TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
APA YANG KAU TABUR ITU YANG KAU TUAI 2



~ “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134).


~ "Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,


Imamat 19: 18


~ Na hi verena verāni, sammantīdha kudācanaṁ


averena ca sammanti, esa dhammo sanantano


Di waktu kapan pun di dunia ini, permusuhan tidak dapat reda dengan memusuhi; sebaliknya akan dapat reda dengan tidak memusuhi. Ini adalah pepatah kuno.


(Dhammapada, I : 5)


~ Om dewakrtasyainaso awaya janam


asi manusyakrtasi nama awaya janam


asipitra kitasi namo awaya janam asyatma


krtasyaenaso awaya janam


asyena sa' enase waya janam asi


yacchaham eno vidvamscakara


yacchavidvams tasya va ya janam asi


Artinya:


Om Sang Hyang Widhy Wasa, ampunilah dosa hamba terhadap-Mu. Ampunilah dosa hamba terhadap sesama manusia, terhadap orangtua hamba, terhadap teman hamba. Sang Hyang Widhy Wasa ampunilah dosa hamba terhadap segala macam dosa, terhadap dosa yang hamba lakukan dengan sadar atau tidak sadar. Sang Hyang Widhy Wasa semoga berkenan mengampuni semuanya itu.


*********************


Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Tidak ada manusia suci di dunia ini, kecuali Rasul dan para Nabi-Nya.


Sebagai manusia, memaafkan itu adalah perbuatan yang mulia. Berat memang. Tapi, percayalah. Mudah-mudahan dengan memaafkan, dosa kita sedikit dikurangi.



Terra begitu terharu ketika mendapat kejutan dari semua pegawainya. Dua kue ulang tahun datang dengan lilin menyala.



"Mama Ion mo iup ipu!" seru Rion kegirangan.



Terra menggendong Rion dan membantu meniup lilin. Bayi montok itu tertawa ceria sambil bertepuk tangan.



Lidya juga ingin meniup lilin yang satunya lagi. Dengan senang hati Haidar mengangkat tubuh Lidya dan membantu meniup lilin di kue satunya lagi.



Semua berbahagia. Terra mempersilahkan para tamu untuk memakan makanan yang telah dihidangkan. Para investor dari Jepang yang tadi diajak berkeliling perusahaan cyber yang dirintis Terra pun datang kembali.



Mereka membawa buket bunga mawar besar untuk Terra. Gadis itu tersenyum senang menerima dan mengucap terima kasih dalam bahasa Jepang.



Herman memberikan satu kalung emas dengan liontin huruf T yang bertaburan permata merah hati. Gadis itu sangat bahagia mendapatkan hadiah dengan nilai cukup mahal itu.



Gadis itu berkali-kali mencium pipi pamannya. Herman senang, Terra mau dekat dengannya.



Bart tak mau kalah. Ia telah menyuruh anak buahnya mencari satu cincin termahal yang ada. Sayang, benda itu tidak ada di semua toko perhiasan.



Mereka hanya mendapat cincin berlian dengan design klasik itu pun harganya hanya di atas sepuluh juta.



![](contribute/fiction/2617913/markdown/9415954/1630421774412.jpg)



Bart pun hanya bisa menghela napas. Ia memberikan hadiah sederhana itu pada cucunya.



Terra senang bukan main. Berkali-kali mendaratkan ciuman di pipi Bart dan ribuan ucapan terima kasih.



Dua wanita hanya berdiri disudut dengan senyum sinis dan iri. Entah terbuat dari apa hati kedua wanita itu. Meita dan Patricia sangat tidak menyukai semua kebaikan yang diperlihatkan Terra.



"imaging!" (pencitraan) umpatnya kesal.



"Drama queen!" (ratu drama!) makinya lagi.



'I bet he's not as good as she looks!" (aku tahu dia tak sebaik itu!) tuduhnya tak beralasan.



"The ring should have been given to me too." (mestinya, cincin itu dihadiakan juga untukku,) gumam keduanya iri.



Mereka iri dengan apa yang Terra dapatkan hari ini. Mereka tak sadar selama ini, keduanya mendapat gelimangan harta yang tak habis-habisnya.



Tiba-tiba, sosok mungil tersenyum padanya sambil memberikannya sebuah kue dalam piring kertas.



"Anti mo tue?' tawarnya dengan ramah.



"Aki hates you, little girl!" hardiknya.



Meita mendorong keras bahu Lidya hingga terjatuh. Piring kertas yang berisi kue tumpah mengenai bajunya.



"Atak Iya!"



Tiba-tiba Rion berteriak marah. Kejadian begitu cepat. Sebuah benda melayang dilempar oleh bayi montok itu.



Wush!



Prank!



"Aaaww!" pekik Meita. Keningnya berdarah.



Terra terkejut bukan main. Ia melihat bayinya sedang berkacak pinggang dengan wajah penuh amarah, sedang Lidya terduduk dengan pandangan kosong dengan baju kotor.



"Lidya!" pekik Terra.



Gadis itu bergegas menuju gadis kecil yang shock. Terra menangis histeris. Ia sangat tahu kondisi kejiwaan putrinya.



Lagi-lagi Lidya menatapnya dengan pandangan kosong. Terra menangis melihat tatapan itu.



Meita langsung kena tampar oleh Frans. Menyuruh beberapa pengawal langsung mengirimnya pulang. Ia juga menyuruh Patricia ikut pulang bersama Meita.



