
"Sayang. Kau baru saja meretas data akun Chaosaurus?' Darren mengangguk lemah.
"Bagaimana bisa, ini butuh waktu setidaknya tiga jam!" ucap Terra setengah tak percaya.
"Tadi sebenarnya, Guru agamanya nggak dateng, Ma, " jelas Darren.
"Lalu?"
"Darren, iseng. Eh tiba-tiba ada akun yang mau nyerang data kepolisian. Ya, Darren block terus serang balik," jelasnya lagi.
"Tapi kenapa kamu hancurkan akun kamu sendiri say ... eh sebentar. Kamu mengelabui patroli mereka dengan menghancurkan akun kamu?" Darren mengangguk lagi.
Terra mengecek akun Darren. Pria kecil itu memilih LittlePrince sebagai nama akunnya. Akun dengan lambang mahkota dengan mata hitam di tengahnya. Terra terkagum akan kegeniusan putranya. Sebegitu telitikah Darren mempersiapkan semua tamengnya?
"Berapa lama kau membuat ini, sayang?" tanya Terra.
"Satu minggu lewat satu jam, Ma," jawab Darren.
Terra tersenyum. Tugasnya nanti malam akan sedikit lebih ringan. Aksi Darren yang membobol salah satu akun klan mafia terbesar kedua, akan mengalihkan banyak IT atau hacker. Mereka pasti melacak siapa itu LittlePrince. Gadis itu mencium lagi kening putranya.
"Ya, sudah tidak apa-apa. Kamu bebersih sana, sebentar lagi maghrib," titah Terra lembut.
"Iya, Ma," jawab Darren langsung mengerjakan titah ibunya.
"Te, aku minta makan!" pinta Virgou.
Terra langsung menyiapkan makan untuk kakaknya. Ia dari tadi cerewet belum makan siang karena asik menggoda kekasihnya, Puspita.
"Aku duluan makan malam, ya. Lapar sekali," ujarnya.
"Makanlah, Kak," suruh Terra. Ia sama sekali tak keberatan.
Haidar ternyata juga menarik kursi makan. Ia minta dibuatkan kopi. Sang istri tentu membuatkan kopi. Ketika Bart juga keluar. Terra bertanya.
"Grandpa, do you want a cup of coffe?" Bart mengangguk.
Terra membuatkan empat cangkir kopi. Untuk, suami, kakek, dirinya juga untuk Budiman. Pria itu baru datang lewat pintu belakang. ia mandi menggunakan kamar mandi khusus asisten rumah tangga.
Ia duduk bersama keempat majikannya, yang sudah menganggapnya keluarga. Walau ia masih membatasi diri memanggil mereka dengan sebutan Tuan dan Nona. Padahal Terra sudah menikah. Budiman masih memanggilnya Nona.
"Grandpa. Kata Kak Budi, dia mau memacari Gisel," adu Terra.
"Astaga, Nona. Kenapa anda jadi tukang ngadu seperti Tuan Baby?" keluh Budiman.
Sayang ia hanya berani mengeluh dalam hati. Jika saja ia melontarkan keluhan itu. Yang ada dirinya tidak berhenti jadi bahan olok-olok.
"Benarkah?'' tanya Bart serius.
"Benar Grandpa, aku mendengar sendiri tadi," sahut Haidar ikut menimpali.
Tiba-tiba Rion muncul. Bayi montok itu menaiki Bart dan berdiri di pangkuan kakeknya.
"Benpa. palacan itu pa'a?" semua mengernyit tanda tak mengerti.
"Pacalan, Baby. Bukan Palacan," ralat Lidya.
"Ah ... ipu lapacan!" ia meralat kata-katanya yang masih juga salah.
Bart mencium bayi menggemaskan itu, hingga tergelak. Lidya naik dipangkuan Budiman.
"Om Budi mau pacalan sama Tata Jisel?" tanyanya pada pria tampan itu.
"Emmm ...," Budiman enggan menjawab.
"Om Pudi patal Ata' Bisel!" pekik Rion lalu kembali tertawa karena digelitiki oleh Bart.
Adzan maghrib berkumandang. Budiman lega karena tidak perlu menjawab pertanyaan nona kecilnya. Ia menurunkan gadis kecil itu. Terra merapikan gelas kopi. Hari ini ia tak menunaikan ibadahnya karena tengah mendapat siklusnya.
Darren keluar dengan baju Koko. Semua pria menuju ruang belakang kecuali Bart. Pria tua itu menyingkir membawa cangkir kopinya ke ruang tengah. Sambil mengutak-atik ponsel miliknya. Membalas beberapa pesan dari Leon dan Frans tentang perkembangan perusahaan.
Terra sedikit terkejut ketika Virgou ikut berwudhu. Bart sudah tahu jika cucunya telah memeluk agama yang sama dengan cucu perempuannya itu.
Tadinya Virgou tidak percaya adanya Tuhan. Ia tak memiliki agama apa pun. Kehidupan keras membuatnya menjadi manusia dalam kegelapan.
