
Semua sibuk mencari. Bart dan Leon juga Frans nampak keki kepada Virgou yang acuh akan hilangnya Terra dan calon suaminya. Bahkan pengawal setia Terra ikut menghilang.
"Mereka kemana sih. Kenapa tidak bisa dihubungi!" pekik Bart panik.
"Kamu kenapa tenang-tenang saja?!" teriaknya lagi pada Virgou.
Virgou sampai menutup sebelah telinganya karena suara Bart yang terlalu kencang. Bram yang melihat Darren bermain dengan tenang. Akhirnya pun menyuruh mereka semua ia ikut tenang.
"Sudahlah. Toh, Terra bersama Haidar dan Budiman. Tidak ada yang akan terjadi padanya," jelas Bram menenangkan Kanya dan Karina.
Akhirnya semua pun tenang. Walau pikiran mereka berkecamuk. Bagaimana bisa, ketiganya menghilang. Padahal penjagaan begitu ketat.
Sedang di sebuah tempat. Nampak ketiga orang sedang berdiri menunggu. Sosok kurus tinggi dengan senyuman ramahnya. Pria dengan logat bahasa yang khas, menyambangi mereka.
"Assalamualaikum, hehehe ... maaf ya penjemputanya sedikit mendadak," ujarnya sambil memberi salam.
"Wa'alaikum salam, iya. Kami juga minta maaf telah banyak melukai tim Bapak. Walau akhirnya kami kalah juga," balas Haidar sambil tersenyum kikuk.
"Habis kalian sih ... minta bertemunya secara rahasia. Ya begitu, jadinya sistem kaya diculik," jelasnya sambil terkekeh.
"Ya, sudah. Sekarang bisa jelaskan, bagaimana terciptanya ponsel itu?" tanya pria kurus dengan tinggi 175cm itu.
"Sebenarnya itu bukan ciptaan kami, Pak," jawab Terra sedikit kikuk.
"Lah, terus, ciptaannya siapa?" tanyanya sambil terkekeh.
"Ciptaan adik saya, Darren," jawab Terra.
"Adik apa anak?" tanya pria yang biasa dipanggil pakdhe J ini.
"Adik yang jadi anak, Pak."
"Terus?"
"Anak saya bernama Darren yang menciptakan ponsel BraveSmart tersebut. Tujuannya untuk mempermudah kita mengenali lingkungan secepatnya jika kita dalam kondisi terdesak, seperti penculikan atau semacamnya," jelas Terra.
"Sambil duduk santai sini. Lanjutkan!" ajaknya.
Mereka pun duduk di sebuah sofa. Pria kurus itu juga duduk berhadapan dengan Terra dan dua orang lainnya.
Dengan penuh perhatian, Pria itu mendengarkan penjelasan Terra. Setelah cukup mendengarkan. Pria itu mengambil ponsel yang dimaksud tadi.
"Coba kamu duduk sini. Jelaskan bagaimana cara kerjanya?" tanyanya sambil menyuruh Terra untuk duduk di sebelah pria itu.
Gadis itu pindah posisi. Duduk di sebelah pria nomor satu negeri ini membuat jantungnya berdegup kencang. Ia sedikit gugup.
"Jangan gugup gitu dong. Biasa aja. Masa kemarin katanya ketemu mafia kelas kakap kamu nggak gugup, ketemu saya malah gugup?" kekehnya.
"Beda auranya,
Pak," cicit Terra kemudian mengusap peluh yang membasahi dahinya.
"Santai ... rileks, bro," sautnya sambil terkekeh.
Mereka pun ikut terkekeh. Akhirnya lambat laun suasana menjadi akrab. Banyak lontaran pertanyaan yang sulit dijawab Terra dari orang nomor satu itu.
Memang beda, bertemu dengan seseorang yang memiliki karisma luar biasa. Bagaimana hanya dengan melihat sosoknya yang begitu bersahaja. Terra tak berani menatap langsung mata ramah yang memandangnya.
"Kalian adalah aset negara. Jadi tugas kalian adalah berhati-hati dalam menjalankan semua misi kalian. Jangan seperti kemarin. Negara hampir bobol kedatangan mafia kelas dunia. Beruntung kita memiliki kekuatan militer yang tangguh. Didukung dengan peralatan kalian yang canggih."
Tapi, bagaimana orang itu bisa membungkam musuh hanya dalam satu tatapan saja. Tak perlu otak berpikir tak perlu otot bekerja.
Hanya karisma dan aura yang sangat kuat dari seorang pemimpin. Mampu menaklukan serangan musuh.
Dua jam mereka bersama orang nomor satu negeri ini. Haidar, Terra dan Budiman serasa mendapatkan durian runtuh.
Mereka kembali seperti ketika mereka pergi. Tidak ada satu pun yang tahu.
Bart dan Bram terkejut ketika melihat mereka bertiga sudah memasuki pagar. Deno meneriaki mereka..
"Itu, Non Terra sama Tuan Haidar juga Tuan Budi datang!"
Semuanya keluar dan mendatangi ketiga orang yang berjalan sambil tersenyum.
"Kalian dari mana?" tanya Kanya khawatir.
"Kalian bikin kami takut, tau!" lanjutnya sedikit kesal karena tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya.
"Ish ... ditanyain malah senyum-senyum aja!" sengitnya kesal.
"Sudah-sudah ... yang penting mereka pulang dengan selamat," ujar Bram menenangkan istrinya.
"Kami hanya jalan-jalan, Ma," akhirnya Haidar menjawab pertanyaan ibunya.
"Jalan-jalan kok ngilang!" Kanya memukul gemas Haidar.
"Oma!" tiba-tiba Lidya berteriak.
Kanya hanya bisa mendengkus pasrah. Haidar terkikik geli. Pria itu mendatangi gadis kecilnya sambil berpura-pura menangis.
"Kamu ini!" Kanya makin kesal karena ulah putranya.
Lidya sibuk menceramahi calon Oma dengan kata-kata bijaknya.
"Oma eundat boleh putun-putun Olang. Itu eundat bait!" sarannya.
Haidar menciumi pipi gadis itu. Hingga memerah dan membuat Lidya jadi kesakitan.
"Papa Bidal!" teriak Rion..
Maka habislah Haidar dimarahi oleh bayi galak itu.
bersambung.
hai readers ini undanganya sekali lagi ... mau datang pas akad boleh ... pas pesta juga boleh.
undangan akad
undangan resepsi
oke dukung terus karya othor.
next?