TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DIDI 2



Budiman mengajak Didi ke rumah Terra. Pria itu langsung menghubungi timnya. Pria itu melacak ponsel memindai apakah Leana mengikuti Didi.


Ternyata, Leana memang hanya memanfaatkan kejujuran bocah lelaki itu. Perempuan itu sudah kembali kediamannya.


Budiman yakin Leana hanya menerka apa yang dialami oleh Didi. Ia sangat tahu perangai wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya itu.


Budiman teringat, ketika awal menjadi kekasih Leana. Ia belum menjadi anggota tim dari SavedLife. Sosok lembut dan cantik namun berhati licik. Budiman seperti terpedaya akan perkataan manis perempuan itu.


Pria itu segera mengenyahkan pikiran akan masa lalu. Sekarang sosoknya berfokus, apa mau dari Leana ingin mengganggunya. Bukankah ia sudah menuruti kemauannya, yakni, putus.


Dalam waktu lima belas menit. Mereka sudah sampai di rumah Terra. Pria itu sudah mengatakan kedatangannya bersama Didi.


Budiman turun dari mobil di susul oleh Didi. Mereka berjalan memasuki teras.


Didi terdiam di tempat. Ia ragu untuk masuk. Melihat kakinya yang berdebu walau beralas kaki. Ia merasa kakinya tak layak menginjak lantai yang terlihat sangat bercahaya sangking bersihnya.


"Didi tunggu di sini saja, ya?' pintanya penuh ketakutan.


"Masuk saja, Nak. Ayo, sini."


Tiba-tiba suara lembut masuk ke telinga Didi. bocah lelaki itu terpana saat melihat sosok cantik dengan balutan sederhana di dalam rumah.


"Ayo," ajak Budiman.


Dengan langkah takut-takut ia pun masuk. Tubuhnya bergetar hebat ketika melihat aura wanita yang tersenyum padanya. Seketika air matanya menetes.


"Hei, kenapa kau menangis?" tanya Terra lembut.


Wanita itu membelai kepala Didi dan mengusap air matanya. Tubuh pria kecil itu makin bergetar hebat. Ia menahan isak. Sekarang ia tahu jika dirinya dibodohi oleh perempuan bernama Leana.


"Ma-maaf, Nyonya ...," cicitnya parau.


"Kenapa kau minta maaf sayang?" tanya Terra tak mengerti.


"Didi sudah salah sangka. Didi ternyata dibohongi," jawab Didi sambil menunduk..


Terra yang tak mengerti apa maksud Didi. Bertanya pada Budiman. Pria itu hanya mengulas senyum. Memang dirinya tidak atau belum memberi tahu pada Terra perihal masalah Leana.


"Nanti, saya ceritakan, Nona," ujar Budiman.


"Baik, akan Te tunggu penjelasan Kakak," saut Terra.


"Nona, saya minta rekomendasi rumah sakit untuk membawa ibu dari anak ini berobat secara intensif," pinta Budiman langsung.


"Bawa ke rumah sakit Pratama Huda, Bud. Biar aku suruh ambulance langsung membawa ibunya Didi ke sana," saut Haidar tiba-tiba.


Didi terkejut mendengar suara besar dan tegas itu. Ia pun menatap arah suara. Sosok tampan yang sering ia lihat disobekan majalah. Didi makin merasa bersalah. Ia pun belajar sesuatu hari ini. Jangan terlalu percaya dengan berita yang belum tentu kebenarannya, sebelum tahu apa yang sesungguhnya terjadi.


Haidar menatap netra coklat gelap yang memandanginya dengan berani. Pria itu cukup salut akan keberanian pria kecil itu. Ia sangat yakin, dengan sedikit polesan. Didi akan menjadi momok yang menakutkan suatu saat nanti.


"Siapa namamu?' tanya Haidar tegas.


"Didi Prasetya Hermawan!" jawabnya tak kalah tegas.


"Usiamu?''


"Sepuluh tahun!"


"Kamu sekolah?"


"Sekolah di bawah jembatan fly over jalan xxx dekat tugu, Pak!"


Haidar langsung tahu, sekolah gratis yang diusung oleh seorang kaya raya yang mendedikasikan untuk mendidik anak-anak kurang mampu. Perusahaannya termasuk sebagai pendonor terbesar di sekolah gratis itu.


Walau sekolah itu gratis. Namun fasilitasnya tidak kalah dengan sekolah negeri atau swasta yang memiliki bangunan tetap.


Kini, badan amal itu tengah memperjuangan sebuah tanah untuk meletakan sekolah yang terbuat dari kontainer. Haidar juga ikut dalam memprakarsai hal tersebut.


"Baik, sebentar lagi kamu masuk sekolah, kan?" Didi mengangguk.


"Ambulance sedang dalam perjalanan ke rumahmu ...."


