
"Sayang!" Bart merentangkan tangannya.
Terra berlari ke pelukan sang kakek. Bart memeluknya erat, pria tua itu sedih ketika mendengar penyerangan yang dialami oleh cucunya itu.
"Sayang, aku akan menambah lagi pasukan pengawalmu, kamu masih belum aman, Nak!" ujar Bart langsung tanpa bisa dibantah.
"Te nggak suka terlalu ramai, Grandpa!" rengeknya manja.
"Tidak ada penolakan sayang. Budiman hanya sendirian selama ini menjagamu. Bukan hanya menjagamu, bahkan ia menjadi supirmu," sahut Bart lagi.
"Meeting kita sudah disepakati dari tadi. Jadi benar kau ingin mundur dari jabatanmu dan menyerahkannya ke Gabriel?" tanya Bart serius.
"Iya, walau ternyata tak segampang yang Terra pikirkan. Gabe bukan warga negara Indonesia. Walau ada hubungan darah dengan Terra dan mendiang Ayah. Pemerintah tidak semerta merta langsung menyetujui Gabe jadi CEO. Kecuali ia sudah tinggal selama tujuh tahun paling sedikit atau sepuluh tahun paling lama," jelas Terra panjang lebar.
"Kita ikuti saja kata pemerintah ya," ujar Bart kemudian.
Terra mengangguk. Bart juga memeluk Haidar sayang. Mengecup kening pria itu. Begitu juga Budiman. Sang calon cucu menantu.
"Grandpa sendirian?" Bart menggeleng.
"Frans dan Leon ada di rumah. Mereka sedang menyusun proposal kerjasama dengan perusahaan Virgou," jawab Bart.
"Apa urusannya sudah beres?" tanya Haidar.
"Terra belum menandatangani berkas kerjasama, Tuan," jawab Rommy.
Terra pun duduk di kursi. Ia membaca dengan teliti berkas kerjasama. Setelah yakin dengan semua isi dan poin-poin yang tertera dalam kontrak. Terra menandatanganinya.
"Kak, aku pulang duluan ya. Ini jumat kan?' Rommy mengangguk.
"Ah, besok libur. Kita adakan rapat hari senin tentang masalah kemarin," Rommy mencatat semua agenda yang baru Terra ucapkan.
"Kita pulang?" Rommy mengangguk lagi.
Semuanya pun berjalan menuju lift. Hari sudah sore. Memang waktunya untuk pulang. Terra bisa beristirahat panjang di rumah. Bart juga sudah rindu dengan cucu-cucunya.
"Sayang. Aku kemarin membeli Porche untuk ulang tahun Darren dan Lamborghini untuk Lidya!" ujar Bart.
Terra ternganga. Dua anaknya belum butuh kendaraan itu. Bahkan dengan mobil golf pemberian Virgou waktu itu masih bisa dipakai.
"Tapi mereka belum bisa menyetir."
Mereka naik mobil Terra. Bart memilih duduk di depan sedangkan Iskandar ikut tim pengawalan. Budiman menjalankan Mercedes itu menuju rumah.
Butuh waktu satu jam untuk sampai rumah Terra. Anak-anak sudah rapi dan wangi. Bart langsung menciumi ketiga cucu dan empat cicitnya itu. Adzan maghrib tiba. Terra dan Bart duduk di ruang tengah. Wanita itu sedang kedatangan siklusnya.
Terra pun menuju dapur, memasak makanan untuk Bart. Soup udang, kesukaan pria tua itu. Ia masak lumayan banyak. Penjaganya bertambah. Untuk Romlah, Ani dan Gina sudah memasak nasi di rice cooker besar dari tadi.
Usai masak. Terra membaginya menjadi empat bagian. Dua bagian untuk pengawal satu setengah bagian untuknya dan keluarga setengah bagian untuk pekerja di rumah. Mang Deno membawa troli untuk mengantar makanan bagi para pengawal.
Mereka yang baru bekerja sangat terkejut dengan perhatian dari kliennya.
"Ini ... beneran buat kita-kita?" tanya Afdhan salah satu tim pengawal yang baru.
"Iya benar. Saya selama tiga tahun bekerja, makannya ya dikasih sama majikan," jawab Budiman santai.
Mereka semua makan, mengira makanan tidak cukup. Ternyata makanan itu lebih dari cukup. Para pengawal pun bersyukur, pengeluaran mereka tidak berkurang karena mendapat jatah makan dari klien mereka.
Gisel datang bersama, Gabe, Frans dan Leon. Mereka berjalan kaki. Jarak antar rumah mereka memang sangat dekat hanya berkisar seratus meter saja. Salah satu pengawal membuka pintu pagar. Beberapa di antaranya berjaga-jaga.
Gisel dan lainnya masuk. Budiman langsung menyambangi gadis itu. Lagi-lagi rona merah menyeruak di pipi gadis itu. Jarang bertemu membuat keduanya rindu. Tugas Budiman sebagai pengawal tidak bisa membuat dia leluasa mengencani gadis itu.
Delapan kali berkencan berakhir dengan acara makan-makan bersama. Rion dan Lidya adalah sumber pengganggu kencan keduanya.
"Bud!" panggil Leon, ayah Gisel.
"Tuan," sahut Budiman sambil membungkuk hormat.
Leon dan Frans menepuk bahu pria itu. Hanya bergandengan tangan saja hingga depan pintu. Keduanya saling curi pandang. Haidar dan Gabe memutar mata malas.
"Ciee ... cieee!" ledek Darren tersenyum simpul begitu juga Lidya.
"Itu Om Pudi sama Kak Gisel gandengan kenapa? Nggak lagi nyeblang kan?" tanya Rion polos.
Baik Budiman mau pun Gisel malu setengah mati. Mereka pun melepas genggaman tangan mereka. Semua nyaris tertawa melihat momen kemesraan dua insan yang jatuh cinta itu ambyar gara-gara pertanyaan dari seorang balita.
Bersambung.
astaga baby ... kenapa nanya kek gitu? 🤦
next?