
Lima hari lagi ulang tahun Rion. Remaja itu kini sudah tujuh belas tahun. Semakin tampan, perpaduan Terra dan Virgou menjadi satu. Mata coklat terang, dengan tatapan dingin dan menusuk. Ia hanya tersenyum untuk keluarganya. Banyak gadis patah hati dan menangis dibuatnya.
"Rion, aku suka kamu," ungkap salah satu gadis dengan wajah malu-malu.
"Aku nggak!" sahut Rion tegas dengan muka datar.
Gadis itu terdiam. Lalu tersenyum.
"Aku akan menunggumu sampai kau suka sama aku," ujarnya yakin.
"Jangan jadi benalu di jalanku, kau tau? Aku bisa kasar mencabut benalu itu!" ancam Rion sarkas.
"Rion ...."
"Pergi! Sebelum aku makin kasar padamu!" usir remaja itu.
Gadis itu menunduk dengan air mata berlinang. ia pun berlari sambil berteriak.
"Kamu kejam, Rion!"
Setelah gadis itu menjauh, Rion menghela napas panjang.
"Merepotkan. Kenapa, hanya, Mama, Bunda, Mami, Mommy dan Bommy aja perempuan bener di dunia ini?" tanyanya heran.
Rio, Felix dan Robert bersamanya. Remaja itu sedang mengambil studi S2nya. Ia berada di kampusnya.
"Tuan Baby," panggil Rio.
"Ck ... kapan kalian tak memandangku bayi lagi?" keluh Rion kesal.
Rio hanya tersenyum mendengar keluhan tuan babynya. Pria itu hanya beda dua belas tahun dengan Rion. Tentu ia sangat mengenal remaja itu ketika berusia lima tahun. Rio memang masih remaja ketika bergabung di kesatuan pengawal Terra. Sebagai anak buah Gio.
"Sudah kebiasaan, Tuan," jawab Rio. "Saya yang antar jemput Tuan dari taman sekolah anak-anak!"
"Ah, ternyata Om Rio sudah tua juga," kekeh remaja itu.
Rio membungkuk hormat. Felix dan Robert juga hanya berbeda tiga belas tahun dengan Rion. Semuanya masih lajang.
"Jangan terlalu galak dengan gadis, Tuan Baby. Ini sudah ke dua puluh lima gadis yang menangis karena penolakan Tuan Baby," tegur Robert.
"Ion susah bermanis-manis, Om, gimana dong?"
Robert hanya menghela napas panjang.
"Trus, Om bertiga kenapa belum nikah?" celetuk Rion.
"Belum nemu yang pas. Pengennya nunggu Nona Nai atau Nona Arimbi," jawab Felix santai.
"Kau ingin menikahi dua adik kesayanganku?" tanya Rion dengan muka galak.
"Eh ... anu ... itu," Felix gelagapan.
"Kita akan bertanding gerobak sodor besok. Siapkan Tim mu!" tantang Rion.
Felix menelan saliva kasar. Tentu ia bisa membayangkan betapa sulitnya tantangan remaja itu untuk dimenangkannya.
"Baik!" sahutnya tegas.
Rion tersenyum miring. Remaja itu kini berukuran 189cm dengan bobot 81kg. Sangat ideal dan juga tampan. Rio dan Robert menatap rekan kerjanya.
"Kau yakin?" tanya keduanya berbisik.
"Ya, lebih baik berusaha walau hasilnya nanti diluar ekspektasi," jawab Felix lemah.
Ketiga pengawal itu pun diam. Tiba-tiba beberapa pria menghadang tuan baby mereka.
"Lo, namanya Rion bukan?" sentak pria berbaju putih dengan tulisan rolling stone.
"Iya emangnya kenapa?" sahut Rion malas.
Tampak gadis yang tadi menyatakan perasaannya berlindung di belakang pria itu.
"Oh, jadi ini kelakuanmu Diyah?" tanya Rion pada gadis yang masih sibuk mengusap air matanya.
"Kau membuat adikku menangis!" sentak pria yang ternyata kakak gadis itu.
"Gini, Kak. Jika aku menerimanya dan pura-pura mau sama dia, apa itu tidak lebih membuatnya sakit hati?" sahut Rion bertanya.
"Apa kau ingin aku pura-pura mencintaimu, begitu Diyah?" tanya Rion tak percaya.
Rion adalah pendrama. Sedari bayi, remaja itu paling suka berdrama, bahkan mampu menciptakan dongeng ala dia.
"Dan kau sebagai kakak, apa rela adikmu aku permainkan?" tanya Rion lagi pada pria yang menatapnya gusar.
Sedang Rio, Felix dan Robert hanya berdiri di belakang tuan baby mereka. Sandi mulai terbuka pikirannya.
"Dek, Rion benar, ia akan lebih menyakitimu jika pura-pura," ujarnya lembut.
"Tidak apa-apa, Kak, jika Rion harus berpura-pura mencintaiku, aku yakin bisa membuatnya jatuh cinta sungguhan!" sahut gadis itu keras kepala.
