TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SOMBONG ITU TIDAK ADA TEMPATNYA



Pernikahan benar-benar tinggal hitungan jam. Tenda yang didirikan juga sangat mewah, hiasan bunga asli menghiasi pelaminan.


Sedang Seruni sudah memakai gamis warna putih berlapis brokat. Terra dan Khasya menemaninya ketika fitting baju pengantin ini. Jemari Seruni begitu dingin. Bayangan kegagalan masa lalu masih menghantuinya.


Beberapa hari lalu, ketika mantan calon mertuanya datang dan menyumpahinya macam-macam karena sudah mengusirnya. Gadis itu menangis di pangkuan Hadijah. Wanita sepuh itu tak bisa membela muridnya.


"Maafkan Nyai yang bodoh ini, Nak. Maafkan, Nyai," ujar Hadijah sambil terisak.


"Dasar gadis cacat. Saya yakin kau akan bernasib seperti yang dulu. Ditinggal calon pengantin!" sumpah buruk Sasmi, begitu menyakitkan gadis itu.


"Oh ya, kamu masih berutang lima belas juta lagi ke saya perihal pesta tahun lalu!' ujar Sasmi.


"Saya sudah melunasinya!" bentak Seruni.


"Belum lunas!"


"Pesta itu hanya dua puluh juta, separuhnya memakai uang saya!" pekik Seruni.


"Saya tidak peduli. Besok saya akan mempermalukan kamu dengan bukti utang!" ancam Sasmi tak mau kalah.


"Saya juga punya bukti kalau saya sudah membayar utang saya!'' aku Seruni..


Sasmi terdiam. Rudi langsung menariknya. Mereka pulang dan Seruni menangis dipangkuan Hadijah.


Sekarang baru pukul 08.00 Akad akan dilangsungkan pukul 09.00. Satu jam lagi. Terdengar bunyi mobil berhenti. Terdengar keributan para tetangga yang kepo.


Beberapa mobil mewah berhenti di lapangan sepak bola dekat rumah. Para panitia dan pihak RT juga RW telah mengaturnya. Semua menjalankan tugas masing-masing. Pengantin pria keluar beserta rombongan membawa seserahan yang dibungkus cantik.


Semua mata membelalak ketika datang satu unit mobil sedan mewah keluaran terbaru. Bertuliskan mahar di kaca depan mobil. Banyak penjaga yang mengelilingi mobil mewah berwarna hitam itu.


"Gila ... itu maharnya mobil?" tanya tetangga dengan mata nyaris menggelinding dari tempatnya.


"Matre banget Seruni. Nggak tahu malu ya. Padahal dia kan cacat!"


"Eh ... itu mobil pasti nyicil deh! Mana mungkin ada yang bisa cash!"


"Mulut memang tak akan berhenti bicara sebelum penuh mulut itu dengan tanah!" sindir Gio sarkas.


Pria itu sangat kesal dengan gunjingan orang tak berperasaan. Mereka asal bicara, tanpa ingin tahu kebenarannya. Gio mencuri dengar waktu adik sepupu atasannya itu bertanya perihal mahar.


"Semampu Mas, aja. Saya tidak memberatkan. Tapi, jika boleh meminta. Saya ingin cincin seberat lima gram," jawab Seruni waktu itu.


Dav menyanggupinya. Ia pun menambah maharnya dengan menuliskannya lalu menyerahkan pada Gustaf. Pria sepuh itu sampai membelalakkan matanya.


"Ini ... ini, apa benar sebanyak ini?"


Dav mengangguk yakin. Seruni yang memang tidak tahu berapa banyak mahar yang ia terima dari David hanya diam dan menyerahkan semua pada walinya.


David membenahi kemeja putih dan pecinya. Ia begitu tampan dengan sejuta pesona luar biasa. Semua turun dengan memakai baju seragam yakni warna navi untuk pria dan merah muda untuk wanita.


"Wah, calonnya bule, ganteng amat!" seru salah satu wanita.


Semua pada sibuk memfoto. Banyaknya pengawal dan polisi yang menjaga menjadi ruang gerak mereka terbatas. Mereka menunggu, kejadian lalu terulang lagi. Seruni akan malu lagi yang kedua kali.


"Eh, bakalan ditinggal lari enggak ya?" bisik salah satu tetangga.


