ia tidak begitu menyukai pilihan sang putri. Tetapi ia tak bisa berkutik setelah Leon menceraikannya lima tahun lalu.


Budiman duduk di hadapan Gisel yang diapit oleh kedua orang tuanya. Dengan suara penuh ketegasan ia pun memulai pembicaraan.


"I have come here to propose to Master's daughter, Leon Dougher Young," (saya datang ke sini untuk melamar putri dari tuan Leon Dougher Young). tegas Budiman. "Your daughter's name is Gisella Elizabeth Dougher Young"


"I am happy with this application. I completely leave it to my daughter." (Saya senang dengan lamaran ini. Selanjutnya saya serahkan pada putri saya) sahut Leon dengan senyum lebar.


"Bagaimana, apa kau menerimanya sebagai suamimu?" tanya Leon dengan bahasa Indonesia.


Dengan wajah merona ia pun mengangguk.


"Iya, Gisel mau. Gisel menerima lamaran ini. Yes I do Bang Budiman!"


bersambung.


Alhamdulillah ... diterima.


patah hati Othor 😭


next?