TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEDIKIT ILMU



Soal sholat Sunnah ... kok nggak boleh berjamaah?


Bukan nggak boleh. Ada kok sholat Sunnah yang dikerjakan secara berjamaah.


Apa saja nih sholat yang bisa dikerjakan secara berjamaah.




. Sholat Hari Raya (Sholat Id)


Melansir dari buku 33 Macam Jenis Shalat Sunnah karya Muhammad Ajib, Lc., MA, dalam mazhab Al Hanafiyah dan Al Hanabilah, syarat sah dari sholat Idul Fitri dan sholat Idul Adha adalah dikerjakan dengan berjamaah. Hal ini berdasarkan pada masa Rasulullah SAW, Rasulullah selalu mengerjakan sholat ini dengan jumlah jamaah yang banyak.




Sholat Khusuf


Sholat khusuf merupakan sholat sunnah yang dilakukan karena terjadinya gerhana bulan. Menurut pendapat ulama, sholat ini disyariatkan pada bulan Jumadil Akhir tahun kelima hijriyah.




Dilansir dari buku Panduan Lengkap Shalat Sunah Rekomendasi Rasulullah karya Zezen Zainal Alim, hukum sholat gerhana bulan adalah sunnah muakkad dan dikerjakan saat terjadi gerhana bulan pada malam hari setelah sholat isya. Cara mengerjakannya dianjurkan berjamaah sebanyak 2 rakaat di dalam masjid dengan dua kali rukuk. Disunnahkan rukuk pertama dilamakan dari rukuk yang kedua pada tiap rakaatnya.



Sholat Istisqa



Menurut buku Panduan Praktis dan Lengkap Menuju Kesempurnaan Salat karya Ustaz Abu Sakhi, hukum mengerjakan sholat istisqa adalah sunnah mu'akkad atau sangat dianjurkan.


Sholat sunnah Istisqa terdiri dari dua rakaat tanpa didahului dengan adzan dan iqomah dan dikerjakan secara berjamaah.


*sumber. detikEdu. com.


nah untuk shalat tahajud .


Menurut Mazhab Hanafi, hukum ta'qib seperti sholat tahajud berjamaah adalah makruh. Seperti disampaikan Ibnu Muflih, sholat sunnah itu hendaknya dilakukan berjamaah sekali saja. Jika hendak sholat tahajud tetapi sudah mengerjakan tarawih berjemaah, sebaiknya ditunaikan sendiri saja.


Rasulullah menegaskan dalam hadisnya, dari Abu Hurairah berkata Rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram dan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim). Pada umumnya, shalat sunah dilakukan dengan dua rakaat, begitu juga dengan shalat tahajud.


Rasulullah mengajarkan, sebaiknya shalat malam (tahajud) itu dilakukan dengan dua rakaat dua rakaat dan ditutup dengan shalat witir. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, seorang laki-laki bertanya kepada Rasul tentang shalat malam, Rasul menjawab, “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu Subuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Sebaik-baik shalat sunah jika dikerjakan di rumah dan sendiri-sendiri, demikian pula dengan shalat tahajud. Rasul sering melakukannya sendirian, akan tetapi beliau tidak melarang jika ada sahabat atau orang lain yang ingin melakukannya berjamaah bersama beliau.


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Saya tidur di rumah Maimunah (istri Nabi) dan Nabi sedang di sana malam itu. Kemudian beliau berwudhu dan mendirikan shalat, maka saya berdiri di sebelah kirinya, kemudian Rasulullah memegangku dan menempatkan aku di sebelah kanannya. Beliau shalat sebanyak 13 rakaat, lalu tidur sampai mengembuskan udara dari mulutnya, dan Nabi jika tidur biasa mengembuskan udara dari mulutnya. Kemudian datang muazin, maka Nabi keluar dan melaksanakan shalat tanpa berwudhu lagi.” (HR Bukhari dan Muslim).


Semoga bermanfaat.


happy reading*.