
"Lidya, awas!" pekik Terra dan Haidar bersamaan.
Bug!
"Huuuwwaa ... Mama!' Lidya jatuh kembali.
Teman seusianya hanya berdiri. Ia tadi sengaja mendorong Lidya. Gadis kecil seusia Lidya itu melirik sosok dewasa yang hanya mengangguk kecil. Tiba-tiba guru itu langsung berlari menuju Lidya.
"Lidya ... kamu nggak apa-apa?" tanyanya.
Haidar langsung mengangkat putrinya dan mendekapnya erat.Terra menatap gadis kecil yang mendorong putrinya tadi. Tampak wajah ketakutan di sana. Ia yakin jika anak kecil itu tidak mau melakukan hal tadi.
"Duh, maaf ya Bu. Lana ini agak nakal. Dia memang suka bikin onar!" ujarnya sedikit melotot pada anak kecil yang berdiri gemetar.
Terra memicingkan matanya. Ia sangat tahu jika Lana begitu takut. Terra melihat sekeliling. Tak ada wali yang menjemput Lana.
"Orang tuanya mana?"
Guru itu tergugup. Ia pun seperti menoleh ke sana kemari, ikut mencari. Lalu ia pun tersenyum kembali.
"Sepertinya Lana, tidak dijemput lagi sama Ibu atau pengasuhnya. Biasa juga dititipkan ke saya. Kebetulan rumahnya deket sama rumah saya," jelasnya panjang lebar sambil melirik Lana..
"Lana, ayo minta maaf," ujar guru itu dengan mulut tak terbuka.
Terra memperhatikan semuanya. Haidar juga memperhatikan guru tersebut.
"Maaf ya," sahutnya lirih dengan tubuh gemetar.
Terra menarik tubuh gemetar itu. Lalu dipeluknya. Terdengar isakan lirih keluar dari bibir mungil tersebut.
"Eh, Kok malah nangis!" sahut guru itu dengan wajah sedikit kesal.
"Jangan dibiasain, Bu. Nanti ngelunjak," ujarnya lagi lalu menarik tubuh Lana dari pelukan Terra.
Lana menjerit ketakutan. Gadis kecil itu memeluk erat leher Terra seakan meminta pertolongan. Guru itu masih memaksakan diri. Hingga Haidar mencengkram tangan guru itu.
"Sekali lagi anda tarik Lana dari pelukan istri saya. Anda saya akan jebloskan ke penjara!" ancam Haidar.
Guru itu melepas tarikannya. Wajahnya berubah pucat. Lana masih menangis dalam pelukan Terra. Lidya yang melihat temannya menangis pun terdiam. Ia meminta turun.
"Lana, tamu tenapa?" tanyanya.
Lana hanya menangis. Lidya akhirnya memeluk temannya itu. Lana makin menangis. Tiba-tiba, gadis kecil itu tak sadarkan diri. Terra langsung panik.
"Kita harus bawa dia ke dokter," ujar Terra.
Semua menatapnya. Kepala sekolah taman kanak-kanak keluar. Ia sangat heran dengan semuanya terlebih Lana tak sadarkan diri.
"Bawa ke ruang UKS!" titah kepala sekolah.
Semua ke ruang UKS. Di sana ada minyak angin. Terra membuka semua kancing di baju juga rok gadis malang itu. Menerima minyak angin lalu menggosoknya. Haidar sudah memanggil dokter.
"Bu Warni, anaknya kenapa bisa pingsan gini?" tanya Kepsek. "Ibu pukulin dia lagi?"
Semua menatap Warni. Wanita itu hanya membuang muka. Tak peduli, lalu meninggalkan putrinya begitu saja.
Kepsek hanya bisa menghela napas panjang. Terra ingin bertanya lebih detil tapi ia menunggu cerita dari kepsek tentang Lana.
Tak lama, dokter datang memeriksa gadis kecil itu. Lalu menerangkan apa yang terjadi.
"Lana mengalami guncangan kejiwaan tinggi. Bisa dibilang traumatik tingkat awas. Ia harus segera ditangani agar nyawanya tertolong," jelas dokter.
Semuanya hanya terdiam. Gadis sekecil Lana mendapat penderitaan begitu besar. Terra kembali mengingat kejadian yang menimpa ketiga anaknya dulu.
"Bu, apa bisa kita laporkan ini ke Komnas perlindungan anak?' tanya Terra.
"Maaf Bu, pihak sekolah dilarang keras mencampuri urusan pribadi murid-murid kami," jelas kepsek.
"Tapi ini demi keselamatan nyawa murid ibu! Apa ibu tidak merasa iba?' hardik Terra setengah tak percaya.
"Maaf Bu," sahut kepsek angkat tangan.
Haidar kesal bukan main. Sepertinya ia akan mengandalkan kekuasaannya kembali.
"Baik. Saya akan laporkan kepada diknes atas pembiaran kekerasan terhadap anak!";
ancaman Haidar tak membuat kepsek takut. Ia tak yakin ada seorang memiliki koneksi sekuat itu untuk bisa melaporkan kejadian ini. Karena selama ia mengajar. Tak ada satu wali murid bisa membuat pihak sekolah bertanggung jawab atas kejadian yang terjadi pada anak didik mereka.
Haidar mendengkus kesal. Ia menggendong Lana. Mengajak istrinya untuk membawa gadis kecil itu ke rumah sakit.
Siapa sangka. Perbuatan Haidar menjadi masalah untuknya. Ia dilaporkan oleh Warni sebagai penculik anak.
bersambung.
wah ... cari perkara Warni.
next?