
Hari berganti. Waktu berlalu. Sudah dua hari semenjak peristiwa Nai yang nyaris dilecehkan. Banyak sekali aduan mahasiswa yang terbentur dengan peraturan. Rektor baru diganti, sistem dirombak ulang. Haidar yang melanjutkan gelar profesornya pun mengambil alih tampuk pimpinan ketua universitas Guna Pratama. Kean dan Cal juga mengambil lagi S2 mereka. Hingga ketika lulus. Cal yang paling berminat untuk menjadi dosen selain menjadi CEO perusahaan tambang nikel milik ayahnya. Sedang Kean kini menggantikan posisi David sebagai wakil CEO perusahaan Black Pisters's Steel Company. Affhan dan Maisya masih kelas enam SD sedang Kaila masih kelas empat. Sedang Harun masih berusia tujuh bulan.
Putra Herman hanya Satrio yang kini mulai membantu perusahaan sang ayah, remaja berusia mau enam belas tahun itu sudah mampu memimpin sebuah rapat saham dan menarik investor luar. Arimbi akan menjadi dokter sebentar lagi sia akan mengambil langsung spesialis kandungan. Sedang Dimas masih kelas enam, Dewa dan Dewi baru kelas empat.
Putra dan putri Terra sendiri juga sudah mulai membantu ayah mereka. Sean sudah menjadi wakil CEO di perusahaan Haidar. Sedang Al kini menjadi CEO di PT. Hudoyo cyber tech milik Terra. Daud juga sebentar lagi akan menjadi dokter, ia akan mengambil spesialis jantung setelah lulus kedokteran nanti. Sedang, Rasya dan Rasyid baru kelas empat SD sedang Arion dan Arraya baru berusia empat bulan.
Gisel masih menjabat sebagai CEO di perusahaan milik suaminya. Budiman hanya sesekali membantu istrinya. Ketiga putranya juga masih terlalu kecil untuk mengemban tugas besar. Samudra baru mau enam tahun, Benua masih mau empat tahun sedang Sky baru dua tahun.
Sedang David, istrinya baru memberinya satu putra yang baru berusia enam bulan yakni Azha.
Hari ini Daud bersama tiga pengawal berada di wilayah B. Remaja tampan itu.
Ini dia sosok Daud. Tampan dan imut.
Dengan menggunakan jas kebanggaan. Ia melayani masyarakat yang datang dengan ramah dan murah senyum. Hingga tak ayal menjadi idola kau hawa. Banyakan yang datang itu bukan hanya memeriksa tapi menggoda Daud sedemikian rupa.
"Duh, Dokter ... ganteng amet sih, imut lagi," puji salah satu ibu yang tengah memeriksakan diri.
"Ibu sehat-sehat aja loh," ujar Daud memberi keterangan, plus senyum indahnya.
"Uuh ... manisnya ... mau nggak Dok jadi suami saya?" pinta ibu itu.
"Wah, kasihan banget suami ibu. Lagi pula saya masih kecil belum lima belas tahun," sahut Daud lagi-lagi dengan senyum indahnya.
"Sekarang nggak masalah berondong kawin ama tante-tante," sahut ibu tadi centil.
Daud sebenarnya sudah jengah dengan perlakuan ibu-ibu centil ini. Andai ia bisa memilih pasiennya. Ia maunya nenek-nenek yang batuk-batuk dan masuk angin saja yang menjadi pasiennya.
"Silahkan pulang ya, Bu," pinta Daud ramah.
"Ish ... saya ini sakit parah loh, Dok. Jantung saya mau copot pas liat dokter!" ujar ibu tadi.
"Kalau begitu periksanya bukan sama saya, Bu. Tapi ke bagian jantung. Saya rekomendasikan ya, Dokternya," ujar Daud menulis sebuah memo.
"Pasien selanjutnya!" ujarnya.
Ibu tadi hanya memberengut saja. Perempuan itu sampai digiring keluar oleh para perawat pria. Kali ini pasien Daud adalah pria.
"Tangan anda halus sekali Dok? Nggak pernah macul ya?" ledek pasiennya itu.
Daud hanya tersenyum manis. Tak ada gejala serius. Hanya butuh beberapa vitamin saja.
Hingga dua jam ia melakukan koas. Remaja itu pun pulang. Banyak pasien kecewa karena tidak kebagian diperiksa olehnya.
"Duh, ganteng amet sih ... masih muda lagi," puji salah satu pasien.
Sebenarnya Daud sedikit menyesal ambil kedokteran ketika hendak mengambil jalur pendidikan selanjutnya. Tapi, nasi sudah jadi bubur. Remaja itu menjalani perannya.
