TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PULANG 2




Budiman Samudera, dua puluh enam tahun. Pria yang bekerja menjadi seorang bodyguard dari Terra Arimbi Hudoyo, kini tengah fokus menyetir.


Rion masih asik dengan menyanyinya. Terra sudah lemas memangku Lidya yang mengikuti ujung lagu saja. Sedang Darren tersenyum lebar mendengar bahasa Rion menyanyi.


"Bihat pebuntu. Pemuh bemam dunga. Baba pang tupih, ban baba mang yemah. Pepiap bali, pulipan mesua ... baban bewati ... memuama pindah ...!'"


Cit! Budiman tak kuat ia mengerem mendadak. Haidar dan Terra nyaris terjungkal jika saja mereka tidak siap. Untung jalanan tengah sepi.


Budiman tertawa terpingkal-pingkal. Mendengar ada yang tertawa karena ia sedang menyanyi Rion marah bukan main.



"Om Pudi!"


"Budi sayang," ralat Terra sangat pelan.


"Tusta-tusta Ion! Om Pudi, betawain Ion. Ion mba tusya!" amuknya.


Budiman terdiam. Ia harus menghentikan tawanya. Mendengar kemarahan Rion. Bukannya takut atau kesal. Malah makin membuatnya mengeluarkan air mata menahan tawa.


"Om Pudi. Blsnwua! Hneksybnakwjhs!"


Fix. Haidar ikut tertawa mendengar bahasa planet Rion. Maka, semakin ngamuklah balita montok itu.


"Lapa petawa!" hardiknya pada Haidar.


Haidar langsung membekap mulutnya dengan telapak tangan. Ia sungguh tidak kuat. Terra apa lagi. Gadis itu menyerah.


"Baby ... jangan marah-marah sayang. Lihat tuh, Mama, Papa dan Om Budiman nangis loh," bujuk Darren.


Benar saja. Semuanya mengeluarkan air mata. Tapi, bukan menangis karena dimarahin Rion. Melainkan menahan tawa mereka.


Rion terdiam. Balita montok itu menatap semua mata orang dewasa yang memang mengeluarkan air mata.


"Eundak tapa-tapa! Baby Ion bumanyi. Eundak ada boweh betawa-pawa!'


"Iya, maafin Mama, Papa sama Om ya, sayang pinta Haidar sambil mengusap air mata.


Budiman menyalakan mesin lagi, setelah berhasil menahan tawanya. Sedang di telinga pria itu tak berhenti tertawa mendengar ocehan Rion.


Musik kembali diputar. Rion kembali bernyanyi. Kali ini lagunya lebih sulit ia ikuti bahasanya. Balita lucu menggemaskan itu pun hanya ber-na-na-na saja.


Semua menghela napas, karena tidak tertawa. Akhirnya setengah perjalanan menuju rumah. Rion mulai kelelahan. Ia pun tertidur bersama Lidya dipangkuan Terra, ibunya.


Budiman dan Haidar turun lebih dulu, disusul para maid yang melewati bangku yang dilipat untuk memudahkan mereka turun.


Sedang Terra menunggu karena dua anaknya tertidur dipangkuan. Haidar mengambil alih Lidya sedang Rion diambil alih oleh Budiman.


Mereka masuk terlebih dahulu dan memasukkan dua balita lucu itu ke kamar Terra. Budiman sudah dianggap keluarga oleh gadis itu. Pria itu bebas keluar masuk rumah dan kamar jika Terra meminta bantuannya.


Haidar masih betah berlama-lama duduk di sebelah kekasih hatinya. Darren juga sudah masuk kamar untuk membersihkan diri.


Budiman kini duduk di teras, menikmati secangkir kopi buatan Terra. Gadis itu memperlakukannya benar-benar seperti keluarga. Tidak hanya Budi saja. Tapi seluruh tim yang mengawasi Terra dan anak-anak tak luput dari perhatian gadis itu.


Baru kali ini mereka mendapat klien yang menganggap mereka ada. Budiman selalu memperoleh pelajaran di dalam keluarga ini.


Setelah mendapat informasi ketiga anak yang diasuh Terra dari Haidar. Pria tampan itu sangat salut akan kebesaran hati kliennya itu.


"Seorang gadis berusia delapan belas tahun. Harus mengurusi tiga anak kecil buah hasil perselingkuhan ayahnya," decaknya kagum. "Belum lagi anak-anak itu memiliki traumatik hebat akibat kekejaman ibu kandungnya."


Budiman begitu menaruh simpati pada Terra. Ia salut dengan gadis itu, terlebih kegeniusan yang ada pada otaknya.


"Sudah cantik, baik hati, penyayang, genius lagi," pujian ia lontarkan untuk kliennya.


Darren sosok kuat yang pasti melindungi keluarganya. Lidya yang datang sebagai pengobat duka dan lara. Rion yang hadir sebagai penghibur kala hati susah.


"Benar-benar keluarga paket komplit!' seru salah seorang rekan yang berbisik di telinga Budiman.


bersambung.


satu lagi Manang Budi.


Terra itu gadis terkuat yang pernah ada walau tak lepas dari ia hanya manusia biasa yang bisa saja menunjukkan kelemahannya.


next?