TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENCINTAIMU ADALAH KEBENARAN 2



Di sebuah bangunan kokoh. Di mana banyak berseliweran orang-orang memakai seragam putih-putih atau berjas sneli dengan stetoskop yang menggantung di leher atau di letakkan di kantong.


Sosok berjas sneli dilapisi baju operasi kamer berwarna biru. Lengkap dengan penutup kepala dan masker. Sosok bertubuh tegap menatap penuh rindu pada sosok yang terbaring lemah.


Wanita yang divonis kanker payudara stadium 3 ini. Baru saja diobservasi. Melihat jaringan kanker yang menyebar Ternyata, belum begitu merusak jaringan payudara tersebut. Maka ia menurunkan level kanker jadi stadium awal.


"Besok, adalah operasi pengangkatan sel kanker kamu. Apa sudah siap, sayang?' tanya pria itu sambil menggenggam tangan istrinya.


Ya dialah Dr. Harya Suherman onkologi. Dokter spesialis kanker. Secara kebetulan ia yang menangani langsung penyakit istrinya. Sebenarnya, pria itu cukup kaget mendapati nama istrinya sebagai pasien khusus VVIP dari pemilik rumah sakit ini.


Bahkan ketika pihak administrasi bertanya perihal wali pasien. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun dengan gagah mengatakan ia adalah wali dari ibunya yang sakit.


Harya menangis ketika melihat tubuh kurus Didi. Pria itu ingat betapa dulu ia membohongi istrinya berasal dari keluarga miskin. Cinta membutakan, Nimasayu Djayadi adalah seorang putri yang lahir dan dibesarkan di keraton. Ayahnya merupakan seorang abdi dalem.


Mereka menikah tanpa restu dari orang tua sang gadis. Ternyata kenekatannya membuat wanita yang ia cintai sengsara seperti ini. Gara-gara dia, gadis ini dibuang oleh keluarganya.


Harya pergi meninggalkan mereka ketika dijemput paksa adik perempuannya. Ia melihat Didi yang kala itu berusia empat tahun menatap kepergiannya dengan nanar sedang istrinya hanya menangis tertahan.


Harya memilih ikut keluarga agar kehidupan mereka lebih baik. Selama enam tahun mengikuti keinginan keluarga. Ia belajar dengan giat. Hingga menjadi dokter dan langsung mengambil spesialisasi kanker untuk program S2 nya.


Didi yang belum mengenalnya karena memakai masker. Tak menggubris keberadaannya. Harya menahan semua luapan rindu itu. ia harus menyiapkan segala peralatan untuk memeriksa pasien.


Setelah mematikan sel kanker dengan sinar laser. Nimas tertidur, karena efek obat. Harya mendekati Nimas dengan hati-hati. Didi datang dengan baju OK komplit.


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Didi cemas.


"Ibumu baik-baik saja. Kankernya juga belum sampai stadium 3, walau kita tak boleh mengabaikannya," jawab Harya.


Didi mengerutkan alis. Ia merasa familiar dengan suara yang didengarnya. Tapi, ia segera mengusir pikirannya.


"Jadi maksudnya, Dok?"


"Penyakit Ibumu, bisa cepat sembuh," jawab Harya lagi.


Tampak binar kebahagiaan dari raut wajah Didi. Ia mengucap syukur alhamdulilah berkali-kali.


"Alhamdulillah yaa Allah ...."


"Nak," panggil Harya dengan suara tercekat.


Harya membuka maskernya. Didi langsung beringsut mundur. Ia cukup terkejut melihat wajah yang selama ini dibencinya, walau sang ibu tak pernah mengajarkan kebencian padanya.


Tak ada kata keluar dari pria kecil itu. Bahkan tak ada larangan ketika Harya melakukan pemeriksaan dengan menyentuh ibunya.


Nimas sadar. Ia melihat wajah di hadapannya. Satu titik bening menetes dari pelupuk matanya.


"Mas Harya!' panggilnya.


"Sayang ... kau ingat aku ... huuu ... mmmm!" Harya menangis ketika Nimas mengingat dirinya.


Harya menceritakan semuanya. Ia menjelaskan alasannya kenapa ia pergi meninggalkan mereka dalam keadaan terpuruk selama enam tahun. Untuk membuat hidup mereka lebih baik sekaligus berbakti pada ibunya yang sudah meninggal dunia dua tahun lalu.


