TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KISAH TERSELIP 2



Semenjak hari itu. Darren melihat kedua orang tuanya sering bertengkar. Bahkan, pria kecil itu juga melihat ibunya memecahkan semua barang.


Terkadang Darren melihat ayahnya sering ditampar oleh ibunya. Hal itu membuat pria kecil itu sedih. Apa yang terjadi, kenapa keluarga yang dulu harmonis mendadak seperti perang ini.


Setiap pulang entah dari mana. Firsha menjadi uring-uringan, dan tak segan memukuli Darren dengan sapu ijuk mau pun sapu lidi.


Tentu perbuatan kejinya itu ketika Ben, suaminya berdinas di luar kota.


"Awas. Jangan bilang-bilang sama Ayah kamu!" ancam Frisha.


"I-iya, Ma," cicit Darren lirih.


Hingga suatu sore. Pria itu datang bersama ibunya dan tengah berciuman di ruang tamu. Darren melihat dengan jelas siapa pria itu.


Pria kecil itu mengintip. Karena ceroboh, kakinya tersandung hingga ia terjatuh.


Mendengar suara seperti orang jatuh. Pria yang tengah menindih wanita itu langsung berdiri.


"Siapa itu!" teriak pria itu.


Frisha memang ada pembantu. Tapi, selalu pulang siang hari. Jadi di rumah tidak ada siapa-siapa kecuali ketiga anak-anaknya.


"Kenapa sayang?' tanya Frisha.


"Aku mendengar suara orang jatuh," jawab pria itu.


"Ah sudah. Biarkan saja. Ayo lanjutkan. Aku sudah tidak tahan!" rengek Frisha.


Sejurus kemudian terdengar suara desahan dan decapan. Bahkan pria itu menggendong Frisha ala bridal style ke kamarnya. Kamar di mana ia tidur dengan suaminya.


Kamar suci itu kini ternodai dengan perzinahan sang istri. Entah, rayuan apa yang pria itu gunakan. Karena paras Ben suaminya juga sangat tampan.


Yang membedakan adalah, tubuh mereka. Ya, Ben hanya bertubuh tegap saja tanpa otot dan kotak-kotak di perut. Walau tidak ada lemak bergelambir. Tapi, tubuh Ben sangat ideal.


Sedang pria yang kini tengah mencumbu seorang istri dari pria lain itu, memiliki tubuh sangat sempurna.


Otot yang bertonjolan, di lengan juga perut sixpack yang seksi. Juga tak lupa alat bercintanya yang mantap dan kuat.


Itu lah yang dicari wanita haus belaian ini. Kesibukan Ben sebagai CEO membuat dia sedikit mengesampingkan kebutuhan biologis istrinya.


Walau bayaran pria yang mencumbu Frisha saat ini tidak main-main. Yaitu sebuah proposal tender dengan PT Bermegah Pratama Group.


Frisha menyanggupinya. Wanita mantan sekretaris suaminya itu lupa. Jika semua berkas maupun proposal tender tidak disimpan di rumah.


"Jika kau mengadu kejadian ini. Aku pastikan kau akan mati. Darren!" ancamnya lalu menundukkan tubuhnya melihat pria kecil yang bersembunyi di bawah meja.


Pria itu menyipitkan matanya melihat sosok tubuh kecil itu yang gemetar ketakutan. Tidak begitu jelas. Sedang Darren melihat dengan jelas siapa pria itu.


Pria itu berdiri, lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu sambil memakai kacamata hitam.


Setelah yakin jika pria itu telah pergi dari rumah. Darren keluar dari tempat persembunyiannya.


Pria kecil itu menangis ketakutan hingga kencing di celana. Saat itu, Frisha keluar dari kamar dengan penampilan segar dengan tanda kemerahan di seluruh leher dan dadanya.


Wanita yang sedang mood cerah dan semangat itu, melihat Darren yang pipis di celana membuat emosinya memuncak.


Wanita itu langsung menarik tubuh kecil dengan sekuat tenaga kemudian mendorongnya hingga punggungnya membentur lemari kaca.


Darren langsung pingsan. Melihat tubuh putranya tak bergerak. Frisha seketika panik luar biasa.


Wanita itu langsung mendekati tubuh kecil yang meringkuk di lantai. Menggunakan kakinya ia menggoyang tubuh Darren.


"Hei ... bocah bangun!"


Tidak ada pergerakan. Firsha makin panik. Ia terus menggoyang Darren menggunakan kakinya.


Karena tidak bangun-bangun. Frisha akhirnya mau tak mau mengangkat tubuh Darren dan meletakkannya di kamar mandi pembantu.


Dengan segayung air dengan keji, wanita itu menyiram Darren dengan kasar.


"Hei, bangun kau!" teriaknya.


"Uhuk ... uhuk!" Darren tersadar.


"Cis ... cepat bersihkan bekas kencingmu itu! Jika kau dan adik-adikmu kumasakkan makanan!" bentaknya.


"I-iya, Ma," cicit Darren dengan tubuh gemetar.


"Cepat!" teriak Frisha.


Dengan tubuh gemetar dan tertatih menahan perih. Darren mengambil pel dan mulai membersihkan tempat di mana ia buang air kecil tadi.


bersambung.