"Kakak dengar sendiri kan jawabnya. Apa itu namanya cinta, Kak?" tanya Rion gusar.
"Apa mau seumur hidup adik kakak dicintai dalam kepura-puraan? Karena sesuatu yang palsu itu tak pernah bertahan lama!" ujar Rion dengan penuh kekecewaan.
"Kita pulang dan hentikan tangisanmu!" ajak Sandi menarik tangan adiknya.
"Kamu mau kakakmu memukulku?" tanya Rion tak percaya.
"Baik, jika itu membuatmu puas dan berhenti menggangguku setelah itu!" tekan Rion.
Remaja itu pun mendatangi Sandi.
"Pukul aku hingga adikmu puas, Kak!" pinta Rion lalu merentang tangannya.
Sandi mengepal tangan kuat-kuat. Sungguh, harga dirinya tercoreng akibat aduan adik yang keras kepala dan memaksakan kehendaknya.
Pak! Tamparan pelan mendarat di pipi Rion. Lalu, ia pun berbisik.
"Maafkan Adikku, dia tak akan mengganggumu lagi," ujarnya.
"Kak, kok cuma gitu?" sentak Diyah tak terima.
Sandi memanggul adiknya di bahu dan membawanya ke mobil. Diyah meronta dan menangis.
"San, kita nggak jadi gebukin nih orang?!" tanya salah satu teman pria itu.
"Nggak. Lu pulang semua!" titah Sandi.
Pria itu masuk mobil. Sedang ketiga temannya hanya memandang Rion sinis.
"Selamet Lo kali ini!" serunya Sik jagoan.
Rion menatap ketiganya dengan tenang.
"Tuan Baby, anda tidak apa-apa?" tanya Rio gusar.
Sedari tadi ketiga pengawal itu menahan amarahnya. Mereka ingin sekali menghajar pria-pria yang memandang tuan mereka dengan pandangan rendah. Ketiga orang itu pun pergi meninggalkan Rion.
"Ya, Om. Ayo, kita pulang," ajak remaja itu.
Keempat pria itu pun pergi meninggalkan kampus. Di dalam mobil remaja itu membayangkan dirinya di posisi Sandi, kakak Diyah. Mungkin ia akan berlaku sama.
"Aku yakin, Nai, Arimbi dan Kaila tidak kecentilan seperti Diyah," gumamnya.
Sampai rumah, ia mengucap salam. Terra menjawab salam. Wanita itu mengusap perutnya yang sudah membuncit.
"Ada apa sayang?" tanyanya ketika melihat wajah putranya yang seperti melamun.
"Nggak apa-apa, Ma," jawab Rion lalu mengusap perut ibunya.
"Arrghh!" tiba-tiba Terra mendesis kesakitan.
"Mama!" pekik Rion.
"Sepertinya, Mama mau melahirkan!" ujar Terra mengejutkan Rion.
Haidar sedang keluar kota, begitu juga Kakaknya. Nak, Sean, Al dan Daud belum pulang kuliah. Rasya dan Rasyid berlarian mendengar teriakan ibu mereka. Lidya datang, mengucap salam.
"Mama!" panggilnya.
"Kak, kita harus bawa Mama ke rumah sakit!" tukas Rion.
"Kakak ambil perlengkapan Mama dulu!" ujar Lidya.
"Biar Rasya!" ujar bocah lelaki kelas empat SD itu.
Rion memapah ibunya ke mobil. Melihat nyonya mereka dipapah, Gio langsung berlari membuka pintu mobil. Rion dan Terra masuk.
"Tunggu, Kak Iya!"
Gio memanaskan mobil. Lidya berlari sambil berteriak pada dua adik kembarnya.
"Jaga rumah dan nanti telepon Papa!"
"Iya, Kak!" sahut Rasya dan Rasyid kompak.
Lidya duduk di depan membawa tas lumayan besar. Mobil itu pun melaju cepat menuju rumah sakit.
Tak lama, ketiganya berlarian di lorong rumah sakit, Terra sudah mengerang kesakitan. Ia sudah mengalami pecah ketuban.
"Sudah pembukaan sempurna. Ibu bisa ganti baju OK dulu ya," ujar suster membantu Terra mengganti bajunya.
Setelah itu beberapa dokter datang. Rion dan Lidya menunggu di luar. Sudah lima belas menit berlalu. Hingga terdengar lah suara tangisan bayi pertama lalu sepuluh menit kemudian tangisan bayi kedua.
"Alhamdulillah, kita punya adik!" seru Lidya bahagia.
Kakak beradik itu saling berpelukan haru. Tak lama, Herman datang bersama Virgou. Semua berpelukan haru.
Satu jam sudah kelahiran sepasang bayi lucu. Haidar mencium kedua anak kembarnya, begitu juga Darren.
"Namanya Muhammad Arion Naranda Putra Hovert Pratama dan Arayya Nirana Putri Hovert Pratama!"
Bersambung.
Welcome Arion dan Arayya!
next?