TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KISAH TERSELIP 1



Frisha tengah duduk dengan gelisah di sebuah bangku taman. Sesekali dirinya menatap benda melingkar di lengan kirinya.


Tiba-tiba sepasang tangan menutup matanya. Frisha tersenyum, sambil memegangi tangan itu.


"Hai, sayang!" sapa seseorang itu sambil berbisik di telinga wanita yang kini kegelian.


"Mas!"


seseorang yang ternyata pria itu langsung membalikkan tubuh wanita idamannya, dan langsung mencium bibir kekasihnya itu.


Semakin lama, ciuman itu menjadi ******* dan makin dalam juga menutut. Lidah mereka saling membelit, bertukar saliva, memuaskan bibir mereka masing-masing.


Hingga pasokan oksigen mulai habis. Barulah mereka menyudahi aktifitas menggairahkan tersebut.


"Sayang ...," pria itu makin mengeratkan pelukannya. Bahkan tangannya mulai meremas benda kenyal yang masih terbungkus baju.


"Ssh ... sayang, jangan di sini!" ujar Frisha menghentikan aksi mesum kekasihnya.


"Tapi, aku sudah rindu," bisik pria itu dengan suara serak menahan gairah.


"Iya. Aku juga. Ayo, kita pergi saja!" ajak Frisha langsung menyeret lengan pacarnya.


Pria itu membuka pintu mobil, untuk Frisha. Sebelum menutup pintu, ia mendaratkan ciuman cepat di bibir kekasih tercintanya.


Setelah menutup pintu. Barulah pria itu berjalan menuju kursi kemudi. Setelah memasang sitbelt. Mobil yang ditumpanginya meluncur membelah jalanan ibukota.


Sampai di sebuah apartemen mewah. Mobil itu berhenti dan terparkir di bestmen. Mereka berdua turun, kemudian menaiki lift, menuju flat apartemen milik si pria.


Tak henti-hentinya mereka berciuman. Hingga masuk sebuah kamar dengan nuansa mewah.


Sang pria ternyata tidak bisa menahan nafsunya. Hingga terjadilah penyatuan di atas ranjang dengan penuh hasrat gairah.


Entah berapa kali mereka menikmati penyatuan itu. Berulang-ulang hingga keduanya akhirnya kelelahan dengan penuh kenikmatan di wajah mereka.


"Ah ... aku sangat puas memasukimu, Sayang. Beruntung kau operasi caesar ketika melahirkan ketiga anakmu. Hingga milikmu ini masih bisa menjepit," puji pria itu vulgar.


Frisha sangat bangga dan senang dipuji oleh kekasihnya itu.


"Oh ya. Aku bawa hadiah untukmu!" ujar Frisha lalu turun dari ranjang.


"Ish ...," Frisha merasa sakit di bagian organ intimnya.


"Hei ... kau mau apa?" tanya pria itu sambil merangkul tubuh Frisha yang masih terbungkuk karena menahan perih.


"Tolong kau ambilkan tasku, sayang," pinta Frisha dengan suara lembut.


Pria itu mengambil tas kekasihnya kemudian memberikan tas kepada Frisha.


"Terima kasih, Sayang!" ujar Frisha dan menghadiahi sebuah ciuman di pipi prianya.


Frisha mengambil satu benda lonjong berwarna hitam berukuran kecil. Sebuah flashdisk.


"Apa ini, sayang?" tanya pria itu.


"Kau lihat saja. Isinya pasti menyenangkanmu," jawab Frisha tenang.


Sedikit mengernyit, pria itu bingung. Kemudian tiba-tiba mukanya memerah menahan amarah.


"Apa-apaan ini!" bentaknya.


Frisha terkejut bukan main. Wanita itu langsung ketakutan melihat ekspresi kekasihnya yang mulai gelap dan marah..


"Apa kau coba mempermainkan aku, Frisha!" sentaknya lagi.


"A-aku, t-tidak m-mengert-i," ujar frisha gugup dengan wajah pucat.


"Kau lihat ini. Apa isinya hanya gambar orang-orang sawah nggak jelas!" sentak pria itu sambil memperlihatkan isi iPad pada Frisha.


Mata wanita itu membelalak tak percaya, ketika melihat isi iPad kekasihnya. Sebuah gambar khas anak-anak dengan pemandangan gunung juga matahari yang bulatnya peyang kemana-mana.


"Tapi, aku yakin jika aku mengambil flashdisk yang benar!" ungkap Frisha membela diri.


"Lalu ini apa!" ujar pria itu kesal..


"Dasar tidak berguna!" bentaknya.


"Sekarang pergilah. Sebelum kemarahan ku memuncak!" usir pria itu.


"Tapi, sayang ...."


"Pergi!"


Frisha menangis tertahan. Tubuhnya masih sakit ketika habis bercinta tadi. Bahkan tanda kepemilikan pria itu masih terasa berdenyut di semua permukaan kulitnya.


"Pergi!"


Bruk!


Frisha jatuh dari tempat tidur, setelah pria itu mendorong tubuh wanita itu.


Dengan perlahan, wanita itu memunguti pakaiannya dan memakainya perlahan.


Dengan langkah tertatih, wanita itu melangkah dan meninggalkan kekasihnya itu sambil menahan tangis.


Wanita itu sampai rumah dalam keadaan kacau.


"Mama," sambut pria kecil yang melihat ibunya datang.


"Diam.dan berhenti kau di sana, Dar!" sentak Frisha dengan tatapan tajam pada putranya.


Darren terdiam. Tubuh pria itu menggigil ketakutan.


"Jangan ganggu Mama!" titahnya, kemudian masuk ke kamar lalu terdengar pintu terkunci.


Jika sudah begini, maka pria kecil itu harus menahan lapar dan menunggu ayahnya pulang.


bersambung.