
Hari berganti. Waktu berlalu begitu cepat. Terra sebentar lagi akan diwisuda. Ia mempercepat kuliahnya. Hanya dalam jangka dua tahun lewat dua bulan. Ia menyelesaikan seluruh semester.
Skripsinya juga sudah selesai bahkan, ia mendapatkan nilai tertinggi. Haidar sangat bangga akan kegeniusan istrinya. Lusa Terra akan diwisuda.
"Mama, ipu badu pa'a?" tanya Rion tengah menggantung baju toganya.
"Ini namanya baju toga, Baby," jawab Terra.
"Padu boga?"
"To ga!" ralat Terra kemudian mencium pipi gembul putranya.
"Po ga!" ujar Rion.
"Hmm ... Babyku," Terra tak bisa berkata apa pun. Bayinya belum begitu lancar berbicara.
"Hmmm ... Mamatu," sahut Rion.
Terra gemas bukan main. Ia menciumi bayi itu hingga tergelak. Lidya juga mau diciumi juga. Dengan senang hati Terra melakukannya.
"Mama, Iya manti mo dadhi Doptel," ujar Lidya.
"Aamiin, sayang. Kamu bisa jadi apa pun yang kau inginkan, sayang," sahut Terra, mengamini keinginan putrinya.
"Ion mau badhi taya' Daddy pama Papa, pesunaha," sahut Rion.
"Pengusaha, sayang," ralat Terra.
"Biya, pesunaha!" sahut Rion membenarkan ucapannya yang sama saja.
Terra akhirnya membiarkan apa yang Rion katakan. Ia hanya mengajarkan mana yang baik mana yang tidak. Berusaha menjadi ibu yang baik untuk ketiga anaknya. Darren baru saja tiba dari sekolah. Ia melihat baju toga. Matanya berbinar.
"Mama mau wisuda?" Terra mengangguk..
"Wah, sebentar lagi Mama sarjana," ujarnya bangga.
Terra mencium kening putranya. Darren pun ke kamarnya lalu ganti baju. Terra menyiapkan makan. Budiman datang dan duduk di sana. Haidar sebentar lagi pulang. Benar saja, pria itu datang. Terra dan anak-anak mencium punggung tangan pria itu. Budiman mau ikut-ikutan mencium tangan Haidar. Pria itu langsung menarik tangannya.
"Ck ...!"
Budiman terkekeh. Terra hanya memutar mata malas. Ada saja tingkah kedua pria dewasa itu jika saling meledek satu sama lain.
"Aku calon adik iparmu, Kak Idal," sahut Budiman terkikik.
"Emang Gisel bakal mau sama kau?" sindir Haidar remeh.
"Tentu. Tuan lihat kemarin kan?" sahut Budiman tenang.
"Ish ... pede abis," sindir Haidar lagi.
"Udah-udah ... ayo makan. Habis itu dhuhur!' tegur Terra.
Akhirnya mereka semua makan dengan tenang. Usai makan. Anak-anak main kembali. Terra membuat susu untuk Lidya dan Rion. Budiman kembali ke teras bersama Deno.
Anak-anak naik ke tempat tidur. Mereka pun meminum susunya dan tidur. Terra mencium anaknya satu persatu. Ia pun menunju kamar Darren, anak laki-laki itu tengah mengerjakan PRnya. Terra, mencium pucuk kepala putranya.
Haidar sedang berada di kamar mandi. Terra masuk ke dalam, Haidar memeluk istrinya. Terra mengalungkan lengannya ke leher suaminya. Mencium cepat bibir pria itu.
Haidar membalas langsung ciuman sang istri. Mereka menyudahi ciumannya. Napas keduanya memburu. Senyum terukir manis keduanya. Terra kemudian membuka laci. Lalu menyerahkan sebuah benda pipih.
"Apa ini sayang?' tanya Haidar.
"Hadiah buat Mas," jawab Terra.
Pria itu menatap benda pipih yang ada di tangannya. Ia pun menatap istrinya takjub.
"Sayang?" Terra mengangguk.
"Alhamdulillah, Ya Allah," Haidar mengucap syukur.
"Barakallah fii umrik, Mas," ucap Terra.
"Makasih, sayang. Ini adalah hadiah terindah yang kau berikan untukku," ujar Haidar senang bukan main.