"Boleh aku jadi imam?" pinta Virgou.
Semua pria mempersilahkan. Deno kini yang mengumandangkan qomat. Usai qomat, Virgou meminta semua merapatkan shaf. Lidya dibantu Terra mengenakan mukenanya. Rion berdiri diapit Darren dan Deno. Bayi itu tidak memakai apapun hanya popok dan kaos.
Terra membiarkannya. Selama Rion tidak mengganggu.
"Allahuakbar!" pria itu pun mengangkat tangan kemudian melipatnya di atas perutnya.
Usia sholat. Mereka kembali berkumpul. Bart juga ikut duduk bersama mereka.
Terra memberitahu tentang kebisaan Darren yang berhasil meretas akun mafia Klan Chaosaurus. Bart cukup terkejut.
"Benarkah?" Terra mengangguk membenarkan.
"Lalu bagaimana Darren bisa selamat dari patroli Chaos. Patroli Chaos itu benar-benar kejam, Te?" ujar Bart lagi dengan nada khawatir.
"Tenang, Grandpa. Darren sudah menyiapkan semua tamengnya. Putraku sudah mendesign sedemikian rupa melindungi akunnya. Bahkan Te, aja nggak kepikiran ke sana!" jelas Terra panjang lebar.
"Wah, kau genius sekali, sayang. Daddy jadi iri denganmu," puji Virgou.
Darren tersipu dengan pujian dari Virgou. Lidya senang jika kakaknya dipuji karena ia tahu kehebatan kakak laki-lakinya tersebut.
"Tata Dallen eman pintel dali dulu Daddy," lapor Lidya semringah.
"Kamu juga cerdas sayang," puji Virgou pada Lidya.
"Pima tasyih, Daddy," ucap Lidya dengan wajah tersipu.
"Mama. Ion bintel emba?" tanya Rion serius.
"Ouh ... Baby bukan pinter lagi, tapi Baby supeerr pinter," jawab Terra.
'Belius?" tanyanya tak percaya. Bayi itu tak suka dibodohi.
Terra mengangguk walau, ia harus menahan tawa akibat ekspresi bayinya.
"Mama, pau tan bolon ipu belbosa!"
Terra terbahak tak kuat. Ia benar-benar tidak tahan melihat ekspresi Rion. Bayi itu mulai dramanya. Ia menjauhi ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Mama bolon ma Ion ... hiks ... hiks!'
"Oh sayang, Mama nggak bohong, Baby. Kamu memang pintar!" Terra berhenti tertawa. Ia merasa bersalah.
Virgou dan Haidar jadi marah. Terra langsung memasang wajah minta maaf. Rion menangis, sedih sekali.
"Sayang, maafin Mama. Habis kamu lucu banget, jadi Mama nggak kuat nahan tawa, Baby," pinta Terra sangat menyesal.
"Ion emba mau Mama bolon ... hiks ... hiks," ujarnya sambil mencebikkan bibirnya.
"Uh ... sayang, sini Baby," panggil Virgou.
"Baby kan kuat, masa gitu aja cengeng," ujar Virgou.
"Ion emba tenen!" sentak Rion tak suka.
Virgou melipat bibirnya ke dalam. Haidar membuang muka menahan tawa sedang Bart dan Budiman menatap plafon rumah agar tak ketawa. Darren hanya menghela napas. Begitu juga Lidya.
"Baby, jangan malah-malah. Nanti taya Tate Blam, Tate Helman syama Glenpa Bat loh, tua," ujar Lidya menakuti Rion.
"Mama. Ion emba mau pua pewelti Ate'-ate' ... huuwaaa!" Rion makin kencang nangisnya.
"Katanya nggak cengeng, kok nangis?" sahut Darren yang membuat Rion diam seketika.
Bayi itu langsung berjalan menjauh. Ia merasa tersudut. Kepalanya tertunduk. Kali ini dia benar-benar bersedih atas ucapan kakaknya. Padahal ia juga ingin dipuji, hanya itu.
Darren menjadi merasa bersalah. Ia pun langsung mendatangi adiknya lalu memeluknya dan meminta maaf.
"Maafin Kakak, Baby ... maaf ... maaf," pinta Darren dengan suara bergetar.
Terra jadi bersedih. Semua ini berawal darinya yang tak bisa menahan tawa karena kelucuan putranya itu.
Haidar langsung berdiri dan menyambangi keduanya. Ia pun menggendong Rion dan mendekapnya. Bayi itu menangis. Sedih sekali.
"Maafin Papa, Mama, Grandpa sama Daddy ya, Baby," pinta Haidar sambil menciumi pipi gembul yang basah dengan air mata.
Lidya jadi ikut bersedih. Ia juga merasa bersalah. Terra makin menyalahkan dirinya. Mereka semua masih kanak-kanak untuk mengerti rasa bersalah.
Namun, keadaan mengajarkan mereka. Untuk saling menjaga perasaan saudaranya.
Bersambung ...
hiks ðŸ˜
next?