TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
EMPAT PERUSUH PLUS HARUN



Demian dan Darren di suruh menyingkir dari permainan oleh Virgou. Sky memarahi dua pria tampan itu.


"Polan pewasa pidat poleh bain pama anat teusyil!" peringat bayi itu dengan bibir mancung.


Demian yang gemas mencium Sky sampai bayi itu protes.


"Papa Bemian!" pekiknya marah.


"Kau menggemaskan perusuh!" sungut Demian geregetan.


Domesh, Bomesh dan Benua mengamati permainan. Tim Kean kalah.


"Ata'Tean talah!" teriak Bomesh memberitahu.


Sky menyingkirkan Demian dengan mendorong pria itu. Empat perusuh itu langsung mendekati tim yang kalah. Mereka minta gendong juga.


"Loh, kalian kan nggak main. Kok minta gendong?" sahut Sean menggoda adiknya.


Sky, Domesh, Benua, dan Bomesh menatap Sean dengan pandangan sedih. Sean salah tingkah.


"Ish ... suka amat sih godain adiknya!" sela Satya pada Sean.


Remaja itu sudah keluar dari traumanya. Ia membuka hati dari ketakutannya selama ini.


"Ayo, Kak Sat yang gendong Sky!" ujar remaja itu lalu menyamakan tinggi dengan bayi itu.


Sky tersenyum lebar. Sean pun menggendong Benua. Kean menggendong Bomesh sedang Domesh digendong Satrio.


Mereka tertawa-tawa. Keseruan terus berlangsung hingga Virgou menghentikan semuanya.


"Ayo, waktunya makan siang!" teriaknya.


Semua pun bubar. Tongkat untuk bermain disimpan oleh Dimas.


"Mashaallah ... kotornya kalian!" tegur Kanya.


Semua hanya tersenyum lebar Peluh mereka tanda jika mereka selalu serius dalam mengerjakan semuanya.


"Cuci tangan kalian baru makan!" titah Khasya pada anak-anak.


Semua pergi ke wastafel mengantri. Harun yang satu tahun hari ini tengah duduk.


"Selamat ulang tahun Harun!"


Sebuah kue ulang tahun ukuran besar datang. Herman memang menyiapkannya. Virgou bukannya tak ingat. Tapi, Herman yang meminta untuk merayakan ulang tahun putra Virgou itu di mansionnya.


Harun tertawa-tawa melihat kue warna-warni itu. Semua mencium bayi tampan bermata biru itu.


"Patasih ... patasih!" ucap bayi itu.


Semua makan dengan tenang. Sky minta Safitri menyuapinya. yang diikuti Benua, Bomesh dan Domesh.


"Hei, ini istriku. Kenapa malah kalian memonopolinya!" seru Darren pura-pura galak.


"Darren!" peringat Terra.


"Ck ... kau ini!" keluh Virgou.


"Bistli?" Sky memiringkan kepalanya.


"Pemanna bistli pa'a?" tanyanya kemudian.


"Mama ipu manana pistli!" sahut Domesh menjawab pertanyaan Sky.


"Talo puami ipu yan pipandhil papa!" jelasnya lagi.


"Oh bedhitu," angguk Sky mengerti.


Terra melongo. Ia lupa jika Bomesh dan Domesh sudah tau istilah suami istri dan kata-kata lainnya. Maria malu melihat betapa kedua putranya bukan bayi polos lagi.


"Sudah jangan malu. Dua perusuh itu sangat pintar. Kau harus bangga pada mereka!" ujar Bart menenangkan perempuan itu.


"Sayang, rumah istriku tak ada yang mau membeli dengan harga tinggi," keluh Gomesh.


Pria raksasa itu benar-benar ingin pindah dari perkampungan tempat tinggal istrinya. Kemarin ketika satu hari di rumah. Kejadian yang selalu putranya ceritakan terjadi.


"Memangnya kenapa?"


"Rumah bangunan lama. Lokasinya terlalu padat. Banyak yang tak menyukai lokasi itu. Padahal harga jual di sana cukup tinggi," jelas Gomesh.


"Kamu sudah kutawari rumah sebelum kau menikah. Tapi kau tolak," gerutu Virgou mengingat.


Gomesh hanya tersenyum kecut. Ia memang menyesal tak mengambil rumah yang ditawari oleh atasannya itu.


"Apa gajimu tak sanggup beli rumah sederhana?" ledek Haidar.


"Jangan-jangan kau bekerja tak digaji oleh bossmu itu!" ledeknya kini pada sosok bermata biru.


"Enak saja kau!" elak Virgou.


"Pelisit!" teriak Harun.