Banyak tamu-tamu dengan pakaian jas mewah dan gaun mahal duduk di kursi yang dihias cantik itu. Semua memandang takjub. Orang-orang bersaldo tebal itu tak sungkan duduk di bawah tenda dan kursi plastik yang dihias.


Dav masuk dengan melepas sepatunya. Pria itu duduk di depan wali juga penghulu. Tampak ketegangan di wajah pria itu. Penghulu sampai terkekeh melihatnya.


"Apa sudah yakin?''


Nampak David menghela napasnya. Pria itu mengucap basmalah.


"Ada yang keberatan dengan pernikahan ini?" tanya Penghulu.


"Saya keberatan, Pak!" teriak Rudi.


Semua menoleh padanya. Pria itu dengan jumawa berdiri. Wanita di sebelahnya tersenyum sinis. Sungguh ia ingin mempermalukan pengantin.


Sama ketika ia malu ketika menikahkan putrinya dua hari lalu dan gagal karena prianya langsung menalak putrinya saat itu juga.


"Maaf, kenapa anda keberatan dengan pernikahan ini?" tanya Virgou dengan tatapan tajam.


Rudi gemetaran. Sasmi pun begitu. Ia mengira bule-bule itu tak bisa berbahasa Indonesia.


"Saya tanya lagi. Apa sangkut pautnya anda hingga keberatan dengan pernikahan adik saya ini!" tekan Virgou dengan wajah garang.


"Dia ... dia masih punya utang!" pekik Sasmi tak tau malu.


"Oh ini toh, orang tua yang anaknya lari dari pernikahan?!" sahut Virgou lalu berkacak pinggang.


"Baik. Berapa hutangnya?" tanyanya kemudian.


"Lima ... lima ... lima puluh juta!" Rudi asal sebut angka.


Virgou mengangguk.


"Mana bukti utang nya?" tanya pria itu.


Rudi menelan saliva. Sasmi apa lagi. Tiba-tiba seorang pria dan wanita datang. Keduanya meminta masuk dan memohon maaf pada orang tuanya.


"Pak, biarkan saya masuk dan mengambil kedua orang tua saya!"


"Itu orang tuamu?" tanya Gio sambil melihat pria yang memohon itu.


"Benar, Pak. Keduanya memang sedikit mengalami gangguan jiwa," ujarnya berbohong.


Tiba-tiba sepasang suami istri itu digelandang polisi, atas tuduhan pembuat onar dan tuduhan bukti palsu juga pencemaran nama baik. Pria yang bernama Waskito dan istrinya itu langsung mendatangi pihak polisi.


"Maaf, kami tak bisa membebaskan orang tua anda sebelum ada penyelidikan lanjut," jelas kepolisian. "Anda silahkan datang ke kantor kami sekarang!"


Sedang di dalam ruangan tampak mulai tenang. Bart hanya geleng-geleng kepala. Leon juga sudah datang dua minggu lalu. Sayang, Patricia tak bisa hadir karena kendala Visa yang habis. Ibunya memberikan doa terbaik via panggilan video tadi pagi.


"Baik, sepertinya kerusuhan sudah bisa diatasi. Kita mulai?!" Dav mengangguk sambil menghembus napas besar.


"Jabat walinya!" titah penghulu yang langsung dikerjakan oleh Dav.


Dua pria beda usia saling berjabat tangan erat. Sedangkan di kamar, Seruni tak berhenti menitikkan air mata. Hadijah yang ada di sisinya, nampak menenangkannya. Terlebih tadi, Seruni mendengar keributan yang dibuat oleh mantan calon mertuanya.


"Aku kira, mereka masih memiliki muka untuk mengacaukan pesta ini," ujarnya terisak.


Ia sangat takut dengan anggapan dari anggota keluarga calon suaminya. Hadijah tak bisa melakukan apa pun kecuali mendoakan yang terbaik. Ini kedua kalinya wanita sepuh itu menemani Seruni di kamarnya. Hadijah juga masih takut bayang-bayang kegagalan akan menghampiri murid kesayangannya itu.


Hingga tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu. Dua wanita beda usia ini malah menahan ketakutan. Mereka mengira jika Seruni kembali ditinggal oleh calon pengantinnya.


"Nyai, tolong bawa pengantinnya, Seruni telah sah menjadi seorang istri!" ujar Darren memberitahu.


"A ... apa katanya tadi, Nyai?" tanya Seruni bingung.


bersambung.


lah ... pada bengong kan nggak tau berapa mahar yang diberikan Dav buat Seruni?


next?