TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
WANITA BAR-BAR



Gea pulang dengan rasa malu. Ia baru saja kena SOP dari HRD karena memakai pakaian yang tak sesuai standar kerja. Bukan ia saja yang kena, tapi ada beberapa karyawati yang melanggar juga kena termasuk sang resepsionis.


"Ish ... nggak terima karena aku lebih seksi dari dia kali ya!" dumalnya kesal.


"Dua tahun aku kerja dengan pakaian seperti ini tidak ada masalah. Gara-gara perempuan yang mengaku istri CEO ku!" runtuknya lagi.


Gadis itu sangat ingat bagaimana sosok berhijab menegur keras penampilannya. Gea memakai blus dengan dada rendah dan tanpa lengan. Ia sengaja membuka blazernya. Gadis itu memamerkan bentuk tubuh dan warna bra merah menyala yang ia pakai pada atasannya.


Gea kini berada di rumah sewanya. Gadis itu membuka seluruh kain yang menempel di tubuhnya. Menatap puas semua bagian tubuh bahkan ia mengangkat dadanya yang menggantung indah. Tinggi gadis itu sekitar 159 cm dengan bobot 50kg. Cukup montok.


"Kau mengabaikan gadis seksi seperti diriku Tuan Starlight!' ujarnya penuh kepongahan.


Gadis itu pergi mandi. Ia mendapat sanksi skors alpha tiga hari. Usai mandi ia pun bergegas tidur agar segar besok pagi dan memulai rencana yang telah ia susun ketika pulang tadi.


Sementara itu di rumah Demian. Lidya tengah memakan masakan yang dimasak oleh suaminya. Wanita itu makan dengan lahapnya.


"Ini enak sekali, sayang!" pujinya gembira.


Demian seperti tidak berada di tempatnya. Pria itu melamun. Lidya menatap suaminya, lalu ia menyentuh tangan sang suami dengan wajah yang menyesal.


"Maaf, jika aku tadi terlalu keras dan ikut campur dengan perusahaanmu. Besok-besok, aku tak akan melakukannya lagi," ujar Lidya sadar diri.


Demian terkejut mendengar ucapan istrinya. Pria itu langsung duduk dan menahan laju Lidya yang hendak bangkit dari duduknya.


"Sayang, jangan begitu," ujar Demian penuh penyesalan.


Lidya hanya diam. Ia merasa dirinya sudah keterlaluan masuk ranah perusahaan yang bukan urusannya.


"Hei ... sayang dengar aku. Kau berhak melakukan apapun di perusahaan ku!" tekan Demian.


Pria itu menakup kedua pipi istrinya. Netra birunya menatap lekat iris coklat terang di sana.


"Sayang," panggil pria itu lalu mengecup lembut bibir istrinya.


Lidya menahan laju keinginan sang suami.


"Sayang, aku tadi melamun karena berpikir harus mendata ulang peraturan perusahaan," jelas Demian jujur.


Lidya menatap kejujuran di mata suaminya. Ia tersenyum.


"Iya hanya nggak enak karena terlalu mencampuri urusan perusahaan, Mas," jelas wanita itu dengan suara lembut.


"Jangan sungkan sayang. Bahkan aku berterima kasih kau mengingatkanku akan peraturan perusahaan," ujar pria itu.


Demian kembali memagut rasa manis setiap ia mencium bibir wanita yang sangat ia cintai. Lidya membalasnya. Perlahan Demian menggendong ala pengantin tubuh istrinya dan membawanya ke peraduan mereka yang hangat.


Keduanya memadu kasih dengan sangat lembut dan penuh cinta. Demian benar-benar memasuki dirinya begitu perlahan agar tak menyakiti calon janinnya. Usia kandungan Lidya barulah seumur jagung. Saf memperingati pasangan muda itu agar tak terlalu sering melakukan hubungan badan karena beresiko pada janin.


"Nanti, ketika usia kandungan di atas tujuh bulan baru boleh sering-sering," begitu saran Saf pada pasangan itu.


Sedang Safitri kini berada dalam pelukan suaminya. Keduanya usai shalat isya berjamaah.


"Besok kita ke rumah Mama ya, adik-adik mau pergi ke Eropa," ajak Darren lalu menyibak riyapan poni istrinya.


"Iya, Mas. Kasihan Mama sedikit sepi. Tapi untung masih ada Nai, Daud, Rasya, Rasyid, Arion dan Arraya. Jadi rumah nggak terlalu sepi," sahut Saf manja.


