TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SS-2 THE NEXT CEO 2



Gebrakan pertama Darren menghebohkan publik. Terutama para lawan. Mereka begitu ketakutan dan yang merasa tersangkut dengan tersangka pastinya akan cuci tangan.


Virgou yang mengetahui pergerakan putra dari mendiang pamannya itu. Sangat yakin jika pria yang begitu bernyali menjadi penyusup bukan orang biasa. Pria beriris biru itu yakin jika dunia hitam ikut andil di sini.


"Sepertinya, aku harus mengajak jalan-jalan, semua anak-anak untuk melihat kinerja para mafia," gumamnya berencana.


Tak lama ponsel pria itu berdering. Nama, "Grandpa" tertera di layar. Ia pun mengangkatnya.


"Ya, Grandpa?!" sahutnya.


"Kau tahu jika mafia berani masuk ke perusahaan adikmu?" tanya Bart langsung ingin tahu.


"......!"


"Aku ingin kau membereskan semuanya. Katakan jika Klan BlackStar D'Young tidak akan mengampuni siapapun!" tekan Bart.


".....!"


Bart menutup ponsel setelah yakin jika Virgou akan melaksanakan apa yang ia perintahkan. Pria tua itu adalah ketua mafia dan sangat ditakuti di masanya. Virgou sempat menjadi rivalnya dulu ketika masih bermusuhan.


Ia sudah pensiun lama setelah sektor D terkuak dan nyaris semua ketua Klan dihabisi pihak kepolisian internasional. Sampai sekarang, ia belum tahu siapa yang membongkar sektor D. Sektor terbesar mafia. Banyak usaha ilegal terbongkar hingga membuat bangkrut sebagian pengusaha.


Sedang di tempat Haidar sangat mencemaskan keselamatan putranya. Walau Darren akan terlindungi oleh ribuan pengawal. Tetapi, berhasilnya mafia masuk dalam ruang IT perusahaan. Membuat pria itu khawatir.


Bram berkali-kali menelepon putranya itu. Bahkan Kanya juga sampai harus menggunakan oksigen karena terlalu shock.


Sedang Terra. Ia cukup terkejut jika mafia bisa masuk dan menyusup di ruangan IT miliknya. Gunawan sudah berkali-kali memeriksa background pria yang direkomendasikan oleh sesama rekan IT.


"Ia keluar dari perusahaan secara baik-baik, tidak ada masalah, selama tiga tahun ia bekerja. Ketika kita membutuhkan salah tenaga kerja IT bidang back up. Ia melamar pekerjaan setelah satu bulan resign," jelasnya pada Terra ketika pria itu bekerja pertama kali.


Terra melihat gerakan pria itu selama tiga bulan bekerja di perusahaan Terra melalui BraveSmart ponsel. Untuk satu setengah bulan, wanita itu tak mendapat petunjuk apa pun.


"Pemeriksaan via ponsel ternyata sangat lama dan butuh waktu juga ketajaman fokus," jelas Terra pada Gabe ketika pria itu memberitahu perihal penyusup itu.


"Bentuk tim untuk mengevaluasi masalah ini!" titah Terra selanjutnya.


Gabe langsung membuat tim untuk mengevaluasi data pria bernama asli Barack Dilano ini.


"Jangan menyiksanya. Mafia itu berbeda dengan penjahat biasa. Ia mau jadi penyusup, berarti ia siap dengan segala resikonya. Amankan saja kemanapun Darren berada!" titah wanita itu selanjutnya.


Semua perusahaan begitu takjub akan kecepatan dan ketajaman sepak terjang dari Terra, ibu dari kandidat CEO. Mereka sangat mengenal wanita itu bahkan usia Terra masih terbilang sangat belia untuk ukuran CEO wanita. Delapan belas tahun.


Kini penjagaan Darren di perketat. Bahkan ketika di kampus Haidar selalu memperingatkan Budiman dan anak buahnya untuk menjaga keselamatan semua anak-anak.


"Jaga ketat Rion dan Lidya. Mereka berdua tentu juga jadi incaran sekarang. Terlebih, para jika para musuh tahu kelemahan kedua anak itu!' titah pria itu.


"Siap Tuan!" sahut Juan, Alex dan Hendra. Mereka bertiga menjadi pengawal Rion dan Lidya karena masih satu sekolah.


Terra membawa semua anak-anaknya ketika mendengar mertuanya harus dibantu pernapasannya dengan oksigen ketika mendengar perusahaan menantunya disusupi mafia. Wanita itu datang dengan pengawalan ketat oleh Dahlan, Reza, Juno, Felix, Bimo dan banyak lagi.


