TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEMBALI PULANG



Virgou membawa semuanya ke mansion. Ia telah menyuruh Terra menunggu mereka di mansion pribadinya.


Saf yang baru pertama kali bertandang ke hunian megah itu sangat takjub. Dulu ketika ayahnya masih berjaya, ia pun pernah tinggal di hunian sebesar ini.


"Sayang, ini kamar Darren pribadi di mansion ini. Semua anak memiliki kamarnya sendiri-sendiri," jelas Puspita pada istri Darren.


Safitri masuk ke kamar dengan nuansa biru dan abu-abu, khas pria maskulin. Wangi parfum suaminya langsung tercium di indera penciuman Safitri. Ia merasa suaminya ada di sini.


"Mas," panggilnya pada foto ukuran kecil di atas nakas.


Foto Darren yang tengah memakai toga diapit oleh Virgou dan Puspita. Saf mengelus wajah foto suaminya.


"Saf udah kangen," rajuk wanita itu.


Ia pun merebahkan dirinya. Lalu tak lama Kaila datang dan langsung menindih wanita itu.


"Mama, yuk turun, bentar lagi Papa pulang," ajak gadis kecil beriris biru itu.


Saf menciumi Kaila hingga ia merengek. Gadis kecil itu minta digendong ala koala. Sungguh, semua anak memang manja padanya. Bahkan jika ada Kean remaja itu juga tak ragu memeluk Saf dan merajuk seperti anak kecil.


Mereka turun. Melihat Kaila digendong seperti itu. Membuat Puspita langsung menegur putrinya.


"Sayang, kenapa minta gendong. Kan kamu sudah besar!"


"Tidak apa-apa Mommy, Kaila enteng kok," sahut Safitri.


"Mama, Kaila enggak gendut!" protes gadis itu.


"Yang bilang Baby endud siapa?" tanya Saf lalu menciumi wajah cantik gadis kecil itu yang mulai memberengut.


"Turun sayang," titah Puspita pada putrinya.


Kaila menurut. Gisel dan Maria datang bersamaan bersama anak-anak mereka. Rumah yang tadinya sepi mendadak heboh karena empat perusuh itu sudah mengerumuni Safitri. Terra menjadi kesal bukan main, biasanya dirinya lah anak-anak langsung bermanja, kini teralihkan pada sosok baru yakni Safitri.


"Mama Papitli!" panggil Sky lalu memeluk Saf.


"Mama dilewatin aja gitu?" keluh Terra cemberut.


"Mama ... ba bowu!" ujar Samudera menenangkan wanita itu.


"Ba bowu pu," ujar Terra langsung menciumi Samudera.


"Mama ba bowu!" giliran Bomesh yang memeluk Terra.


Sky dan Domesh melakukan hal yang sama dengan saudaranya yang lain pada Terra. Wanita itu melirik penuh kemenangan pada Saf yang memandangnya tak percaya.


"Ma, Saf ini menantu Mama bukan sih?" sindir wanita itu.


Terra tertawa. Ia memeluk menantunya.


"Jangan kaget, jika di sini harus berbuat seperti itu. Begitulah cara kami berdekatan satu dengan lainnya," jelas Terra.


Saf akhirnya mengerti. Dua mobil Jeep berhenti di halaman mansion. Semua turun dengan dandanan dan baju yang rapi dan bersih, kecuali Virgou, Gomesh dan Budiman. Tiga pria itu masih berpakaian sedikit lusuh dan banyak bercak darah.


"Daddy!" panggil Affhan putranya.


Bocah laki-laki berusia dua belas tahun itu berlari dan memeluk ayahnya. Virgou langsung mengangkat putranya itu. Herman baru saja datang bersama istri, Arimbi, Dimas, Dewa dan Dewi. Satrio menyambangi ayahnya dan mencium tangan kedua tangan orang tuanya bergantian. Herman memeluk putranya. Khasya menangis melihat putranya baik-baik saja.


Semua keluar dan memeluk putranya. Lidya berlari memeluk Virgou. Demian yang sudah merentangkan tangan terbengong melihatnya.


"Daddy ... apa Daddy tidak apa-apa?" tanya wanita itu dengan wajah khawatir.


"Hei, sayang. Mestinya yang kau datangi suamimu dulu!" tegur Haidar.


Lidya tersenyum kikuk. Demian pura-pura ngambek. Hal itu langsung membuat Virgou menjepit leher pria itu lalu menjitak kepalanya.


"Daddy!" seru Demian sambil tertawa.


