
Anak-anak begitu antusias mendengar bunyi kereta api, terlebih jika ada pengumuman dari pengeras suara. Sky, Benua, Domesh dan Bomesh, sibuk mencari orang yang bicara.
"Selamat pagi, pada penumpang gerbong kereta eksekutif, selamat menikmati perjalanan anda, dan selamat sampai tujuan!"
"Mami, ipu spasa yan nomon?" tanya Benua.
Seruni tertawa mendengar pertanyaan itu. Ia pun usil mengerjai bayi montok dan tampan itu.
"Hmmm ... Mami nggak liat, Baby. Jangan-jangan ...,"
Seruni menampakan mimik ketakutan.
"Itu hantu," bisiknya.
"Sayang," tegur Dav.
Seruni cemberut. Benua dan Sky bukannya takut malah penasaran. Terlebih Samudera.
"Bana pantuna?" tanya Bomesh kini.
"Mami pihat binama?" tanya Domesh juga ingin tahu.
Bayi itu hendak turun dari kursi khususnya. Tentu saja, Dav yang duduk dekat anak-anak harus melepas sabuk pengaman dan membantu. Benua juga ingin ikut, begitu juga dengan Samudera, Domesh juga Bomesh.
Gio, Hendra, Juan, Juno, Felix dan Robert ikut dalam rombongan. Ani, Wati dan Juni ikut nyonya mereka. Virgou juga membawa Yuyun, dan Inah. Inah menjadi asisten Puspita di rumah. Gadis yang sudah mendapat gelar sarjana itu digaji lebih tinggi oleh Virgou. Inah pun merasa betah bekerja di mansion tuannya itu. Walau kini sudah banyak pembantu. Tetapi, Inah menjadi kepercayaan tuannya begitu juga Yuyun.
Sedang Herman juga membawa beberapa pengawal dan asisten rumah tangga. Mereka dipinta untuk menjaga anak-anak.
"Mama ... pata Mami yan nomon tadi bantu!" adu Sky.
Terra menengok tempat di mana Seruni duduk, wanita itu langsung meringis geli. Terra hanya menghela napas panjang lalu menjelaskan.
"Yang tadi ngomong itu bukan hantu, sayang. Tapi, orang ...."
"Wowangna pinama, Ma?" tanya Samudera ingin tahu.
"Orangnya ada di tempat khusus, di stasiun tadi," jelas Terra.
"Wowanna padi eundat iput?" tanya Bomesh takjub.
Terra terdiam. Kelima bocah yang sangat ingin tahu itu bertepuk tangan. Kereta memang berjalan cepat, hingga tak terjadi guncangan seperti naik kereta biasa. Terlebih banyaknya orang dewasa yang mengawasi para bayi yang hilir mudik.
"Baba ... yan pawa teleta imi spasa?" tanya Bomesh ingin tahu.
"Namanya masinis, Baby," jawab Budiman gemas.
"Basinis?" ulang Bomesh.
"Ma-si-nis!" ulang Budiman.
"Pa-bis-bis-!" ulang Bomesh.
"Hmmm ... kenapa makin kacau?" keluh Budiman.
"Beunel tan Baba ... sasinis?" tanya Bomesh lagi.
"Loh, kok jadi beda lagi?" tanya Budiman mengeluh.
Semua orang dewasa pun tertawa. Kean, memanggil para bayi untuk duduk bersama mereka.
Kean, Cal, Sean dan Daud duduk bersama. Bomesh, Domesh, Benua dan Samudera juga Sky pun duduk bersama kakak mereka.
"Kita nyanyi yuk," ajak Cal.
Rion duduk bersama Lidya, Arimbi, Kaila, Nai dan Maisya.
Darren duduk bersama Satrio, Al, Affhan, dan Dimas.
Sedang Rasya, Rasyid, Dewa dan Dewi duduk bersama Gomesh. juga Maria, istrinya. Virgou membawa pria kepercayaannya itu.
"Bait teleta papi ... Tut ... tut ... tut ... biapa ... pendat tulut ... bepandun ... pulapaya ... polehtah mait benan beulpuma ... Payo, tawantu letas nait ... beletatu tat peulenti lama ...!"
Lagu naik kereta api pun berubah liriknya. Rion senang. Ia pun ikut bernyanyi.
"Naik kereta cepat ... wus ... wus .. wus ... siapa hendak turut dari kota ke Surakarta. Tapi, naiknya harus bayar ... ayo kawanku cepat naik! Keretaku tak berhenti lama ...!"
Rion dengan seenaknya mengubah lirik lagu. Semua orang dewasa hanya bisa menggeleng. Haidar pun akhirnya menyanyikan lagu itu dengan benar.
"Naik, kereta api ... tut ... tut ... tut ... siapa hendak turut. Ke Bandung Surabaya, boleh lah naik dengan percuma. Ayo ... kawanku lekas naik ... kretaku tak berhenti lama!"
