
Bug!
Gorgov langsung jatuh sempoyongan. Ia sudah knock out. Para polisi langsung ingin meringkusnya. Tapi, pria setengah baya itu keras kepala.
Gorgov kembali bangkit. Pria itu kembali menyerang, sebuah pukulan hook mengenai pelipis pria tampan dengan sejuta pesona itu.
"Ssshhh!' Virgou sedikit pusing.
Pria itu memang belum pulih benar. Bahkan pandangannya kini sedikit buram. Virgou sudah mulai bosan. Maka, ia pun kembali menyerang Gorgov dengan tiga pukulan telak.
Bug! Bug! Bug!
Pukulan, mengenai wajah dan rahang pria itu. Gorgov pun tumbang. Ia sudah tak bisa bangun lagi. Para polisi langsung memeriksa tubuhnya.
"Kita hanya menemukan handsfree. Sepertinya, ia memberi perintah pada anak buahnya untuk melakukan serangan bom bunuh diri," jelas salah satu ajudan IrjenPol Agus.
Inspektur Jenderal Polisi Agus menyuruh semua bawahannya untuk merengsek ke dalam. Kedatangan pihak kepolisian membuat semua klan saling serang. Tentu saja, pihak kepolisian menang taktik dan strategi.
IrjenPol Agus pun membongkar beberapa sindikat dan peredaran obat-obatan terlarang. Bahkan pembangunan kembali distrik D dapat digagalkan dalam penyergapan kali ini.
Virgou dan Gomesh tentu mengikuti polisi pemberani itu. Dengan kekuatan hukum yang dibawanya. Ia mampu menyeret beberapa klan yang melakukan aktifitas ilegal.
Dunia shock melihat gebrakan pemerintah yang membasmi dunia hitam. Para mafia dunia bungkam dan langsung mematikan jalur mereka agar tak terseret.
Virgou dan Gomesh tertawa senang melihat banyaknya penjahat yang ditangkap dalam penyergapan itu. IrjenPol Agus pulang dengan tangkapan paus raksasa. Semua media menyorotinya.
Gorgov terborgol. Ia tak percaya, tangan kematian miliknya tak mampu melukai sedikit pun Virgou. Pria itu masih penasaran. Ia masih ingin membuat perhitungan dengan rivalnya.
Gorgov mengamati situasi. Pria itu mencari momen tepat untuk menyerang Virgou satu kali lagi.
"Sekarang, atau tidak sama sekali!" tekadnya dalam hati.
Virgou tampak berwajah ceria. Gorgov makin kesal melihat betapa tampannya rivalnya itu. Pria itu masih mengamati situasi. Lalu, ketika ia sudah meyakinkan diri untuk menyerang Virgou.
"Heaa!" teriaknya sambil melepas pukulan ke arah belakang kepala rivalnya.
Tap! Krek! Bunyi tulang patah.
"Huuuaaa!" pekik Gorgov kesakitan.
Bukannya kapok dan berhenti menyerang. Gorgov kembali menyerang. Hanya satu kali sentakan tubuh pria itu melayang ke udara. IrjenPol Agus sampai menahan napas. Sedangkan para anak buah berusaha menangkap tubuh pria yang melayang tersebut.
Brug! Tubuh Gorgov terhempas masuk ke parit dengan kepala terlebih dahulu. Semuanya nyaris berteriak melihat hal itu. Para polisi mengangkat tubuh pria paru baya yang sok jago itu.
"Pelaku meninggal dunia Komandan!" lapor salah satu petugas.
IrjenPol Agus menatap pria raksasa di depannya. Gomesh hanya mengendikkan bahunya. Tugas dia melindungi atasannya. Sebagai bodyguard, ia memiliki kekuasaan untuk itu.
IrjenPol Agus menghela napas panjang. Ia pun hanya pasrah. Gomesh tak dapat ditahan bahkan ia melenggang dengan santai ke mobil Jeep milik tuannya.
Kepolisian Negara Indonesia memberikan penghargaan kepada Inspektur Jenderal Polisi Agus yang telah berhasil menangkap sebagian para mafia yang memiliki andil besar atas kegiatan ilegal.
"Pak, apa benar ada yang terbunuh?' tanya wartawan.
"Beberapa korban memang ada yang tewas, Tetapi anggota kami juga banyak yang terluka akibat kejadian itu!" jawabnya dengan raut ketegasan.
"Bagaimana dengan Tuan Black Dougher Young, apa beliau juga diberi reward oleh negara? Karena berkat beliau juga kan kepolisian bisa mendapat tangkapan besar?" tanya para wartawan lagi.
"Tentu saja. Pemerintah akan mengkaji ulang permintaan dari Tuan Black Dougher Young untuk menjadi warga negara Indonesia. Juga beberapa hak ekslusif yang diberikan untuk menunjang semuanya," jawab IrjenPol Agus.
"Pak apa benar kita memiliki ponsel yang paling genius yang di seluruh dunia belum ada yang memilikinya?" tanya para wartawan lagi.
"Saya kira cukup. Terima kasih!" IrjenPol Agus pun menutup sesi wawancara.
Pria itu merahasiakan keberadaan BraveSmart ponsel. Ia tak mau ada tangan-tangan jahat ikut andil membeli bahkan bisa dijiplak oleh beberapa orang tak bertanggung jawab.
Semua pun tenang dan kembali kondusif. Beberapa tempat jalan raya tampak melakukan perbaikan sana-sini.
Virgou kini bermain dan tertawa, mansionnya penuh berisi manusia dan anak-anak. Frans dan Leon berkali-kali memuji kemenakannya itu.
"Daddy, polehtah pita ote-ote?" pinta Rasya dengan puppy-eye.
"Tentu, Baby. Dav. Pasangkan karaoke!"
David langsung memasangkan alat yang diinginkan anak-anak. Semua berkumpul dan duduk dengan tenang. Kaila tak mau lepas dari pangkuan Haidar.
Sedang Dewa dan Dewi mengganggu Gabe. Rion memeluk Virgou, bocah itu enggan melepaskan. Pria itu mencium pucuk kepala Rion dengan penuh kasih sayang. Herman iri karena anak-anak tak ada yang mau dipangku olehnya.
"Ayah," panggil Lidya.
Gadis itu pun menyender di bahu Herman. Barulah pria itu tersenyum senang.
Rasya mengambil mik. Ia mau bernyanyi lebih dulu. Lagu naik ke puncak gunung menjadi pilihan bayi berusia dua tahun setengah itu.
"Bait, bait betuntat bunun ... Pindi ... pindi setali ... bait, bait petuntat punun ... bindi ... bindi setali ... bili tanan. Tu bihat zaja ... panat bohon benala aaa ... pili banan pubihat paja ... banat bobon celana ...!"
Puspita tersedak. Khasya nyaris menyemburkan ludahnya. Terra menutup mulut. Sedang Robert yang ada di sana sudah terpingkal-pingkal. Semua anak menatapnya. Pria itu terdiam. Lalu.
"Selan Om Bopet!" teriak Rasyid.
Semua anak langsung berdiri dan menyerang pria besar nan tampan itu. Robert pun hanya bisa pasrah. Ia memang paling tak bisa menahan tawanya.
Robert pun balas menyerang anak-anak, hingga terdengar lah gelak tawa anak-anak.
Lagi, pula siapa yang tak mau diserang oleh semua anak itu. Mereka menyerang dengan ciuman dan pelukan gemas.
Bersambung.
ah ... lega ...
next?