
Jac dan lainnya akhirnya pulang setelah empat hari kelahiran bayinya. Bahkan putri Jac sudah diaqiqah di kampung atas inisiatif eyang dan para kakek bayi cantik itu.
Jac sangat terharu. Rumah sang nenek yang tadinya sederhana pun sudah di renovasi sebagian dan semuanya Jac yang menanggungnya. Uang Jac tentu tak berseri.
"Nek, jika ada umur, Jac mau ke sini lagi," ujarnya pada Surtini.
"Kami akan menunggu kalian!" ujar Haryo menyahuti perkataan Jac.
"Ya sudah, kami pamit! Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!" sahut semuanya.
Lambaian tangan mewakili keberangkatan mobil yang ditumpangi Dipto dan semuanya. Septian yang menyupirinya. Jac belum memiliki SIM, tentu dia tak boleh menyetir.
Putri berada di tengah bersama suami dan ibunya. Selama delapan jam perjalanan mereka menikmati jalan yang mereka lalui.
Akhirnya mobil SUV warna hitam sudah sampai di depan rumah Dipto. Pria itu turun lebih dulu untuk membuka pagar dan rumah. Tentu mobil itu tak bisa masuk karena memang halaman rumah Dipto tak ada garasi apa lagi carport.
Semua masuk sambil mengucap salam.
"Ma, Putri langsung masuk kamar ya," ujar Putri tampak kelelahan.
"Sebentar sayang. Mama bersihkan dulu ya," ujar Nania lembut.
Putri duduk di sofa empuk. Bayinya masih terlelap dalam gendongannya. Nania membuka jendela agar udara segar masuk dalam kamar. Wanita itu sigap membersihkan semua debu dan bahkan mengganti sprei. Putri jadi tak enak dengan ibunya. Ia menjadi berpikir, dulu ketika sang ibu baru melahirkan dirinya, pasti sibuk seperti ini tanpa ada yang bantuin.
"Ma," panggil Putri tak enak.
Jac juga merasa tak memiliki arti apa-apa dibanding dengan tenaga mertuanya.
"Sudah tak masalah, Mama sudah terbiasa, sayang," ujar Nania lembut.
Septian membersihkan sendiri kamarnya. Dipto hanya membuka jendela kamar.
"Sudah bersih kamarnya, kalian boleh istirahat," ujar Nania dengan senyum lembut.
Jac terharu. Ia memeluk ibu mertuanya sambil mengucap rasa terima kasih yang sangat dalam.
"Terima kasih Ma ... dari kecil, aku tak merasakan kasih sayang seorang mama ... makasih ...."
"Sama-sama sayang. Anggap mama adalah mama kamu sendiri," ujar Nania mengelus kepala Jac.
Putri terharu. Ia juga mencium ibunya lalu pergi menuju kamarnya.
Demian yang tahu jika Jac pulang hari ini. Menyiapkan kejutan. Ia bersama Cal akan menyiapkan sebuah pesta penyambutan untuk bayi cantik putri Jacob Ali Starlight.
"Jadi Kak, kita buat pestanya di mana?" tanya Cal serius.
"Rumah Jac lah!"
"Apa muat sama keluarga super besar kita?" tanya Cal polos.
Demian terdiam. Rumah singgah Jac lebih kecil dibanding rumahnya sekarang. Walau pun rumah singgah dia juga tak mampu menampung semua pasukan.
"Terus di rumah Om Jac apa ada karaokenya?" tanya Cal lagi.
"Rumah kakak aja nggak ada, baby!" jawab Demian lemah.
Keduanya pun bingung. Hingga akhirnya mereka menyerah untuk membuat pesta. Keduanya kembali sibuk dengan tumpukan pekerjaan.
Sedang di ruang praktek, Safitri tampak tenang dengan perut besarnya. Para pasien sampai ngeri jika melihat bidan cantik itu bergerak cepat.
Seperti saat ini ketika ia baru saja keluar dari ruang data kelahiran. Seorang pria berteriak karena istrinya sudah pecah ketuban.
Safitri berlari hingga semua berteriak memperingatkan.
"Subhanallah ... Bu bidan! Jangan lari!"
Safitri sangat santai walau setelah itu perutnya akan kram. Tapi, itulah tugas seorang bidan. Saf bukan dokter kandungan yang sedikit santai.
"Apa aku sekolah lagi biar menjadi dokter?" ia menggeleng pelan.
"Males amat belajar lagi," lanjutnya malas.
Tak terasa waktunya pulang. Ia bersama Aini yang sudah kembali bekerja. Gio menjemput istrinya. Semenjak Lidya memutuskan untuk cuti awal, pria itu lebih banyak libur dan bisa antar jemput istri.