"Enak banget Kean, Calvin, Sean, Al sama Satrio ya. Mereka nggak bertemu banyak orang," keluhnya.
"Tuan muda!" Juan menyapa.
"Ya," sahut remaja itu lesu.
"Kita langsung pulang atau mau ke kampus dulu?" tanya Juan.
"Pulang aja, Om. Daud cape," jawab Daud lemah.
Juan mengangguk lalu membuka pintu untuk tuan mudanya. Daud masuk dan langsung menyetel jok sedikit merebahkan dirinya. Sepasang mata menatap dari kejauhan. Juan, Agung dan Leo melihat orang yang memandang tuan mereka. Pria itu buru-buru pergi dari sana. Juan mengerutkan kening.
Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu tersenyum miring. Ia melirik dua rekannya yang juga mengetahui keadaan.
"Kita tunggu aja," ujar Agung menyeringai.
Mereka pun naik ke mobil mereka. Sedang pria yang tadi mengamati Daud sedikit bingung.
"Sepertinya yang namanya Daud itu masih kecil dan anak orang penting. Buktinya, dijaga sama tiga pengawal yang badannya gede," gumam pria itu.
"Aku harus kasih tau Richard," ujarnya ia pun menelepon rekannya itu.
"Halo. Target masih belia dan didampingi tiga pengawal!" ujarnya.
"......?"
"Ya, memang begitu keadaanya! Jika dilihat dari namanya, Daud N. P. Hovert Pratama," jelasnya.
"Aku nggak peduli. Habisi dia!" titah Richard di seberang telepon.
"Habisi ... habisi .. kamu kira enak apa?" sergah pria itu kesal.
"Ya udah, culik dia. Trus kita bawa dia ke markas!" ujar Richard lagi memberi perintah seenaknya.
"Emang kamu Boss apa. Kamu kerjakan sendiri!" tolak pria itu lalu mematikan sambungan telepon.
"Bangsat! Kroco aja belagu setengah mati!" sengit pria itu lalu mengantungi ponselnya dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Sedang Richard uring-uringan di seberang telepon. Ia sangat kesal. Semua rekan menolak membantunya membereskan satu orang saja. Richard memang hanya seorang anak buah mafia dari klan biasa bernama TheManiac. Ia dulu seorang perekrut masa. Pria yang diteleponnya tadi masuk dunia mafia berkat bantuannya.
"Dulu aja, mohon-mohon minta bantuan, sekarang sudah senang lupa!" gerutunya kesal.
Pria itu akhirnya akan membuat rencananya sendiri. Menurut info yang ia dapat tadi. Jika Daud merupakan anak orang penting.
"Aku culik dan minta tebusan dalam jumlah banyak sepertinya tak masalah," gumamnya sambil menyeringai licik.
Sedang di kampus dewan kehormatan mahasiswa tengah menyidang Kevin. Ada delapan korban yang ia peras dengan foto ciuman bibir itu bahkan ada beberapa di antaranya half naked. Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu memacari beberapa gadis kaya, lalu membuat foto-foto vulgar tanpa sepengetahuan gadis-gadis itu. Lalu memeras mereka untuk tidak menyebar foto itu ke orang tua gadis.
"Sayang sekali, Kevin. Kau adalah salah satu mahasiswa kebanggan kami. Nilaimu sangat baik sekali, bahkan kau adalah peraih beasiswa dua tahun berturut-turut," ujar Haidar kecewa.
Pria itu memang menjadi ketua forum dewan kehormatan mahasiswa.
"Adakah yang memberitahumu dahulukan adab dibanding ilmu?" tanya Haidar.
Kevin hanya diam. Bukan untuk merenungi kesalahannya, tapi menumpuk kebencian di hatinya. Ia melirik secara sembunyi-sembunyi pada pria tampan berusia empat puluh dua tahun itu. Ia hanya beda sembilan tahun dengan istrinya yang sekarang berusia tiga puluh empat tahun.
"Saya tidak akan mengeluarkanmu, karena nilai-nilaimu," ujar Haidar memutuskan..
Semua orang mengangguk setuju. Sangat di sayangkan jika harus mengeluarkan salah satu mahasiswa cerdas ini.
"Kau hanya kena skorsing satu minggu dan buat makalah arus pendek pada mesin formula!"
Kevin hanya mengangguk. Hal itu bukan masalah bagi otak cerdasnya. Kecerdasan pemuda itu tak imbang dengan kelakuannya. Haidar hanya menghela napas panjang melihat Kevin oleary pergi tanpa ada kata-kata minta maaf dan wajah penyesalan.
bersambung.
keras kepala..
next?