
Setelah pergi ke ambasador tak membawa hasil. George terus meminta bantuan semua koleganya. Bahkan ia juga minta direktorat kependudukan untuk mengembalikan data putrinya.
"Ini semua data lahir dan semua bukti jika putri saya adalah warga negara kota ini Tuan!" ujarnya meletakan semua berkas-berkas terlegalisir asli.
"Memang semua cap ini asli. Tapi, kami tak bisa menemukan semua data di komputerisasi kami," sahut petugas direktorat pendudukan.
"Kan ada data yang tertulis Pak?" sahut George lagi.
"Anda jangan mengatur saya!" bentak petugas itu.
"Sudah sana pergi. Kami akan mencarinya lagi nanti!' usir petugas.
George terus memohon, bahkan setengah memaksa.
"Sekurity! Seret pria ini dan jangan sampai dia datang lagi!" bentak petugas itu.
"Tuan ... tolong saya Tuan ...!" teriak Goerge ketika diseret oleh para petugas keamanan.
Pria itu setengah di lempar ke luar gedung. Pria berusia setengah abad lebih itu pun tersungkur. George menangis.
"Putriku ... hiks ... hiks!"
Pria itu pun pergi menaiki mobilnya dengan jalan terpincang. Ia meringis kesakitan, sepertinya kakinya terkilir. Ia pun pulang dengan tangan kosong.
"Sayang, bagaimana?" tanya Miranda pada sang suami ketika pulang.
Melihat suaminya jalan terpincang, itu wanita itu pun berlari dan langsung membopong suaminya.
"Sayang ... apa yang terjadi?" tanyanya.
"Aku tak berhasil meyakinkan mereka, Sayang. Aku tak tahu harus kemana lagi," sahut pria itu lalu meratap.
Miranda pun ikut tersedu bersama suaminya. Keduanya saling berpelukan. Para maid yang menatap mereka juga ikut bersedih.
"Sayang, coba kau minta bantuan Tuan Dougher Young. Aku yakin jika dia mau membantumu," ujar Miranda memberi usul.
"Apa kau yakin, sayang?" tanya George tak yakin.
"Iya, sayang. Kita coba saja," ujar Miranda meyakinkan suaminya.
George pun berdiri. Miranda langsung menahannya.
"Mau kemana?"
"Aku harus menemui Tuan Dougher Young," jawab pria itu.
"Sayang, makan dulu, kakimu juga sepertinya terkilir," ujar Miranda melarang.
"Aku tak berselera," sahut Goerge.
"Sayang, kau harus kuat mencari putri kita, jika kau lemah begini, bagaimana kau bisa menemukannya!" rayu wanita itu.
Goerge akhirnya mengangguk. Pria itu pun makan walau hanya beberapa suap saja. Lalu, sang istri memanggil dokter keluarga untuk memeriksa kaki suaminya.
Sedang di benua lain. Keluarga Terra tampak baik-baik saja. Virgou sudah membawa istri dan enam anaknya ke mansion.
Herman datang bersama istri juga anak-anak. Ia baru mendengar berita tentang penyerangan itu.
"Assalamualaikum!"
sahutnya memberi salam.
"Lidya ... Lidya!" panggil Herman langsung.
"Wa'alaikumussalam, Ayah!' panggil Terra.
Wanita itu langsung mencium punggung tangan pria lanjut usia itu begitu juga dengan perempuan yang ada di sebelahnya. Sedang anak-anak mencium punggung tangan Terra.
"Kak Lidya!"
"Hei kenapa kalian mencari Lidya?" Haidar turun bersama Rion dan Darren.
Lidya baru turun setelah mendengar keributan di bawah. Gadis itu berlari memeluk Herman juga Khasya.
"Ayah ... Bunda!"
"Sayang ... apa kau tidak apa-apa?" tanya Herman lalu meminta tubuh kemenakannya.
"Telat ... ayah kemana aja kemarin?" sungut Haidar kesal.
Masalahnya selama tiga hari ponsel pria itu tak aktif bahkan juga dengan Khasya.
"Aku ke kampung halaman mendiang kakek Terra," jawab Herman, "kelima anakku diberi gelar kebangsawananya."
"Iya, jadi tiga hari kami tak boleh pegang ponsel, semua benda penghubung disita oleh abdi dalem," jelas Khasya lagi.
Haidar pun terdiam. Ia mengira jika pria itu sudah tak peduli lagi padanya. Ternyata paman dari istrinya itu mengukuhkan gelar bangsawan pada kelima anaknya juga gelar bangsawan untuk istrinya.
"Terra, kau juga dipanggil oleh pihak istana. Kau juga berdarah biru," ujar Herman memberitahu.
"Wah Mama darahnya tinta pulpen dong. Biru," ledek Rion.
"Hus ... nggak boleh gitu!" tegur Darren.
"Ini undangannya. Kau harus hadir Terra, begitu juga semuanya untuk ditulis silsilahnya," ujar Herman lagi sambil menyerahkan satu plakat berwarna emas.