Akhirnya, anak-anak pun bernyanyi lagu dengan benar. Kecuali, Bomesh, Domesh, Sky juga Samudera.
"Ata' Tean, tot beletana eundat beulhenti, ya?" tanya Bomesh bingung.
"Pemana eundat ada bampu palubintas?" tanya Benua menyahut.
"Nggak ada Baby, kan kereta punya jalan sendiri," jawab Kean dengan senyum lebar.
"Wah ... tot enat ya, jadi teleta api," sahut Samudera kini.
"Kenapa enak?" tanya Dav kini.
"Iya, talena bunya calan seundili ... copa taya bombil papi ... tan halus beulhenti di lampu belah!" jelas Samudera.
"Tapi, Kakak Nai pernah liat kereta berhenti tidak di stasiun loh?" sahut Nai.
"Tot Pisa bedithu?" tanya Bomesh bingung.
"Itu karena ada peralihan atau lintasan kereta yang anjlok," jawab Cal.
"Anjot ipu pa'a?" tanya Domesh.
"Anjlok itu .... eum ... apa ya Daddy?" tanya Cal pada Virgou.
Pria beriris biru itu pun berpikir. Apa penjelasan yang mudah dimengerti oleh tiga batita ini.
"Anjlok itu jalannya turun atau ban keretanya terlepas dari jalur," jelas Virgou.
Sky, Bomesh dan Domesh mengangguk tanda mengerti. Samudera masih berpikir.
"Talo pan teletana bempes?" tanyanya.
"Ban kereta tak bisa kempes, Baby," sahut Darren menjawab.
"Tenapa, pan pombil Papa teumalin bempes," sahut Bomesh.
"Kan ban kereta api dari besi, bukan karet isi angin," jawab Darren.
"Oh ... Pa, pesot-pesot pan bombil Papa danti aja syama pan beleta ... pial Papa eundat balah-palah aja!" saran Bomesh pada Gomesh, ayahnya.
Virgou tertawa tertahan. Begitu juga semuanya. Terra yang tengah mengandung juga sampai kram perutnya. Kali ini, ia tak juga merasakan trimester pertama kehamilannya. Haidar yang merasakannya. Pusing dari tadi dan mual. Ia mengatur tempat duduknya sedikit berbaring, begitu juga Terra.
"Kenapa, mereka lucu sekali, sih?" keluh Terra.
"Hmmm," sahut Haidar.
Pria itu tak lepas dari minyak angin. Virgou sampai meledeknya.
"Wuih ada nini-nini."
Budiman dan Gisel melipat bibirnya ke dalam, keduanya nyaris tertawa. Begitu juga Dav dan Seruni. Bart yang duduk bersama Bram dan Kanya juga tak berhenti tersenyum mendengar kericuhan di kereta. Sedang Herman dan Khasya hanya menikmati hiburan gratis.
Anak-anak mulai tenang. Para balita kembali ke tempat duduk mereka. Para asisten yang ikut menyiapkan makanan. Semuanya pun makan dalam perjalanan, Haidar menolak makan nasi. Ia memilih makan buah segar, seperti jeruk dan nanas atau semangka. Ia tak mau makan nasi.
"Sayang, tadi Mas hanya sarapan roti dan omelet saja," rayu Terra.
Wanita itu sedih, semestinya, dia lah yang merasakan mual dan ngidam setiap hamil. Tetapi, justru suaminya lah yang merasakan hal itu.
"Jangan buat istrimu khawatir, Haidar!" tegur Bram.
"Tapi, eneq, Pa. Takut nya keluar semua," sahut Haidar menolak.
"Sudah, jangan dipaksakan. Kasihan juga kalo seperti itu," ujar Kanya menengahi.
Terra menciumi wajah suaminya yang selalu lemas dan sedikit pucat. Haidar sangat senang, jika sang istri selalu mesra seperti ini.
"Sayang, sudah mau empat bulan, tapi kenapa masih ngidam ya?" tanya Terra.
"Kau tak ingat, semua anak-anak, ketika dalam kandungan. Aku ngidam sampai usia kandunganmu lima bulan, Sayang," jawab Haidar mengingat.
"Ah ... iya," kekeh Terra.
"Terima kasih, Suamiku. Kau bersedia mengalami trimester pertama kehamilan, Te," ujar Terra lembut.
"Kiss lagi," pinta Haidar.
Dengan senang hati, Terra mencium bibir suaminya. Keduanya pun saling pagut. Setelah kehabisan oksigen, barulah keduanya berhenti dan saling berpelukan. Anak-anak mulai tenang, karena tertidur di kursi mereka.
Perjalanan baru setengahnya. Kereta dua kali berhenti di stasiun-stasiun. Tidak ada penjaja makanan boleh masuk gerbong yang sudah disewa oleh Herman. Karena sudah di jaga oleh Gio dan beberapa anak buahnya.
bersambung.
next?