Tak lama Jac datang bersama istrinya. Ia marah sekali dengan Demian yang tak mengajaknya ikut ke dunia yang selama ini begitu membuatnya penasaran.


"Kau berani marah padaku?" tanya Demian sengit.


Jac hanya berdecak malas. Demian memandang pria bawahannya itu sangat angkuh.


"Hei, ayo masuk!" ajak Herman.


Semua pun masuk dan duduk di sofa. Terra menciumi semua anak-anak termasuk menantunya, Demian. Pria beriris biru itu langsung menghangat karena kasih sayang Terra yang begitu besar.


"Ceritakan bagaimana kejadiannya?" ujar Haidar kemudian.


Virgou menceritakan secara detail. Semua mendengarkan dengan seksama.


"Jadi Kiera Savias yang ingin membunuh Babyku untuk naik pamor?" tanya Herman geram.


"Iya, Ayah. Kiera pun dihukum berat karena telah meracuni kedua orang tuanya lalu merebut kekuasan Xavier Savias dengan membunuh para pengikut setia!" jelas Virgou panjang lebar.


Semua pembicaraan Virgou jauh dari jangkauan. Sky, Bomesh, Domesh dan Benua. Mereka bermain bersama kakak mereka yakni, Affhan, Maisya, Kaila, Rasya, Rasyid, Dewa dan Dewi, Gabriela, Sebastian, Billy dan Martha.


Serang Harun dan Azha sedang bersama ibu mereka di kamar tengah menyusui. Dav dan Gabe duduk di bawah bersandar pada kaki kakek mereka biangnya Dougher Young.


Tiba-tiba.


"Hueek!"


Lidya, Safitri dan Gisel mual bersamaan. Semua menoleh pada tiga wanita itu. Wajah semuanya langsung berbinar. Saf dan Lidya lalu merasakan sesuatu menjalar di perut mereka. Keduanya saling bertatapan. Hanya Gisel yang tampak biasa saja.


"Sayang," panggil Terra.


"Kalau aku pasti hamil," sahut Gisel.


Budiman tersenyum bahagia mendengar kabar itu. Lalu ia memeluk dan menciumi istrinya.


"Bang!" pekik Gisel memperingati.


"Ah maaf," ujar Budiman dengan senyum usil pada semua orang.


Bart berdecak kesal. Ia menatap Lidya dan Safitri.


"Bagaimana dengan kalian sayang?" tanyanya.


Dua wanita itu hanya tersenyum menjawab pertanyaan Bart. Darren dan Demian langsung mengucap hamdalah. Virgou menangis mendengar Lidya hamil.


"Baby ... hiks .. aku tak bisa membayangkan kau kesusahan ketika hamil dan melahirkan nanti!" ujarnya dengan derai air mata.


Lidya memeluk pria itu. Herman duduk termenung. Khasya sampai mengelus punggung suaminya.


"Ayah," panggil Lidya.


Herman memeluk dan mencium putrinya itu.


"Ayah percaya kamu bisa melewati itu semua, sayang," ujar pria itu dengan mata berkaca-kaca.


Rion, Kean, Calvin, Arimbi, Satrio, Sean, Nai, Al, dan Daud gembira mendengar dua kakak mereka hamil bersamaan.


"Saya juga mau mengatakan jika Putri sedang mengandung dua bulan," ujar Jac.


Semua mengucap hamdalah. Tiba-tiba Sky datang dan meminta karaoke.


"Daddy, Spy bawu palotean!"


"Oke Baby!" ujar pria dengan sejuta pesona itu.


Darren dan Demian menyambangi istri mereka, lalu memeluknya.


"Terima kasih, sayang," ujar pria itu.


Lidya dan Safitri mengangguk. Mereka tinggal memeriksakan diri besok untuk memastikan.


Anak-anak mulai ramai. Semua bernyanyi. Empat perusuh mendominasi. Puspita keluar bersama Seruni membawa putra mereka yang tak bisa tidur karena memang terlalu berisik dari tadi.


"Alun pawu panyi?" tanya Domesh pada bayi yang mau satu tahun itu.


Harun mengangguk. Ia memegang mik. Virgou menyetel asal lagu. Karena yakin Harun, putranya belum bisa bernyanyi.


"Batu, patu ... apuh payan pipu ... buwa, puwa ... pudha payan payah ... bidha, pidha ... payan badit patat ... batu, puwa, duda payan lemuana!"


Rion menatap bangga pada adiknya itu. Sedang yang lain menatap bayi besar yang hanya tersenyum sombong.


bersambung.


oke lah Harun ... up tu yu ...


next?