Darren memagut bibir istrinya yang sudah bengkak akibat ulahnya. Pria itu benar-benar candu. Bahkan tangannya mulai nakal, menyelusup ke balik daster sang istri.


"Kamu nggak pake ... mmmppffhh!"


Saf menutup mulut suaminya dengan bibirnya. Ia sangat malu jika Darren mengungkap apa yang terjadi. Sedang pria itu langsung beraksi menjamah tubuh wanita yang telah halal baginya.


Pagi menjelang. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Semuanya kini sudah berada di ruang kerja mereka.


Demian yang begitu segar karena mendapat jatahnya tadi malam. Ia menahannya selama nyaris dua minggu. Darren juga sama. Setelah mengetahui kehamilan istrinya. Saf menjadwal tentang kapan saja mereka boleh melakukan hubungan suami istri. Suami-suami muda itu pun harus menurut untuk keselamatan kandungan istri mereka.


Sedang di rumah sakit. Aini, Lidya, Putri dan Saf sedang bercengkrama. Mereka memiliki jadwal sama yakni menangani pasien di bangsal rumah sakit. Tentu saja dengan keahlian mereka masing-masing. Saf dan Aini membawa asisten mereka juga.


"Mam, nanti kita makan siang bareng ya," ajak Lidya.


Saf mengangguk.


"Wah, jadi mereka pergi. Kukira bakalan nggak dibolehin?" sahut Putri cukup terkejut.


"Grandpa yang maksa banget. Kasihan juga dengan Daddy Leon dan Daddy Frans yang kualahan memimpin hampir seratus perusahaan," jelas Lidya.


"Wah ... banyak banget," celetuk Saf terpana mendengar betapa banyaknya perusahaan Bart.


"Makanya ketika pertemuan dengan pers kemarin Grandpa bilang semua keturunannya akan kurang jika memimpin semua perusahaannya," ringis Lidya.


Saf mengangguk. Aini dan Putri hanya diam saja. Mereka tentu tak akan pernah masuk hitungan keluarga kaya raya itu. Menjadi bagian dari mereka saja seperti sekarang sudah untung.


Saf menoleh arah lain. Ia merasa ada yang mengamati. Wanita itu memicingkan matanya. Gio, Felix dan Hendra dilarang mengikuti mereka karena peraturan rumah sakit.


"Sepertinya ada yang mengamati kita," ujarnya masih menatap halaman rumah sakit yang sangat luas dengan banyak orang lalu lalang.


"Apa kita datangi Mam?" tanya Lidya yang juga merasakan jika dirinya diamati.


"Ayuk!" ajak Saf yang tak mau bertele-tele.


Sedang Putri dan Aini mengikuti dua perempuan itu. Gio dan lainnya menatap gerakan aneh nonanya langsung berlari mendekati.


Saf mendatangi sosok cantik yang bersembunyi di balik pot besar.


"Halo ... Anda sedang ngapain?"


Wanita itu terkejut. Ia mendapati sosok yang kemarin menegurnya keras.


"Ah ... aku hanya berurusan dengan dia!" ujar Gea berani sambil menunjuk Lidya.


"Ada urusan apa dengan adikku?" tanya Saf tak terima.


Melihat gadis bertubuh tinggi besar, terlebih iris mata Saf yang berwarna abu-abu. Begitu tajam dan sangat misterius. Gea mencibir Lidya.


"Cis ... aku tak menyangka jika kacungmu begitu banyak," celanya.


Plak! Satu tamparan keras dilayangkan Lidya pada pipi gadis itu.


"Jangan sembarangan jika berbicara!" tandasnya tegas.


Saf cukup terkejut dengan adik iparnya yang ternyata sangat bar-bar. Sedang Putri sudah biasa, ia pun pernah melihat Lidya yang sangat marah karena membela dirinya dulu.


Gea meraba pipinya yang panas. Gio hendak mendekati tapi isyarat Saf membuat pria itu urung dan menahan laju dua rekannya.


"Kau berani menamparku!" teriak Gea murka.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Aku yakin Tuan Starlight tidak tahu jika kau perempuan kasar dan tak tau adab!" teriak Gea lagi.


"Lalu kenapa?" tanya Lidya acuh.


"Akan aku adukan ini pada Tuan Starlight. Ia pasti akan mencampakkan wanita kasar seperti mu!" ancam Gea.


"Siapa yang berani mengancam kakakku?" sebuah suara berat datang..


"Baby!"


"Tuan Baby!"


bersambung.


ah Gea ... Monster kecil datang ...


next?