Haidar, Darren, Rion dan Lidya terbengong dengan kotak terbuat dari kayu jati dan berisi satu benda persegi empat terbuat dari emas berukir. Itulah lambang plakat. Terra harus datang jika plakat sudah ada ditangannya.
"Apa harus, Yah?" tanya Terra.
"Harus sayang. Hingga anak dari Naisya masih mendapat gelar bangsawan nantinya,"ujar Khasya kini.
Haidar menggaruk kepala. Ia hanya mengikuti saja. Begitulah jika menikah dengan kaum bangsawan. Hingga beberapa keturunannya akan masih bergelar bangsawan.
"Berarti Darren, Rion dan Lidya tidak kan?" ujar Darren sedikit lega.
Herman menatap tiga anak itu. Ia menggeleng saja.
"Kalian juga masuk. Ayah sudah mendaftarkan nama kalian," jawab Herman santai.
"Ayah!" rengek Darren dan Rion.
"Ayah rasa ibumu juga tidak keberatan," sahut Herman lagi yang ditanggapi anggukan oleh Terra.
**************
Hari berganti. Di benua lain Goerge sudah bersiap untuk mendatangi perusahaan Dougher Young. Pebisnis dengan kasta tertinggi di negaranya. Pria itu masih sedikit terpincang. Ia sudah melakukan janji temu dengan pria itu.
"Selamat datang Tuan. Silahkan duduk. Tuan Dougher Young tengah berada dalam meeting. Sebentar lagi, beliau akan datang," jelas sekretaris pria itu.
George mendaratkan bokongnya di sofa. Ia berada di ruang tamu perusahaan itu. Design mewah menjamah mata yang memandang. Semua interior didesign oleh tangan-tangan berkualitas. Bahan-bahan terbaik dan nomor satu. Bahkan sofa yang pria itu duduki juga sangat nyaman.
"Silahkan diminum, Tuan," ujar wanita cantik itu menawarkan teh carmoline dan jahe.
"Terima kasih," ujar Goerge.
Pria itu menyeruput minuman hangat itu. Seketika pikirannya yang kusut menjadi tenang, bahkan perutnya yang dari tadi bergolak ikut tenang dan hangat.
Selama lima belas menit, Goerge masih setia menunggu. Hingga menit ke tujuh belas, barulah Frans menemuinya.
"Halo, selamat datang Tuan Vox!" sapa pria tampan itu.
George berdiri dan menyambut uluran tangan Frans dengan penuh harapan. Melihat mimik pria di depannya begitu frustrasi, Frans memintanya duduk.
"Duduk lah, Tuan."
George pun duduk. Ia berkali-kali menahan emosinya. Pria itu sudah menyiapkan semuanya.
"Tuan ... saya minta pertolongan pada anda Tuan," ujarnya memohon.
"Jika bisa, akan kulakukan," ujar Frans, "katakanlah!"
"Putriku menghilang di negara Indonesia Tuan. Datanya tiba-tiba hilang dan tak bisa terlacak," ujar Goerge dengan nada putus asa.
Tiba-tiba pria itu bersujud di hadapan pria penguasa bisnis itu. Ia memegang dan memohon penuh. Frans sampai kelimpungan dibuatnya.
"Saya mohon Tuan ... tolong lah saya!" pinta Goerge memelas, ia sudah menangis.
"Putriku ... hiks ... hiks ...!"
"Tuan ... tenanglah," pinta Frans memegang bahu pria itu lalu mengangkatnya.
"Tuan ... putri saya ... huuu ... uuu!"
"Tuan, saya mohon, berdirilah dulu. Katakan dengan benar apa yang terjadi?" tanya Frans menenangkan.
"Saya mengirim putri saya Deborah ke Indonesia karena kerjasama bisnis. Lalu dia menghilang entah kemana, kata direktorat pendudukan semua datanya hilang, kemungkinan putri saya sekarang dibuang entah ke mana," jelas George sambil terisak.
Frans terdiam. Ia sangat yakin, hanya satu orang yang bisa menghilangkan data orang lain.
Beberapa hari lalu. Pria itu juga mendengar kabar jika ada yang ingin melukai Lidya, putrinya. Namun luput dan yang terkena adalah Putri, sahabat dari Lidya karena menggantikan anak perempuannya itu.
Frans masih mencerna, ia pun menyimpulkan jika Deborah Vox ada andil dalam penyerangan Lidya.
"Tuan," panggil Goerge dengan wajah menyedihkan.
Frans sebenarnya sangat marah pada keluarga Vox karena berani menggangu keluarganya. Tetapi melihat keputus asaan pria yang duduk di depannya, Frans jadi tak tega.
"Pulang lah dulu, Tuan. Akan saya usahakan, untuk menolong putri anda," putus Frans.
Pria itu berdoa dalam hati agar Terra mau berbaik hati.
"Terima kasih Tuan .. terima kasih," ujar George.
Pria itu pun pergi dengan jalan terpincang. Frans yakin jika George terkilir. Tetapi, demi menemukan putrinya, pria paruh baya itu rela melakukan apa saja.
"Semoga Terra berbaik hati," harapnya.
bersambung.
Bakalan mau nggak ya Terra?
next?