TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MUNCULNYA THE BLACKANGEL



Mengetahui dirinya diancam mau dibunuh. Rion hanya tersenyum lebar. Satrio begitu antusias ketika saudaranya berada dalam bahaya. Remaja itu secara diam-diam ikut pelatihan di SavedLive, tubuh Satrio terbentuk sesuai porsinya. Cita-citanya ingin menjadi seperti Gomesh pasti tercapai, walau tinggi remaja lima belas tahun itu kini mencapai 175cm dengan berat 70kg.


"Makan kacang panjang ah, biar cepat tinggi!" serunya.


"Nak, ayahmu saja tingginya hanya 166cm saja, kamu mau setinggi apa, sayang?" tanya Khasya sang ibu.


"Mau dua meter, Bunda. Seperti Om Gomesh!" jawab Satrio bangga.


Khasya hanya membiarkan putranya. Selama itu baik dan tidak melanggar hukum. Padahal wanita itu tak tau, Satrio juga mengikuti jejak Rion masuk ke dunia hitam. Untung Virgou selalu mengawasi pergerakan remaja itu.


"Jangan macam-macam!" ancam pria beriris biru itu.


"Daddy nggak seru!" sahut Satrio sebal.


"Apa kau bilang?" sahut Virgou tak percaya.


Satrio hanya tersenyum lalu memeluk pria dengan sejuta pesona itu.


"Ayo lah Dad! Daddy usia berapa ketika berkecimpung di dunia itu?" tanya Satrio.


"Pasti lebih muda dari Satrio!" terka remaja itu.


Virgou tak menjawab. Ia memang dari usia belia sudah masuk dunia hitam bisa jadi ketika berusia sepuluh tahun.


Rion kini duduk di pinggir lapangan di mana dulu Virgou sering mengajaknya bersama para saudaranya. Remaja itu bahkan sudah bisa menembak dengan mata tertutup.


"Tuan BlackAngel!" sapa salah satu anak buahnya.


"Aku dengar ada pergerakan di sektor B?" tanya Rion acuh. "Apa ada peluncuran senjata baru?"


"Benar Tuan. Senjata revolver jenis pistol dan juga pelurunya. Masuk dari negara C!" jawab pria itu.


"Kita ke sana!" sahut Rion dengan sorot mata dingin.


"Kak tunggu!" teriak Satrio.


"Baby, kenapa kau ikutin kakak!?" tanya Rion terkejut.


"Trio nggak sendirian Kak," jawab remaja itu.


Sean, Kean, Cal dan Daud datang dengan berlari dan napas terengah-engah. Rion garuk-garuk kepala. Ia tak menyangka jika adiknya mengikuti.


"Duh, kenapa ramean gini!" keluh Rion.


Enam remaja itu hanya menatap penuh minat pada Rion. Akhirnya remaja itu mengajak semuanya ikut.


"Tuan mereka siapa?" tanya anak buah Rion.


"Mereka semua sama denganku kedudukannya!" jawab Rion.


Pria itu membungkuk hormat. Mereka menaiki mobil jeep terbuka. Rion yang menyetir. Padahal ia belum lah memiliki SIM. Tapi, di dunia hitam siapa yang mau menangkapnya.


"Kalian bisa berkelahi kan?" tanya Rion pada keenam adiknya.


"Bisa lah!" sahut Kean begitu semangat.


"Jujur, aku deg-degan ini!" sahut Daud sedikit takut.


"Kalau takut mestinya jangan ikut," ledek Kean sebal.


Daud memang paling lembut sendiri. Dari seluruh saudaranya bahkan Nai kalah lembut dengan Daud.


"Kak, ceritain kok kakak bisa masuk kelompok mafia bahkan menghidupkan lagi Klan Daddy?" tanya Al ingin tahu.


"Panjang ceritanya. Nanti saja, setelah urusan ini selesai. Oteh?"


Semua mengangguk setuju. Rion mengingat bagaimana ia pertama kali masuk dunia hitam secara tak sengaja.


Remaja itu tengah menghadapi semester akhir perkuliahan S2nya. Ia sedang mencari bahan skripsi. Rion tertarik untuk membuat skripsi tentang dunia hitam. Skripsi dengan judul "BISNIS MAFIA" itu menjadi sorotan semua dosen termasuk Haidar.


"Baby, apa kamu serius mau mengambil masalah ini?" tanya Pria itu.


"Iya Pa. Ion mau membongkar sedikit bisnis ini kepermukaan," jawab remaja itu.


"Tapi, ini berbahaya Baby. Kau bisa dianggap pengkhianat!" peringat Haidar.


"Ion tahu itu. Tapi, ada bisnis ilegal yang dibenarkan bahkan beberapa aparat ikut andil di sana untuk menumpasnya. Ion ambil bisnis itu!" jawab Rion.


Haidar sangat menolak aksi putranya. Ia mengadu pada Virgou dan Bart tentang skripsi Rion.


