TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MUNCULNYA AYAH RAKA



Di sebuah day care di ibukota. Seorang bocah laki-laki tengah bermain dengan gurunya. Pria kecil itu sesekali tertawa, menangis atau marah. Kadang pria kecil itu mengamuk. Hingga membuat para guru kualahan.


"Penanganan anak autism memang harus penuh kesabaran dan cinta kasih. Kita harus memaklumi, jika ia memang spesial dari yang lain," jelas ketua guru yang masih sabar menangani Raka.


Jam istirahat berbunyi. Raka diajak salah satu gurunya untuk bermain ayunan. Bocah spesial itu bergerak memutar tubuh dan kepalanya. Matanya memandang kosong ke atas. Bertanda jika Raka tengah berada di dunianya sendiri.


Sepasang mata menatap nanar, bocah spesial itu. Sosok itu memandangi anak-anak bermain dan berceloteh ria. Hanya Raka saja yang duduk sendiri sambil melakukan aktivitasnya sendiri. Ia merasa sesak. Air matanya luruh melihat pemandangan dramatis itu.


Bahkan ketika Raka mengamuk karena tidak mau makan. Pria itu tak mampu menahan pilu. Ia membekap mulutnya agar tak keluar tangisannya.


Karena tak satu pun guru berhasil membujuknya makan. Pria itu menghapus kasar air matanya. Ia pun menyambangi Raka, yang asik melakukan aktivitasnya.


"Raka," panggilnya dengan suara parau.


Mendengar namanya dipanggil, ia menoleh. Menatap pria yang tak dikenalinya. Wajahnya mirip dengan pria itu. Jika berkaca, mungkin Raka berpikir itu adalah dirinya.


"Waw .... waaa ... waa ....," Raka kembali pada dunianya sendiri.


"Raka ini Papa," ucap pria itu memberi tahu.


Melihat salah satu muridnya didekati pria tak dikenal. Salah seorang guru mendatangi Raka.


"Maaf, Pak. Anda siapa?" tanya guru itu curiga.


"Ah, maaf Bu. Saya adalah Papanya Raka," jawab pria itu sambil tersenyum ramah.


Guru itu mengernyit, ia masih tidak percaya. Karena selama Raka dititipkan di sini. Wali Raka tidak pernah membicarakan perihal ayah dari anak didiknya.


"Kami memang sedang masa saling introspeksi, Bu. Tapi, saya menjamin jika saya adalah ayah dari Raka Adhi Wijaya," jelas pria itu.


"Apa boleh minta tanda pengenal Bapak?" pinta guru itu.


Zhainra Adi Wijaya. Pria berusia tiga puluh enam tahun. Alamat jl. Xxx no x. Guru itu masih mengamati data diri pria yang mengaku ayah dari murid spesialnya itu. Melihat alamatnya sama dengan alamat yang diberikan oleh wali Raka, yakini Karina, ibunya.


"Baiklah, Pak. Maaf kami mencurigai Bapak. Tapi, itu sudah menjadi tugas kami," ucap guru itu langsung mengubah ekspresi wajahnya seketika.


Guru itu merasa bersalah. Karena mencurigai ayah kandung muridnya sendiri. Zhain memaklumi itu.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya maklum," ucap Zhain tersenyum.


"Bisakah, saya mengobrol dengan putra saya. Hingga pulang nanti?" pinta pria itu lagi.


"Tentu, Pak. Silahkan," ujar sang guru lalu meninggalkan ayah dan anak itu.


"Raka," panggil Zhain tak putus asa.


Pria itu menyesal meninggalkan Karina dulu. Ia pergi begitu saja sang istri ketika Raka berusia satu tahun, ketika para dokter menyatakan keanehan pada putranya dulu.


"Putra anda menderita gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder," jelas dokter syaraf saat itu..


Sepasang suami istri itu kaget setengah mati. Mereka tidak menyangka akan mendapat cobaan seberat ini. Zhain menuduh Karina tidak menjaga kandungannya hingga membuat putra mereka terjangkit penyakit aneh ini.