"Assalamualaikum, Ma!" Terra masuk memberi salam.


"Wa'alaikum salam, Nyonya, mari masuk. Nyonya besar ada di kamarnya," ajak salah satu maid Kanya.


Mereka semua masuk dan menuju kamar pemilik mansion. Anak-anak langsung menaiki ranjang neneknya dan memeluk Kanya yang tengah berbaring. Wajahnya sedikit pucat. Wanita paru baya itu memandang semua cucunya. Parasnya yang pias mendadak memerah dan berseri.


"Ma ... Mama tidak apa-apa kan?" tanya Terra khawatir.


"Oma, syatit pa'a?' tanya Sean.


Romlah dan Ani membawa dua bayi Terra dalam gendongan kain. Kanya menyuruh keduanya di tidurkan dekatnya. Sean, Nai, Al, dan Daud sedikit menyingkir dan membiarkan duo R ditidurkan di sebelah neneknya.


"Kalian menginap kan?" Terra mengangguk.


Kanya senang bukan main. Ia akan cepat sehat jika semua cucunya berkumpul terlebih mendengar ocehan absurd mereka.


"Rion dan Lidya sedang dalam perjalanan ke sini, Ma. Sedang Darren akan datang bersama Papanya. Kak Virgou dan keluarga juga akan meramaikan mansion Mama. Katanya ingin merubuhkan mansion ini!" selorohnya.


Kanya hanya mengangguk Ia sangat senang jika semua keluarga berkumpul. Ia bahkan menginginkan Herman dan keluarga juga menginap di sini.


"Ayah dan keluarga juga OTW, Ma," sahut Terra seakan membaca pikiran mertuanya.


Kanya tertawa mendengar itu. Ia sudah berancang-ancang dengan suaminya untuk bertukar tempat dengan Terra. Walau mungkin.pasti ditolak oleh menantunya. Tapi, ia ingin hunian yang lebih kecil dari ini.


"Oma, bajah Oma pisa belubah ya?' sahut Daud sambil manggut-manggut.


"Berubah?" tanya Kanya tak mengerti.


"Biya, tadi butih taya tapas, setalan belubah jadi melah taya motat!" jelasnya serius.


"Mo ... apa?" tanya Kanya bingung.


"Maksudnya tomat, Ma," jelas Terra.


Kanya pun terbahak mendengarnya. Ia menciumi semua cucu-cucunya. Ia pun menyuruh Terra dan anak-anak pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Makan siang sebentar lagi akan dihidangkan. Wanita itu tadi sudah menyuruh para maid memasak banyak.


Benar saja, sebelum makan siang semuanya sudah datang meramaikan mansion milik Pratama itu. Bram. yang mendengar kabar jika huniannya dipenuhi oleh keluarga langsung pulang.


Bar, Gisel serta putranya juga datang bersama Gabe dan istrinya. Hanya Bart, Gisel dan putranya yang akan menginap, sedang Gabe akan langsung pulang bersama istrinya.


Munculnya Darren sebagai CEO di publik membuat para ibu sosialita memburu ibu dari remaja itu. Sayang, Terra yang memang tak pernah bergabung dengan para sosialita itu sangat sulit di dekati. Kecuali Kanya.


"Jeng, kita kan udah temenan lama, bisa lah kalo kita saling menjodohkan cucu-cucu kita, saya punya cucu perempuan loh," jelas salah satu wanita mempromosikan keturunannya.


"Saya juga punya cucu perempuan, usianya sama dengan Darren, empat belas tahun, ia baru kelas dua sekolah menengah pertama," sahut salah satunya lagi.


"Sama cucu saya saja, Sania juga masuk kelas akselerasi loh, walau baru masuk SD," sahut satunya lagi dengan bangga.


"Wah, kasihan banget cucumu sekecil itu dipaksa belajar terus," celetuk Kanya. "Cucu saya Rion saja dilarang ibunya, walau kegeniusannya di atas rata-rata."


Ibu tadi pun terdiam.


"Maaf ya Jeng. Saya dari dulu selalu menolak namanya perjodohan, karena kita nggak tahu jodoh anak kita siapa, walau itu bisa diatur. Tapi, saya memilih menyerahkan semuanya pada cucu-cucu saya kelak, karena mereka yang menjalaninya nanti," jelas Kanya menolak semua kandidat yang ditawarkan.


bersambung.


waaah ... seperti pepatah mengatakan.


Ada gula pasti ada semut. Ada kumbang pasti ada madu.


next?