"Baby ... jangan buat judul itu. Tapi, ganti dengan Ilegal Bisnis tersembunyi!" saran Virgou.


Haidar hanya bisa menghela napas panjang. Bart mendukung aksi cucunya itu.


"Akan ku-back up penuh Rion! Biar kupanggil beberapa anak buah yang masih aktif di sana. Mereka pasti sangat antusias jika salah satu klan terkuat kembali beroperasi," sahut pria gaek itu.


Maka di sini lah Rion. Remaja itu sudah satu bulan malang melintang di dunia hitam. Banyak keputusannya membuat para klan yang ada salut bahkan tunduk pada Rion.


Menggaungkan nama The BlackAngel milik Virgou ketimbang BlackStar D'Young. Klan milik Bart itu benar-benar sudah habis dan banyak anak buahnya yang tewas ketika penggerebekan sektor D.


"Tuan kita sudah sampai!" seru anak buah membuyarkan lamunan Rion.


"Mari kita beraksi!" sahut Rion lalu mengambil sepucuk senjata dari balik punggungnya.


"Beri mereka semua senjata!" titahnya.


Pria bernama Krenz itu mengambil satu kotak berisi sepuluh pucuk senjata. Satrio paling antusias. Ia juga sudah belajar menembak Gomesh yang mengajarinya di SavedLive.


"Daud kau langsung lepaskan tembakan ke udara!" titah Rion.


Daud yang baru pertama kali memegang senjata. Langsung melesatkan tembakan. Remaja itu tertawa bahagia mendengar letusan itu.


Semua orang yang sedang ribut menoleh. Melihat wajah-wajah belia yang tampan dan sangat imut membuat semuanya tertawa.


"Astaga ... apa kita kedatangan murid taman kanak-kanak?" ledek salah satu ketua Klan.


"Satrio!" titah Rion.


Satrio membidik. Terdengar letusan. Topi yang dikenakan ketua klan itu berlubang. Hanya beda satu inci saja. Peluru itu mampu menembus kepala pria itu. Semua menelan saliva kasar.


"Siapa kalian!" teriak pria itu.


"Halo Tuan Baron Jovas. Perkenalkan kami adalah BlackAngel!" jawab Rion dengan seringai sadis.


"Kurang ajar! Aku tak peduli! Hajar mereka!" titah salah satu ketua Klan.


Bunyi kokang senapan terdengar. Beberapa anak buah menjatuhkan senjata. Tempat sudah dikepung oleh anak buah Rion. Semua mengangkat tangan mereka.


"Kalian salah jika aku ke sini tanpa perhitungan Tuan!" sahut Rion datar.


Hanya dengan kode anggukan kepala, para anak buah menghajar anak buah yang dibawa oleh para ketua Klan. Dua puluh boks senjata diambil alih oleh Rion.


"Biar kubuka ini!"


Rion membuka salah satu boks kayu. Sepuluh rudal dan peluncurnya. Ia terbelalak senang lalu bertepuk tangan. Para polisi berdatangan menyita semua barang ilegal.


"Terima kasih Tuan BlackAngel! Ini akan menjadi tangkapan besar bagi pihak kepolisian!" sahut salah satu perwira tertinggi polisi.


Keduanya bersalaman.


"Saya bersama para saudara saya, Pak. Perkenalkan kami adalah The BlackAngel!" sahut Rion tersenyum.


"Kami akan mengingatnya. Terima kasih sekali lagi!" sahut polisi.


Para ketua Klan memang diungsikan oleh Rion. Remaja itu sengaja tak memperlihatkan para ketua mafia dan menyerahkan mereka ke hukum.


"Biar seru dan menganggap klan BlackAngel lah yang menguasai pasar gelap. Mereka tidak akan tau, jika kita bekerjasama dengan kepolisian untuk menangkap semua hasil kejahatan," jelas remaja nan tampan itu.


Kean, Calvin, Sean, Al, Daud dan Satrio berdiri di belakang Rion. Mereka memang menjadikan Rion panutan. Semua kelakuan kakaknya akan mereka tiru.


"Ayo kita pulang dan makan-makan!" ajak Rion.


Semuanya bertepuk tangan. Seperti anak bebek yang mengikuti induknya ke mana pun berjalan.


"Kak, bagaimana dengan yang mengancam Sean dan Kakak?" tanya Satrio.


"Tenang saja. Nanti juga dia muncul karena kita tak takut ancamannya," jawab Rion tenang.


"Kakak sudah tau siapa mereka!" lanjutnya dengan seringai menakutkan.


"Tangan Satrio sudah gatal. Tadi kurang seru karena hanya sekali menembak!"


"Tenang, Baby ... ini baru awal," sahut Rion lalu menekan pedal gas meninggalkan sektor B.


bersambung.


nah ... kan ... Ion mau dilawan.


Next?