Karina bersikeras jika ia selalu menjaga kandungannya selama kehamilan. Zhain bertanya kembali. Apa penyebab autism pada putranya itu.


"Autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering disebut autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berprilaku.


Hingga kini, penyebab autisme tidak diketahui secara pasti. Namun, risiko terjadinya gangguan autisme dapat meningkat apabila terdapat faktor genetik dan lingkungan, misalnya paparan racun, asap rokok, infeksi, efek samping obat-obatan, serta gaya hidup tidak sehat selama hamil.1Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), autisme disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Penelitian terbaru mengonfirmasi beberapa kelainan genetik yang dapat memengaruhi seseorang terhadap autisme. Beberapa gen telah terlibat."


Penjelasan dokter panjang lebar itu tidak membuat keduanya puas. Mereka berdua menuduh jika salah satu dari mereka memiliki keturunan autism.


"Putra kalian bisa sembuh kok, dengan therapi rutin," jelasnya lagi


Namun, Zhain yang emosi malah meninggalkan sang istri begitu saja di ruang praktek dokter. Mereka akhirnya bercerai sebelas tahun yang lalu.


Kini, Zhain menangis. Penyesalan terus membebaninya. Pria itu baru mengetahui jika salah satu adik ayahnya atau pamannya juga memiliki masalah sama dengan putranya.


"Kenapa Papa nggak bilang kalau Om Darno memiliki riwayat autisme!' pekiknya satu minggu lalu.


Sang ayah hanya diam tertunduk. Dulu ia malu jika memiliki cucu cacat seperti Raka. Ia lupa jika adik kandungnya juga mengalami hal serupa ketika pria itu dilahirkan.


Pria itu kembali menghapus air matanya. Ia sudah bertekad akan membawa sang putra berobat. Padahal sang ayah dari dulu menyuruhnya untuk menikah. Tetapi, ketika mendapatkan kenyataan yang baru ia ketahui kemarin.


Pria itu yakin akan keputusannya, tidak menikah. Karena ia lah yang membawa gen autism itu pada salah satu turunannya. Ia tak mau kejadian Raka terulang.


"Raka. Ini Papa, Nak," ujar Zhain mengusap lembut pipi Raka.


Raka menoleh padanya. Mata pria kecil itu kosong. Zhain menangis melihatnya.


"Raka, mau ikut Papa nggak beli es krim sama naik pesawat?'


Raka mulai menatap pria itu. Sepertinya anak itu mulai tertarik dengan ajakan pria yang baru dikenalnya, dan menyebut dirinya Papa.


"Papa akan beliin Raka es krim dan naik pesawat, kalau Raka ikut Papa," ajaknya lagi.


"Naik pesawat?' tanya Raka mulai antusias.


"Iya pesawat. Seperti ...."


Zhain menghentikan perkataannya. Pria itu hendak mengambil ponselnya. Tiba-tiba di angkasa terdengar deru pesawat.


"Nah, itu pesawat, Raka!" pekik Zhain menunjukan benda yang melintas di langit.


"Wah ... burung," ucap Raka kagum.


"Iya, burung itu bisa membawa kita ke mana saja. Kau mau?" rayu Zhain lagi.


Raka yang memang memiliki dunianya sendiri. Tiba-tiba menggerakkan tubuhnya. Ia merentangkan kedua tangannya. Lalu, berlari kecil dan membunyikan suara dari mulutnya.


"Buuum!"


Zhain mengangguk. Pria itu mengikuti tingkah Raka. Ia merentangkan tangan dan jalan berputar mengikuti Raka.


"Raka ikut Papa ke sana!' ajaknya.


Raka melihat pria itu berjalan sambil merentangkan tangannya. Ia pun tersenyum dan mulai mengikuti pria itu.


Bel pulang berbunyi. Para guru dan murid pun mulai keluar. Karina mengatakan ia akan sedikit terlambat menjemput putranya.


Ketika para murid mulai berkurang. Salah satu guru menyadari jika ada anak murid yang menghilang.


"Bu Indah. Raka mana?' tanyanya.


Bersambung.


Nah loh ... kemana tuh?


next?