
Seperti rencana Herman beberapa minggu lalu. Kini mereka semua akan pergi menziarahi makam. Semua membawa mobil masing-masing.
Budiman menyetir, Haidar di sebelahnya. Terra di belakang suaminya sedang Gisel di belakang suaminya. Samudera duduk di antara Terra dan ibunya. Di belakang Rion, Rasya dan Rasyid.
Sedang Darren kini bisa menyetir bersama Gio. Lidya, Nai, Sean, Al dan Daud bersamanya. Ia memakai mobil Pajero sport warna hitam. Hadiah dari Terra untuk Darren setelah memiliki SIM nya.
Virgou bersama Gomesh. Istri dan lima anaknya ada di belakang. Kean, Cal, Maisya, Affhan dan Kaila. Mobilnya masih Jeep warna putih.
Sedang Herman bersama istri dan lima anaknya di supiri oleh Bambang, pengawal pribadi Herman.
Semuanya berhenti di area makam umum. Mereka turun dengan bergandengan tangan. Mereka mengunjungi makam ayah dan ibu Terra.
Herman mencium nisan almarhumah adiknya itu.
"Assalamualaikum, Dik. Bahagia ya, di sana. Maaf, Mas baru kali ini mengunjungi makammu," ujar Herman dengan suara tercekat.
Terra mulai menitikkan air mata. Haidar mengelus punggung istrinya. Darren, Lidya dan Rion hanya menatap nanar makam di sebelahnya. Makam ayah mereka. Puspita menenangkan mereka bertiga.
Terra menatap tiga anak mendiang ayahnya yang seperti terpaku. Terra mendekati mereka bertiga.
"Maafkan Ayah, Nak. Maafkan beliau," pinta Terra sedih.
Darren hendak berucap, tapi bibirnya kelu. Lidya hanya mengangguk air matanya terus mengalir. Mengingat ketika dulu ia menangis akibat kekejaman ibunya, tetapi, tak sedikit pun pria itu menoleh. Sedangkan Rion tak berkata apa pun. Hatinya kosong, tak merasa kehilangan atau pun sedih. Ia bahkan lupa dengan wajah ayahnya, walau Bart, kakeknya mengatakan jika sang ayah mirip dengan ibunya, yang semestinya adalah kakaknya itu.
"Ion nggak percaya Mama mirip Ayah," Terra terhenyak.
"Emang nggak mirip," sahut Lidya dengan suara tercekat.
Darren tak mengatakan apapun. Ia hanya membuka dan menutup mulutnya saja. Seperti ikan yang kehabisan air
Terra sedih jika ketiga anak ini membenci ayahnya. Ia selalu mengajarkan untuk membuka pintu maaf, bagi siapapun.
"Sayang ...," panggilnya dengan suara parau.
Virgou yang paham mendekati ketiga anak itu.
"Hei, jika kalian masih membenci ayah kalian. Bagaimana dengan Daddy? Daddy adalah bagian dari hidup kalian yang menderita dulu," jelas Virgou dengan suara berat.
"Daddy beda. Daddy langsung sayang sama Iya. Daddy mau langsung meluk Iya. Ayah nggak sama sekali. Padahal waktu itu, Iya pengen benget dipeluk Ayah ... hiks ... hiks!" Lidya mulai menangis.
"Darren memang takut sama Daddy, bahkan sempat ingin membenci Daddy, tetapi, Daddy membuktikan cinta Daddy buat Darren. Ayah nggak sama sekali. Dia biarin Darren dipukul, dia biarin Darren menangis!" sahut Darren dengan suara marah.
Rion hanya diam saja, ia tak ingat apa saja perbuatan buruk ayahnya ia masih begitu kecil mengingat semuanya Hanya kejahatan mendiang ibunya saja yang ia ingat dan membekas sampai sekarang.
Virgou menangis. Ia juga sedih mendengar hal itu. Terra terus menenangkan ketiga anaknya itu.
"Tapi, karena itulah kita di sini berkumpul. Mama, tidak sendirian, Daddy juga kembali bersama keluarga. Mama kembali sama Ayah!" seru Terra menjelaskan.
Ketiga anak itu memandang ibunya. Terra mengangguk.
"Bukankah sekarang kita bahagia, karena telah berkumpul dan saling memaafkan?"
Darren, Lidya dan Rion mengangguk. Terra mencium ketiganya.
"Ayah lah yang paling bersalah di sini," sahut Herman.
Darren langsung memeluk Herman. Ia paling sayang dengan pria itu. Dulu, ia begitu takut jika Herman merampas ibunya.
"Kenapa pada sedih sih?" celetuk Kean bertanya.
"Bukankah Nenek dan Kakek di tempat yang lebih baik sekarang?" lanjutnya lagi.