Baik Virgou dan Haidar berhenti. Keduanya menatap bayi tampan itu yang santai memakan kuenya.


"Kau berkata apa barusan?" tanya Virgou mengangkat bayi itu.


Tak lama gelak tawa terdengar dari mulut Harun. Haidar juga ikut menggelitik bayi itu.


"Teulnyata padhi polan dedhe ipu taya pita ya," cibir Domesh.


Haidar mendengar cibiran bayi belum empat tahun itu. Ia berjalan menuju bayi pintar itu dan menggelitiknya. Bukan hanya Domesh, Sky, Dan Benua juga tak luput dari gelitikan Haidar.


Gabe sudah pulang dua minggu lalu bersama istri dan anaknya. Semua anak sedih ditinggal oleh saudaranya.


Kini Gabe melakukan panggilan video. Leon dan Frans hadir di sana mereka semua memberi selamat pada Harun.


"Pita panyi-panyi!" teriak Sky antusias.


Satrio sudah menyiapkan mik. Harun juga tak mau kalah. Bayi itu ingin bernyanyi.


"Pasu ... pasu ... abu bawan pibu. puwa ... puwa ... budat layan bayah ... bida ... bida ... payan badit tatat ... basu, buwa, didha ... bayan pesumana!"


Semua tersenyum lebar mendengar bayi itu bernyanyi. Sepertinya ajaran kakak-kakaknya berhasil. Kaila yang sering mengajak adiknya untuk mengobrol.


Tak lama Karina, suami dan anak-anaknya. pamit pulang.


Semua sedih. Satya berada dalam pelukan Lidya. Remaja itu makin tenang dan damai. Ia sudah bisa membuka hatinya.


Raka memeluk dan mencium gadis kecil penenang hatinya yang kini sudah menjadi wanita bahkan akan menjadi seorang ibu sebentar lagi.


Kanya dan Bram ikut pamit pulang. Mertua dari Terra itu mengingatkan untuk kembali menginap di mansionnya.


Keseruan ulang tahun Harun masih berlangsung. Mansion Herman sedikit lengang karena manusia mulai berkurang.


Rion terlelap di sofa. Darren menatap adiknya itu.


"Baby, pindah ke dalam sana!" titah pria itu lembut.


"Gendong!" rengek Rion manja.


Darren terkekeh. Tentu tubuh Rion bukan anak kecil. Bahkan Rion jauh lebih besar dari Darren. Remaja itu menaiki punggung kakaknya. Darren membawa adiknya ke kamar.


"Kau berat juga!" ledeknya.


Rion yang sepertinya mengantuk. Ia acuh dengan ledekan kakaknya. Darren mengecup kening adiknya lalu meninggalkannya.


Saf dan Lidya sudah masuk kamar. Wanita hamil juga cepat lelah. Demian masih sibuk dengan kameranya merekam semua tingkah empat perusuh plus Harun.


"Sepertinya anggota perusuh akan bertambah!" ujarnya gemas.


Herman menatap empat bayi ajaib itu. Ia mengangguk setuju. Semua anak remaja mulai memasuki kamar mereka.


"Bomesh pelum banyi!" teriak bayi itu.


"Janan ada yan pidul siyan!" larangnya kemudian dengan nada marah luar biasa.


"Pawu imi ... Domesh syama Penua judha pelum banyi!" protes Domesh.


"Meleta ... huuwwaah ... taya pita eundat mantut paja!" gerutu Benua.


"Apa kita baru saja diocehi balita?" tanya Nai tak percaya.


Semua mengangguk setuju. Sedang empat perusuh sudah berkacak pinggang dengan wajah garang. Harun yang melihat keempat kakaknya mengikuti tingkah mereka.


"Budut pemua!" titah Bomesh dengan wajah garang.


Demian dan Darren geregetan. Sampai geraham mereka berbunyi karena gigi yang beradu. Keduanya gemas melihat muka Bomesh yang marah.


"Papa cium ya!"


Demian mencium gemas Bomesh yang diprotes oleh lainnya.


"Bomesh pawu banyi!" teriak Sky.


"Ah ... maaf ... tapi habis ini kalian adalah gilirannya!" seru Demian.


Musik bermain. Satu lagu dangdut. Bart dan Dav tak tahu itu lagu apa. Sedang Virgou membelalakkan matanya ketika Bomesh menyanyikan lagunya.


"Peupuluh bahun pudah ... pita peulumah tanda. pati peulum judha beunpadat tan bulta ... panan beulsyedih ... panan beulduta ... pohon badana ... talam beuldoa!"


bersambung.


akhirnya Bomesh berhasil menyanyikan lagu Mandul.


next?