
Hari berlalu, waktu berganti. Malam pun menjelang. Setelah makan malam, Terra meminta Darren untuk melakukan perbincangan. Sedang Lidya dan Rion kembali bermain ditemani oleh Romlah dan Ani. Sedang Gina menemani suaminya di teras.
"Mama," panggil Darren menghampiri Terra di sofa ruang tengah. Haidar sudah pulang dari siang tadi.
"Sini, sayang. Mama mau bicara," ajak Terra sambil menepuk tempat di sebelahnya.
Darren mendaratkan bokong di tempat kosong sebelah Terra. Pria kecil itu langsung dipeluk oleh gadis itu.
"Sayang. Ada berita duka yang mesti Mama sampaikan," ujar Terra perlahan.
"Apa Ma? Apa Mama, mau menaruh kita di panti asuhan?" tanya Darren dengan suara tercekat.
Terra membelalakan mata, kenapa bisa putranya berpikir sejauh itu.
"Tidak. Mama tidak akan berbuat itu!"
"Lalu ... hiks ... berita duka apa, Ma ... hiks," Darren sudah bercucuran air mata.
"Ini perihal Ibu kandungmu, Firsha."
Deg!
Jantung Darren tiba-tiba berhenti berdetak, kemudian berdebar sangat keras. Netranya memutar kesana-kemari. Tampak pias, pucat dan ketakutan. Tubuhnya kembali bergetar.
"Sayang ... Sayang!" panggil Terra panik. "Kamu kenapa?"
Darren seperti sesak napas. Hanya mendengar nama ibu kandungnya saja membuat ia ketakutan setengah mati.
"Mama ... Darren takut, Ma," ujarnya lirih.
Terra langsung memeluk tubuh putranya erat. Ia mengusap punggung Darren menyalurkan kenyamanan bagi putra kecilnya itu.
"Sayang dengar Mama. Tidak akan ada yang menyakitimu selagi Mama hidup. Kamu tenang ya ...."
Dalam lima belas menit, napas Darren kembali normal. Tubuhnya tidak segemetar tadi. Walau sesekali tampak ekspresi ketakutan terpancar dari wajahnya.
"Begini sayang. Ibu kandung Darren sudah tiada, tapi sayangnya sekarang jasad itu tidak dikebumikan, melainkan menjadi alat praktek para calon dokter," jelas Terra hati-hati.
Darren mengernyitkan dahi tidak mengerti. Tapi, yang ia tahu jika ibu kandung yang jahat itu sudah tidak ada. Ia pun menghela napas lega.
"Ma ... tau tidak kenapa Darren bertahan terhadap siksaan Tante Firsha selama ini?" Terra menggeleng pelan.
"Itu karena Darren ingin bertemu dengan Mama ... hiks ... Darren menanam keyakinan jika suatu hari akan bertemu dengan orang yang menyayangi Darren dan adik-adik ... huuuu ... uuu ... hiks ... hiks!"
"Sayang."
Darren menangis. Tiba-tiba Lidya dan Rion datang menghampiri ketika mendengar tangisan kakaknya. Mereka juga langsung memasang wajah sendu. Sedang Romlah dan Ani hanya menatap mereka penuh kesedihan.
"Kasihan mereka ya, Mba," ujar Ani pada Romlah iba pada keluarga majikannya.
Romlah hanya mengangguk menanggapi perkataan saudaranya itu. Lalu mengamit tangan Ani dan meninggalkan Terra bersama ketiga anaknya.
"Mama sama Tata Dallen tenapa meyanis?" tanya Lidya dengan bibir yang dicebik-cebikkan.
Rion langsung naik ke pangkuan Terra begitu juga Lidya. Mereka saling berpelukan dan menangis.
"Tidak apa-apa sayang. Tidak apa-apa," jawab Terra.
"Mama ... duyu, Tata Dallen biyang syama Iya. Kalo nanti batal ada Mama yang datang tlus sayang sama kita syemua. Iya pelcaya ... hiks ... hiks ... butina Mama datan ... hiks ... hiks," penjelasan Lidya menoreh perih pada dada Terra.
"Ma, jangan tinggalin kami ya," pinta Darren. "Darren mohon."
Pecahlah tangisan mereka berempat. Terra begitu sangat menyayangi tiga anak yang sudah memberinya warna ini. Ia pun tidak akn tahu apa yang terjadi pada hidupnya jika tidak ada ketiga anak ini.
"Mama tidak akan meninggalkan kalian. Kalian adalah hidup Mama," ungkap Terra tulus.
"Jangan sebut nama itu lagi, Ma. Darren masih takut," pinta Darren lagi.
Terra mengangguk. Namun, dalam hatinya sudah memberi keputusan yang tepat.
Tadi pagi, ketika di kantor polisi. Terra meminta pihak kepolisian mengembalikan jasad Frisha seperti semula. AKP Agus menyanggupi dan meminta Terra untuk mengenali jasad itu nanti. Untuk itu Terra meminta bantuan pengacaranya, Sofyan. Karena hanya pria itu yang mengenali sosok Firsha. Pria itu sanggup dan akan menemani Terra untuk mengidentifikasi jasad Firsha, nanti.
Terra memutuskan untuk mengebumikan jasad wanita selingkuhan ayahnya itu dengan layak.
'Suatu hari. Ketika semua ketakutanmu hilang. Kau pasti akan bertanya di mana makam ibumu. Dan Mama sudah melakukan hal yang benar untukmu,' gumam Terra dalam hati.
Bersambung.
Ah ... Sedikit ada air mata.
Sungguh ingatan seorang anak itu sangat tajam dan membekas. Perlakuan Firsha pada Darren dan kedua adiknya sangat mempengaruhi mental pria kecil itu.
Semangat Terra!
Next?