"Hold your temper, kid!" (Tahan emosimu, Nak!) ucap Bart memperingati.



"This is too much dad!" (ini sudah keterlaluan, Dad!) saut Frans emosi. "I can't take it anymore!" (aku tak bisa menahannya lagi!)



Kedua perempuan itu digeret keluar. Terra tak memperhatikan apa yang terjadi. Ia terus memanggil putrinya.



Bart bertanya pada Bram apa yang terjadi. Bram pun menceritakan semuanya yang terjadi pada gadis kecil itu.




Sedang Virgou nampak shock. Ia melihat dengan jelas Rion melempar gelas koktail kosong begitu kuat tepat mengenai kepala Meita. Pria itu menatap takjub bayi montok itu.



Virgou mendatangi Rion dan langsung memeluk bayi menggemaskan itu. Melihat dirinya dipeluk oleh orang tak dikenal, membuatnya murka.



Dengan keras ia memukuli wajah Virgou hingga berbunyi.



Bug! Bug! Bug!



"Aw!" pekik Virgou kesakitan, hingga pelukannya terlepas.



"Sipasa pamu!" teriaknya.



"Om Pudi! Putun wowang ipu!" titah Rion kesal.



Budiman bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia pun mendekati pria itu dan berpura-pura memukulnya.



"Lan tetas!" pekik Rion lagi.



Budiman pun terpaksa sedikit mendorong dan memukul lengannya agar berbunyi. Merasa dibodohi Rion pun berteriak sambil menangis.



"Mama ... Ion ti putun wowang ipu Mama. Tanan Ion syatit ... huuuwaaaa!" adu Rion lagi sambil memperlihatkan buku tangannya yang memerah.



Mendengar anaknya dipukuli dan melihat buku tangan bayinya memerah. Terra yang tengah mengembalikan kesadaran Lidya makin berang.



Gadis itu meyerahkan begitu saja gadis kecil itu entah pada siapa. Beruntung ada Bart di dekatnya. Mak Bart yang langsung mendekap Lidya dalam pelukannya.



Terra yang gelap mata, tanpa bisa dicegah memukuli Virgou dua kali. Haidar langsung menarik gadis itu agar tidak brutal.



"Tahan sayang. Virgou tak pernah memukuli Rion. Baby kita lah yang memukuli wajah Virgou terlalu keras," ucap Haidar menjelaskan.



Terra terdiam.



"Jadi bukan Baby yang dipukuli?" tanya Terra.



"Bukan sayang," jawab Haidar.



"Oh," saut Terra singkat sambil nyengir kepada Virgou.



Lidya yang sudah tersadar dan melihat ibunya tengah memukuli orang. Langsung minta turun.



"Belhenti!" pekiknya.



Terra menoleh. Ia pun terharu, putrinya kembali. Namun kemudian ia melihat wajah Lidya yang penuh dengan kesedihan.



"Tenapa syemua olan main putun-putun aja ... hiks ... hiks," ucapnya sambil menangis.



Gadis kecil itu berjalan sambil tersedu ke arah Virgou yang kesakitan.



"Tenapa main putun, itu tan syatit ... hiks ... hiks!"



"Dali dulu, Iya syelalu lihat Tata Dallen diputun sama Mama Icha, syampai beuldalah dan eunda banun-banun. Iya, syedih talna eunda bisya nolon .... huuu ... uuu ... hiks ... hiks!"



Semua diam, ikut terhanyut akan kisah kelam yang gadis kecil itu ceritakan.



"Watu itu, pas Iya liyat Tata Dallen diputun, Iya beldoa syama Allah ... hiks ... hiks!"



"Yaa Allah, dhita pelutan dan ciuman Iya bisya dadhi obat. Tolon buat pelutan dan ciuman ini syebadai obat untut Tata Iya dan olang-olang yan Iya syayangi ... hiks ... hiks ...!"



Terra menutup mulutnya. Ia menangis mendengar perkataan Lidya. Sekarang ia tahu dari mana kekuatan pelukan Lidya selama ini. Ternyata Tuhan mengabulkan doa gadis kecilnya.



Semua diam, sibuk menghapus air mata mereka. Dada kesemuanya sesak. Mereka membayangkan bagaimana gadis sekecil ini melewati sebuah kejadian yang menyeramkan.



Bart ikut menangis mendengar apa yang dikatakan cucunya itu. Bram mengartikan perkataan Lidya.



Lidya mendatangi Virgou. Membelai pipi yang memar dengan derai air mata. Gadis kecil itu ikut merasakan betapa sakitnya pipi yang dipukuli tadi itu.



"Dedi tidat apa-apa?" tanyanya khawatir. "Syatit, ya?"



Virgou mengangguk, jantungnya seperti meledak saat Lidya menyentuhnya.



Cup! Cup!



dua buah kecupan mendarat di pipi Virgou yang memar. Pria itu langsung meneteskan air mata tanpa sadar. Lidya memeluknya. Virgou langsung menangis sesengukan.



Hatinya begitu meronta mendapat kasih sayang yang begitu besar dari Lidya. Virgou sampai meraung dibuatnya.



"Maafkan aku ... maafkan aku, sayang," pintanya sambil menangis.



"Tidat apa-apa, tidat apa-apa dedi ... ada Iya di syini, syemua pasyti bait-bait sadha!" ucap Lidya menenangkan Virgou.



Semuanya pun larut dalam kesenduan yang mengharu biru.



bersambung ...



ah ... Lidya🙂



next?



banyak kan isinya !!!