"Wah ganti profesi Bang?" seloroh Saf.
"Iya nih bu, sekarang saya supir," jawab Gio dengan senyum lebar.
"Supir istri, gajinya hot dong," ledek Saf lagi lebih vulgar.
"Bukan lagi uma ... kalo nggak hot, saya pusing nggak dikasih jajan," sahut Gio sama vulgar.
Mobil Darren datang, Budiman yang menyetir. Saf langsung membuka pintu. Mereka berpamitan dan langsung pulang ke rumah masing-masing.
"Mas Darren belum pulang?" tanya Saf.
Wanita itu duduk di sebelah Budiman.
"Belum, Nona. Tuan muda masih ada sedikit pekerjaan, makanya diminta untuk menjemput," Saf mengangguk.
Ketika sampai rumah Terra. Budiman kembali membawa mobil ke kantor. Saf sedikit iba pada pria itu. Mengabdi sekian lama pada suaminya bahkan ketika Darren masih anak-anak.
"Baba Budi setia banget," pujinya.
"Memang sayang. Babamu itu pria paling setia," sahut Terra.
Ternyata Terra keluar dari dalam rumah. Ia melihat menantunya sudah pulang tapi belum masuk.
"Assalamualaikum, ma," ujarnya memberi salam.
"Wa'alaikumussalam, nak. Ayo masuk!" ajaknya.
"Yang lain ke mana, Ma?" tanya Saf.
"Lidya ada di mansion Daddy Virgou. Anak itu mau disuapin sama Mommy dan dimanja," kekeh Terra menjawab pertanyaan menantunya.
"Wah, pasti pada kesel semua tuh sama Daddy!" Terra mengangguk setuju.
Sedang di mansion Virgou. Pria itu memang tak bekerja, ia menyerahkan semuanya pada Dav dan Satrio. Terlebih ada Gomesh, Pablo juga Fabio. Ia sangat percaya pada mereka.
"Daddy, Iya sama Demian mau buat kejutan untuk Jac, apa boleh mansion daddy dijadikan tempat untuk penyambutan Baby Aaima?"
"Tentu sayang. Memang mau seperti apa konsepnya?' tanya pria itu antusias.
Lidya pun mengatakan rencana pesta penyambutan untuk bayi sahabatnya itu.
"Kita libatkan sembilan perusuh itu!" sahut Virgou dengan mata usil.
Lidya mengangguk setuju. Ia tersenyum lebar. Tak lama Demian pulang. Lidya langsung mengatakan usul itu pada sang suami.
"Wah ... pasti seru dan heboh itu!" sahut Demian antusias.
Hari yang diusulkan tiba. Demian mengundang anak-anak yatim piatu dari tempat asuhan setempat.
Seruni menyiapkan semua makanan. Safitri sangat terbantu. Ia sendiri tak bisa memasak karena terhalang dengan perutnya. Walau ia demikian, Saf masih membantu Seruni.
Demian mengajak seluruh keluarga Jac dan Putri ikut. Jac sempat heran karena atasannya mengajaknya.
"Memang ada acara apa tuan?" tanyanya.
Cal disuruh menjemput orang tua Putri bersama para pengawal remaja itu. Sedang Putri dijemput oleh salah satu pengawal Virgou.
"Septian! Kamu diminta oleh Boss ke ruangannya!" ujar salah satu staf lapangan.
Septian bingung. Ia merasa sudah menjelaskan keterlambatannya perihal kakak yang melahirkan. Ia juga sudah diberi SP dengan pemotongan gaji sebanyak 3%.
"Ada apa nih, boss?" tanya Septian ketika sampai di ruangan atasannya.
Jac juga kaget dengan kedatangan adik iparnya. Demian telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kalian ikut aku!" titah Demian.
Ketiga pria dengan ketampanan luar biasa itu membuat semua kaum hawa menahan napas.
Tak lama mereka sampai di sebuah mansion mewah. Jac mengenali hunian itu karena Demian suka membawanya ke sini, tapi asing di mata Septian.
Ketika mereka masuk. Jac dan Septian terkejut melihat Putri dan kedua orang tuanya duduk di sofa.
"Loh?" mereka saling menunjuk satu dengan lainnya.
Hingga tiba-tiba.
"Belpom hom Baby Aaima!"
Segerombolan perusuh keluar dengan tulisan sama dengan apa yang diucapkan.
Putri dan Jac terpana. Lalu menangis haru kemudian tertawa mendengar celotehan para perusuh.
bersambung.
ramee nih ...
next?