Tak terasa hari berlalu. Hari ini adalah wisuda Terra. Haidar mendampinginya, bersama tiga anaknya.
"Sebagai mahasiswi lulusan dengan IPK tertinggi. 3,9. Terra Arimbi Hugrid Dougher Young!" panggil pembawa acara.
Terra maju dengan wajah ceria. Hanya make up tipis. Pita topi yang dipindahkan menjadi tanda Terra lulus. Semua bertepuk tangan. Usai uforia Haidar membawa Terra ke mansion orang tuanya. Di sana acara pesta kelulusan Terra diadakan..
Semua hadir dan mengucap selamat. Bart begitu bangga dengan cucunya. Bukan hanya Bart tapi semuanya menatap bangga.
"Selamat ya, Nak," ujar Herman memberi selamat. Ia terharu, memeluk Terra dengan erat penuh kebanggaan.
"Terima kasih, Yah," ujar Terra tersenyum.
Semua mengucap selamat. Bram menghadiahi satu kalung berlian untuk menantunya.
"Kalung ini adalah milik mendiang nenek Papa. Nanti, kau bisa menghasilkan pada menantu perempuan yang kau sayangi, atau kau bisa simpan sendiri," ujar Bram.
"Makasih, Pa. Ini indah sekali," ujar Terra penuh haru.
Kanya memeluknya. Karina mengucap selamat via video call. Ia juga mengatakan kabar gembira tentang kehamilannya. Semuanya larut dalam bahagia.
Pesta pun berlangsung hangat. Anak-anak Virgou dan Herman tak mau kalah bersaing. Mereka memperebutkan perhatian Terra.
"Sayang, Mama Terra kan cuma satu. Kasihan kalau ditarik-tarik seperti itu!' larang Khasya.
"Benan aja Punda ... Ion batal putun piasa pun ban satitin Mama!' ancam Rion sambil melotot pada keempat bayi yang kini sudah mulai merambat.
Ajaib. Keempat adik Rion itu pun diam. Ia takut jika Rion sudah galak seperti itu. Terra hanya bisa menghela napas panjang. Lalu mengusap perutnya.
"Baby, perut Mama ada baby juga loh," ujar Terra.
"Apa!' semua terkejut mendengar perkataan Terra.
"Alhamdulillah, aku punya cucu lagi!' pekik Bram senang.
Bart juga mengucap syukur. Darren memeluk ibunya, begitu juga Lidya. Hanya Rion yang terdiam. Ia menatap ibunya.
"Mama akan sayang kamu selalu, Baby," janji Terra.
"Panji?" Rion menjulurkan kelingkingnya.
"Janji, Baby," Terra menyambut jari kelingking putranya dengan kelingkingnya.
Terra dan Rion pun berpelukan. Seperti takut tidak disayang. Rion mendekap erat ibunya.
"Ion payan Mama ... panan pindalin Ion, Ma," ujarnya lirih.
Terra mengeratkan pelukannya. Ia tahu ketakutan Rion. Balita itu baru saja merasakan kasih sayang. Terra pun akan sepenuh hati menyayangi Rion sama dengan anak-anaknya yang lain.
"Mama akan selalu bersamamu, sayang. Bukan hanya Mama, Papa, Kakek, Oma, Grandpa, Daddy, Ayah, Bunda, semua akan selalu sayang sama kamu," sahut Terra.
"Ba bowu, Ma."
"Ba bowu, Baby."
"Sekarang Papa ulang tahun loh, Baby nggak mau oke-oke?' tawar Terra.
Rion langsung semangat. Haidar sudah menyiapkan semuanya. Balita itu langsung antusias memegang mik.
"Pes ... sapu .. buwa ... pida ... pes!"
Rion mulai bergoyang bersama Virgou.
"Paba bali mindu putulut bayah te pota ... mait belnam pistinewa pududut bi nuta ... pupudut pantin pat pusil ban sepan beleja ... pendelali puda pupaya bawit palanna ... bey ... Tut ... tit ... tat ... tit ... Tut ... tit ... tat ... tit ... Tut Tut ... tit ... tat ... tit ... Tut ... tit ... tat ... tit ... puala psatu puda!"
bersambung
barakallah fii umrik Haidar. Selamat Terra. Insha Allah kau akan jadi ibu yang bijak untuk semua anak-anak mu.
next