'Memang, Bapak tahu rumah Didi?" tanyanya polos.


Haidar terkekeh mendengar pertanyaan polos itu.


Terra tersenyum. Masalah Didi akan teratasi. Ia sangat yakin. Pengalaman hari ini akan memberi pelajaran berharga bagi bocah lelaki itu. Walau ia belum mengetahui maksud maaf Didi tadi.


Didi pun kembali bersama Budiman ke rumahnya. Terra memberinya bekal satu tas baju yang baru ia beli secara online sebelum mereka datang ke rumah. Selain baju, Terra juga membelikannya tas dan buku serta alat tulis lainnya.


Didi dan Budiman sampai di depan gang tempat tinggal pria kecil itu, bersamaan dengan ambulance yang membawa ibu Didi ke rumah sakit.


Semua orang memandang aneh. Didi berlari menuju rumahnya. Memanggil ibunya dengan binaran bahagia. Sang ibu yang sedang memasak ala kadarnya sedikit terkejut mendengar teriakan Didi.


"Ono opo to Le? Suaramu banter tenan!" (ada apa toh, Nak. Suaramu keras sekali?!) peringat ibunda Didi.


Budiman melihat kondisi sang ibu yang kurus kering. Ada bau menyengat pada tubuh wanita malang itu. Pakaian bagian dadanya terlihat basah. Sang ibu yang merasa dirinya diperhatikan berusaha menyembunyikan hal itu.


"Mak ... sekarang Emak bisa berobat beneran di rumah sakit, Mak ... huuuu ... uuuu!" ucap Didi sambil menangis.


"Jangan sembarang ngomong to Le! Kita mana ada uang untuk bayar itu semua!"


"Ibu jangan khawatir. Semuanya sudah kami tangani. Sekarang waktunya ibu berjuang untuk kesembuhan ibu dan kebahagiaan Didi anak ibu!"


Sebuah suara tegas tak bisa dibantah keluar dari mulut pria tampan yang kini tersenyum padanya. Baru kali ini ada orang yang memandangnya tidak merasa jijik.


Para perawat membawa brangkar. Mengangkut tubuh kurus itu dan menyelimutinya.


"Mak ... Emak pasti sembuh, Mak!' pekik Didi sambil menangis.


"Le ... Tole!" panggil sang ibu juga menangis.


"Bawa dia dan langsung masukkan dalam ruang VVIP!" titah Budiman.


"Siap, Tuan!" saut petugas medis langsung mendorong brangkar ibu malang tersebut.


"Didi ... anakku .. huuu ... uuu!' pekik bundanya Didi.


"Didi nanti menyusul, Mak. Emak harus sembuh yaaa! Hiks .. hiks!" teriaknya.


Tangisan Didi meledak tak kala Budiman memeluknya. Pria kecil itu merasa lega masih ada orang baik yang mau memperhatikan orang kecil seperti dirinya.


"Terima kasih, Pak!" ucapnya tulus berulang kali.


"Sudah-sudah. Sekarang siapkan semua keperluan ibumu, seperti baju dan lainnya. Biar tim dari Bapak akan mengantarkannya. Dan kamu bisa bersama ibumu setelah usai sekolah," titah Budiman lembut.


Didi dan mengangguk. Dengan kasar ia memasukkan baju dan lainnya yang hanya beberapa helai saja ke dalam kantung kresek, lalu memberikannya pada Budiman.


Pria itu menyerahkan plastik kresek itu pada salah satu rekannya yang baru saja datang. Setelah kepergian rekannya itu. Nampak Didi meneruskan masakan ibunya.


Sepanci sayur bening menjadi santapannya hari ini. Ternyata ada tetangga yang berbaik hati memberinya sayur bayam pada ibunya untuk di masak.


"Pak, mari makan," ajak Didi.


"Maaf hanya sayur bening dan nasi saja, Pak."


Budiman pun ikut makan untuk menghormati Didi. Setelah makan mereka pun membereskan piring kotor.


Didi melihat jam di dinding. Masih ada waktu satu jam untuk bertemu dengan Leana, wanita yang membohongi dirinya.


"Satu jam lagi, apa Bapak masih mau menunggunya?' tanya Didi.


Budiman mengangguk. Didi akhirnya juga ikut mengangguk tanda mengerti.


Kini mereka sama-sama diam dan menunggu waktu. Hingga tepat satu jam kemudian.


"Mari Pak, kita temui perempuan itu," ajak Didi dengan sorot mata tajam..


Budiman pun melangkah bersama pria kecil itu. Sangat terasa aura kelam dari tubuh kurus Didi. Budiman semakin yakin akan sosok kecil ini.


"Kau akan menjadi sosok yang sangat berpengaruh suatu saat nanti!" ungkapnya dalam hati.


bersambung.


huwwwa ... eng ing eng!


next?