TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERBEDAAN DUA IBU



Widya berkali-kali menatap cermin dan menepuk-nepuk pipinya yang selalu merona. Ia tak mau pulang dalam keadaan seperti ini. Ia takut, sang ibu akan menginterogasinya kali ini.


Setelah berhasil menenangkan dirinya. Barulah ia pulang dengan wajah datar. Beruntung hari ini atasannya tak menampakkan batang hidungnya. Ia tak mau lagi harus menetralisir perasaan yang datang menyerang.


Sayang, sepertinya keinginan gadis itu tak terlaksana. Gabe menunggunya di depan ruangan arsip. Widya sampai terkejut melihat sosok menjulang di depan pintu besar.


"Astaga!" pekiknya tak sadar.


Gabe hanya tersenyum simpul. Lagi dan lagi. Pria itu menggenggam tangan sang gadis. Widya hanya seperti tersihir dan mengikuti langkah pria itu.


"Tuan," panggilnya menahan laju langkah atasannya.


"Ada apa?" sahut pria itu masih setia menggenggam tangan gadis itu.


"Apa kita akan bergandengan lagi?" tanyanya tak enak.


"Apa kau keberatan?" tanya Gabe dengan perasaan kecewa dan hendak melepas genggamannya.


"Tidak bukan itu ...," sahut Widya cepat.


"Berarti tidak ada masalah," sahut pria itu kembali menggenggam tangan gadis itu.


Tangan Gabe yang menaut tangan sang gadis membawanya ke saku celananya. Hal itu membuat tubuh Widya menjadi menempel pada Tubuh kekar Gabe. Tinggi gadis itu hanya sedada pria yang terus menggenggam tangannya.


Gabe dapat merasakan aroma asli badan sang gadis. Sedikit aroma lavender dan melati menjadi satu. Ia yakin, jika Widya tak memakai parfum. Tetapi, justru wangi alami gadis itu membuat Gabe nyaman.


Sepanjang perjalanan menuju lobby. Gabe tak melepas tautannya. Widya makin menempel pada sosok yang melangkah tenang di sisinya. Semua mata memandang mereka tak berkedip.


Kini, barulah Widya merasakan aura kecemburuan. Tatapan sinis dan iri tersudut padanya. Gadis yang selama ini tidak pernah tau cara membentengi diri mengeratkan genggamannya.


Gabe merasakan jika tangan Widya meremas tangannya gusar. Pria itu menatap semua karyawati yang memandang sinis sosok cantik di sebelahnya.


"Jangan takut. Aku akan selalu bersamamu," bisik Gabe menenangkan Widya.


"Angkat kepalamu. Kau berhak melakukan apapun pada hidupmu!" tekan Gabe memberi titah.


Widya seperti mendapat ilmu pencerahan. Ya, sudah waktunya ia memutuskan apa yang terbaik untuknya. Soal nanti gagal atau dia terluka. Ia akan mencoba mencari cara menyembuhkan dan bangkit dari keterpurukan.


Gabe menurunkan gadis itu tepat di depan pagar rumah sederhana.


"Apa kau belum mau mengajakku masuk?" tanya Gabe.


Widya tercenung. Ia belum siap. Gabe mengerti.


"Titip salam untuk Ibumu," pamit Gabe.


"Baik Tuan terima kasih," sahut Widya lalu menutup pintu mobil.


Mobil BMW seri terbaru itu sudah pergi. Sriani melihat semuanya dari jendela. Ia begitu tak suka dengan cara putrinya Yeng menurutnya sudah keterlaluan.


"Mau jadi apa anak ini. Perempuan penggoda?" gerutunya kesal.


Begitu membuka pintu. Gadis itu langsung dituduh ibunya.


"Pulang dengan siapa kamu? Pria hidung belang?"


"Astaga, Ibu. Itu tadi atasanku!" sangkal Widya cepat.


"Oh sudah berani menyangkal sekarang. Atasanmu apa, sejak kapan seorang arsiper memiliki hubungan dengan atasannya!" tuduhan demi tuduhan dilempar Sriani pada sang putri.


Tujuan untuk melindungi anak gadisnya, malah membuat Widya terluka. Gadis itu menatap ibunya tak percaya, sedangkal itukan kepercayaan sang ibu padanya, hingga menuduhnya yang tidak-tidak?


Sedang di kampus Darren makin risih dengan perhatian seorang kakak dua tingkat di atasnya. Darren bahkan tidak mau meladeni gadis yang kini masih setia menunggu.


"Gimana, Dar. Apa kita ..."


"Maaf Kak. Saya tidak memiliki perasaan apa pun. Lagi pula saya masih di bawah umur untuk mengerti masalah perasan orang dewasa!" tolaknya langsung pada inti.


"Cinta tak mengenal usia, Dar!" seru gadis itu ngotot.


"Dan cinta tak pernah memaksa!" sela remaja tanggung itu.


Renata terdiam. Memang cinta tak pernah memaksa. Tapi, ia tulus mencintai pria yang baru saja mengalami mimpi basah itu.