Semua mengangguk setuju. Kini, mereka duduk di pinggiran makam. Melantunkan doa bagi arwah yang telah tenang di alam sana. Herman memimpin doa.
Pertama-tama mereka mengucap. "Assalamu'alaikum dara qaumin mu'minin wa atakum matu'adun ghadan mu'ajjalun, wa inna insya-allahu bikum lahiqun"
Artinya: "Assalamualaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Allah yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insya Allah akan menyusul kalian".
Lalu setelah itu.Membaca surah Al-Fatihah tiga kali.
Usai membaca itu semua, mereka pun membaca bagian awal surah Al-Baqarah, kemudian membaca Ayat Kursi, lalu
membaca surah Yasin. Kemudian
membaca zikir, istighfar, dan shalawat seperti pada tahlil. Terakhir Herman pun membaca doa ziarah kubur
"Allahummaghfìrlahu war hamhu wa 'aafìhìì wa'fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì' madholahu, waghsìlhu bìl maa'ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì. Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì.
Artinya :
"Ya Allah, berilah ampun dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari istrinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah pelindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya." (HR Muslim).
Usai berdoa semuanya menabur bunga.
"Darren, makam ibumu juga ada di sini," jelas Terra memberitahu.
Remaja itu hanya diam menanggapi.
"Letaknya ada di blok K, dekat pohon waru di belakang sana," tunjuk Terra.
Darren sama sekali tak merespon. Remaja itu malah berlalu dari situ menyusul ayahnya yang sudah berjalan lebih dulu. Setelah ini mereka akan menziarahi makam Kakek nenek mereka.
Selang satu jam mereka sudah sampai pada malam keluarga. Makam para bangsawan Jawa. Sebuah nisan bertuliskan KGPH Hardi Triatmojo.
Mereka melakukan hal yang sama ketika di makam orang tua Terra. Usai berdoa dan menabur bunga. Mereka pergi ke sebuah restauran terdekat. Hari sudah siang. Anak-anak sudah lapar. Kali ini Herman membayar semua tagihan makanan.
Karena memang lapar. Baik, Virgou, Budiman dan Haidar sampai nambah begitu juga Herman. Darren juga nambah walau tak habis. Budiman yang menghabisi sisa makanannya.
Usai makan mereka pun melanjutkan perjalanan. Pergi ke panti di mana Khasya dulu tinggal. Ia dan suaminya sering ke sana menjenguk dan melengkapi kebutuhan ke dua puluh sembilan anak asuhnya.
Anak-anak balita tinggal karena mengantuk. Bahkan Gisel juga sudah kelelahan. Hanya Puspita, Terra, Khasya dan Lidya yang ikut ke makam yang lainnya tinggal. Sedangkan Herman, Haidar, Virgou, Budiman Darren dan Rion sudah lebih dulu pergi.
Herman mengusap nisan kayu di sana. Mereka pun berdoa untuk ketenangan arwah Anwiyah. Usai menaburkan semua bunga. Mereka pun kembali ke panti.
Mereka beristirahat sejenak. Menunggu anak-anak bangun. Bermain bersama anak-anak panti. Bahkan sebagian mereka sudah ada yang bekerja dan ada yang berumah tangga. Ada beberapa penghuni baru di sana.
Sore menjelang, anak-anak masih sempat bermain sebelum akhirnya mereka semua pulang' ke rumah. Herman kembali ke mansionnya. Sedang Virgou memilih menginap di rumah Terra. Ia terlalu lelah jika meneruskan perjalanan.. Padahal yang menyetir seharian adalah Gomesh.
Budiman pun mengajak istri dan anaknya pulang ke rumah. Ibunya sudah menelepon dari tadi. Mia telah memasak makanan kesukaan Gisel.
"Makasih ya, Bud," sahut Haidar mengucap terima kasih telah menyupiri mereka seharian.
"Sama-sama, Kak," sahut Budiman.
Sepasang suami istri dan anaknya itu pun pulang. Kini tinggal Haidar dan Terra di ruang tengah. Puspita tengah membantu Ani dan Romlah memasak.
"Kak, sudah kita istirahat saja," ajak Terra yang kelelahan.
"Bik, maaf ya nggak bisa bantu banyak," ujar Puspita tak enak.
"Nggak apa-apa Nyonya. Ini juga sudah banyak membantu," sahut Ani lalu tersenyum.
Puspita pun kini ke kamarnya di mana Virgou tengah merebahkan tubuhnya. Ia benar-benar lelah.
"Jangan tidur, Dad sebentar lagi maghrib loh," peringat Puspita.
"Hmmm," sahut Virgou.
Akhirnya makan malam usai. Kini semuanya terlelap di kamar mereka masing-masing. Virgou sudah langsung memejamkan mata usai shalat isya berjamaah tadi.
bersambung.
ah ... ada sedikit air mata.
next?