"Ibu memberiku syarat untuk bisa membuat hidup kita lebih baik. Tapi aku tak sangka jika kau menderita selama enam tahun ini. Padahal ibuku bersumpah setiap bulan mengirimimu uang," ucap Harya.


Didi yang mendengarnya pun akhirnya mengakhiri kesalah pahamannya. Ia mengira jika sang ayah sama sekali tak peduli dengan mereka.


"Tas kami hanyut dibawa banjir saat itu Mas. Semua kartu ATM dan surat berharga lainnya ludes terbawa derasnya arus," cerita Nimas.


"Makanya kami hidup seperti ini," lanjutnya sambil terisak.


"Maafkan aku ... huuu ... maafkan aku ... hiks ... hiks!"


Didi menghampiri Harya. Pria yang menatapnya dengan derai air mata. Ketika ia mengamit tangan pria itu. Harya langsung memeluknya erat. Meminta maaf berkali-kali. Didi menghela napas masygul. Ia akan bahagia nanti. Ibunya sembuh dan ayahnya kembali.


"Rama!" panggilnya.


"Nak ... anakku!"


Mereka pun berpelukan dengan erat.


Kini ia melihat sosok putranya sudah terlelap di kasur lainnya. Ia menatap wajah Nimas, istrinya. Mencium bibir yang selama ini ia rindukan bahkan dengan berani menaut lebih dalam.


"Jatuh cinta padamu adalah kenekatanku, tapi balasan dari cintamu adalah keberuntunganku," ujarnya setelah melepas tautan bibirnya.


"Mencintaimu adalah kebenaran sesungguhnya," lanjutnya.


******************


Sedang di tempat lain. Zhain baru saja menidurkan Raka, putranya di kamar. Menatap ruang tidur yang lumayan besar. Ia sudah membayangkan dekorasi yang diinginkan putranya.


Ia merebahkan diri di ranjang bersebelahan dengan sang putra.


Drrrtt ... drrtt


Bunyi telepon. Ia mengambil ponsel itu lalu melihat siapa yang menghubunginya.


"Papa!" pria itu membaca nama yang tertera di dalam ponsel.


Ia pun mematikan ponselnya. Ia sudah bertekad tidak mau lagi berhubungan dengan ayahnya yang selalu mengatur hidupnya itu. Bahkan dengan tega menjebak ia dengan berbagai macam perempuan. Beruntung ia masih bisa lolos dari jebakan itu. Tuhan masih melindunginya.


Lagi dan lagi, Zhain mengelus wajah sang putra. Ia tak pernah bosan. Kerinduannya selama ini terobati. Ia pun mencium pipi Raka dengan hati-hati.


"Eeeh ... Papa," rengek Raka.


Raka memeluknya erat dalam tidur. Ia pun membalas pelukan Raka. Karina membuka pintu kamar putranya. Melihat Raka memeluk erat pria yang masih berstatus suaminya walau entah sah atau tidak. Tapi kata-kata cerai dan talak itu memang tak pernah keluar dari mulut pria itu.


Andai dulu mereka tak tersulut ego. Mungkin ia akan bahagia. Tapi, Karina membuang semua kesalahan yang mereka perbuat dahulu.


"Semua perbuatanku selama ini memang salah. Tapi mencintaimu adalah kebenaran." gumam Karina.


Ia pun melangkah mendekati ranjang Raka. Berbaring di belakang tubuh suami dan memeluknya erat.


Zhain yang merasa dipeluk istrinya hanya mengulas senyum. Ia membelai tangan Karina yang melingkar di perutnya.


"Kamu kurusan, Mas," bisik Karina.


"Itu karena nggak diurusi kamu, sayang," ujar Zhain ikut berbisik.


Raka berbalik dan melepas pelukannya. Zhain membalik tubuhnya memunggungi Raka. Menatap wajah wanita yang selalu mengganggu mimpinya selama sebelas tahun.


Karina tersenyum. Mendaratkan kecupan di bibir sang suami. Zhain yang mendapat lampu hijau langsung menyambar belahan kenyal yang sangat ia rindukan itu.


"Mencintaimu adalah kebenaran," gumamnya dalam hati.


bersambung.


cinta itu kamu dan kamu adalah cinta ...


ba bowu Readers ...


next?