Renata terdiam. Itulah yang selama ini ia abaikan. Keberadaan orang tua yang menyekolahkan dirinya hingga setinggi ini. Gadis itu masih berpikir labil dengan namanya cinta dan segala macamnya.


Darren meninggalkan Renata begitu saja. Pria remaja itu tak bisa berbasa-basi dan bermulut manis untuk menyenangkan orang lain.


Darren pulang dengan wajah gusar. Pria remaja itu sangat tidak nyaman dengan ungkapan Renata. Terlebih gadis itu cukup populer di kampus.


"Wah, gadis yang menaksirmu sangat cantik dan berkualitas, ia lumayan pintar loh," goda Haidar suatu hari.


Sungguh ia merasa tak nyaman. Haidar yang tahu jika ia salah, ia pun langsung paham jika putranya belum bisa mengungkapkan perasaannya. Putra sulungnya itu baru beranjak dari masa anak-anak. Sifat manja dan bergantung masih mendominasi Darren.


"Maaf, sayang. Bukan maksud Papa meledekmu. Jadi, abaikan saja oteh!" saran Haidar.


"Iya, Pa," sahut Darren dengan senyum kaku.


Haidar menghela napas panjang. Sepertinya, Terra dan dirinya harus mengajak remaja ini berbicara.


Haidar sudah mengatakan pada Terra sebelum makan malam. Ekspresi Darren yang suntuk menjadi buah bibir para balita.


"Ipu Tata Dallen penata mutanya tusut ya?" bisik Nai pada Sean.


"Tusut? Emang muta Tata Dallen paju pesti dipelista bial balus?" bisik Sean bingung.


"Ih, butan itu masut Nai. Itu pihat muta Tata Dallen. Eundat ada benyum. Dali tadi bibirlnya bembelut!' sahut Nai berbisik.


"Dar!" tegur Terra.


Darren hanya menghela napas. Ia memang sedang tidak mood sekarang. Tetapi mengabaikan teguran ibunya, ia merasa tidak enak.


Sebagai ibu, Terra berusaha mengerti putranya. Wanita itu pun membiarkan Darren mengekspresikan dirinya.


Makan malam usai. Semuanya kini sudah tidur di kamar masing-masing. Darren juga sudah berada di kamarnya. Ia sudah menyelesaikan semua tugas kuliahnya. Walau hatinya sedang tidak baik. Tetapi, untuk pelajaran ia tak mau mengambil resiko.


Tok ... tok ... tok!!


Bunyi pintu diketuk. Darren yang masih mengenakan Koko dan sarung langsung membuka pintu.


"Mama," panggilnya.


"Hai sayang. Boleh Mama masuk?"


"Tentu, Ma. Apa Papa nggak sekalian?" tanya Darren yang melihat ayahnya bersembunyi di balik lemari kaca.


Haidar tersenyum lebar. Pria itu akhirnya mengikuti istri dan anaknya masuk ke kamar. Darren mengganti bajunya begitu saja. Ia masih menganggap dirinya masih kecil. Haidar menggeleng kepala.


Setelah mengenakan piyama di depan ibunya. Ia pun naik ke tempat tidur. Terra berada di sisi kiri Darren sedang Haidar berada di sisi kanannya.


"Sayang. Bisa jelaskan kenapa mukamu tadi ditekuk sedemikian rupa?" tanya Terra sangat lembut.


Terdengar helaan napas panjang dari remaja itu. Darren menceritakan kegelisahannya. Ia sangat tidak nyaman dengan pengakuan Renata. Terra mendengarkan tanpa sela.


"Sayang, kamu harus siap menghadapi ini. Suatu hari jantung mu akan berdetak kencang ketika melihat seorang gadis. Kau akan merasa tertarik. Ada perasaan lain yang timbul dari hatimu. Coba tanya Papa, apa yang ia rasakan ketika jatuh cinta pertama kalinya," ujar Terra memulai memberi pengertian pada putranya.


"Kau tahu, cinta pertama Papa bukan sama Mama loh, tapi pada sosok gadis lain yang kini sudah meninggal dunia. Lalu tumbuh cinta-cinta lainnya. Dan berakhir mencintai Mamamu selamanya," jelas Haidar.


"Apa yang Papa perbuat untuk menangani itu?" tanya Darren penasaran.


"Nikmati saja sayang. Tapi ingat, kendalikan semuanya ke arah yang benar. Karena nanti ada momen di mana kau tak bisa mengendalikan perasaanmu. Hingga terjadi seperti Araya dan Theo," jelas Haidar.


Darren mulai menyimak dan mencoba mengerti.


"Untuk temanmu itu. Jika ia masih mengganggumu. Jangan hiraukan dia. Fokus apa yang jadi tujuanmu. Nikmati masa remajamu. Jangan terbebani untuk membahagiakan kami. Apa pun dirimu kami akan mendukung dan bahagia akan itu. Selama kamu bertanggung jawab," nasehat Terra panjang lebar.


bersambung.


beda Terra dan Sriani.


jelas lah ...


next?