TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SS-2 THE NEXT CEO



Hari ini Darren sedang didandani oleh ibunya. Terra membelikannya setelan formal untuk dirinya. Hari ini, rapat jurnal akan diselenggarakan.


Desas-desus penyiapan the next candidate sudah diperbincangkan semenjak Terra membawa Darren pertama kalinya ke perusahaan. Menunjukan ahli waris Hudoyo Group sesungguhnya.


Darren sangat tampan, Haidar sampai berdecak melihatnya.


"Oh, tampan sekali anak Papa satu ini?" pujinya bangga.


"Kau mau saingan sama Papa ya, hem?" selorohnya sambil menempelkan keningnya ke kening sang putra yang tingginya sudah sama dengan ibunya.


"Papa lebih tampan kok," sahut Darren mengalah.


"Ouh ... kau manis sekali," ujar Haidar mencubit gemas pipi sang putra hingga remaja itu merengek manja.


"Heis ... sudah-sudah bercandanya. Ayo sekarang sarapan!" ajak Terra menyudahi kelakuan suaminya yang menggoda sang putra.


"Dasar manja!" sindir Haidar pada Darren.


"Mas!" tegur Terra.


Pria itu langsung mengerucutkan bibirnya. Darren terkikik geli. Ia berjalan mendongak melewati ayahnya. Haidar yang gemas akan tingkah putranya, akhirnya menggelitiki remaja itu hingga tergelak dan meminta ampun.


"Ampun, Pa!"


"Bagus. Aku yang masih ketua di sini. Mengerti!" tandas Haidar menyudahi gelitikannya.


"Iya Papa," sahut Darren mengerti.


"Wah Tata Dallen danten setali!" puji Nai ketika melihat kakaknya keluar.


"Makasih, Dik," ujar Darren mencium kening Nai.


"Papa nggak ganteng gitu?" tanya Haidar pura-pura sedih.


Terra memutar mata malas. Namun sejurus kemudian ia terbelalak mendengar jawaban salah satu putranya.


"Talo Papa, danten setali, talo eundat danten Mama pidat mawu sama Papa," jawab Sean santai.


Budiman yang tengah meminum air tersedak. Haidar berdecih melihat pria pengawal istrinya itu.


"Dasar CEO kere," sindiran Haidar dianggap angin lalu oleh Budiman, dari dulu.


Kini semuanya sarapan dengan tenang. Rion sudah sehat, obatnya juga sudah habis. Ia akan sekolah hari ini setelah ijin tiga hari karena sakit.


Setelah saling berpamitan dan berangkat menuju tempat masing-masing. Terra kembali masuk dan memeriksa bayinya.


Budiman yang mengantar tuan muda sekaligus adik iparnya, Darren. Remaja itu sudah menunjukan aura luar biasa dengan jas formal yang ia kenakan. Di sebuah ruangan tampak sibuk Rommy dan Iskandar menyiapkan segalanya. Bahkan Gabe juga sibuk berulang-ulang membaca semua laporan yang akan diberikan pada next CEO. Walau masih tiga atau empat tahun lagi. Tapi, mereka harus menyiapkan putra pertama dari mendiang Ben Hugrid Dougher Young itu menjadi CEO sebenarnya.


Banyak wartawan menunggu di luar gedung perusahaan Hudoyo Group. Perusahaan besar kedua setelah perusahaan PT Pratama, milik Bram Hovert Pratama.


Para kalangan bisnis meragukan kemampuan pria berusia empat belas tahun itu. Semua memandang pesimis, bahkan harga saham sedikit turun karena berita tersebut.


Para pengawal sudah mengamankan tempat. Budiman juga sudah menginterupsi jalan aman terkendali. Dua pria dengan balutan khas pengawal pribadi, turun dari mobil.


Budiman membuka pintu, Darren turun dengan gagahnya. Banyak decak kagum para wartawan. Bahkan desis histeris kaum hawa melihat ketampanan Darren.


Semua karyawan yang berjejer membungkuk hormat, begitu juga Gabe, Rommy, Iskandar dan Aden juga Jhenna dan Alya.


Lagi-lagi sekretaris Rommy kembali berganti setelah yang kemarin selalu ingin tahu apa yang atasannya lakukan. Terra sampai menyerah. Alya adalah sekretaris terakhir, jika masih berkelakuan sama. Maka tak ada lagi sekretaris. Iskandar akan menggantikannya.


Semua mata memandang takjub sosok yang begitu kuat aura kepemipinannya. Darren memang disiapkan Terra seperti itu. Walau pada akhirnya, keputusan ada di tangan remaja ini.


Jhenna berkali-kali berdecak kagum akan ketampanan Darren, hal itu membuat suaminya cemburu.


"Ayolah, sayang. Kau tetap Ayah Deasara yang kucintai," rayu Jhenna ketika Aden cemberut melihatnya.


Aden sadar mestinya ia tak boleh cemburu. Pria itu memang sangat mencintai istrinya, makanya, ia tak menyuruh sang istri untuk berhenti bekerja. Bahkan, mereka selalu membawa putri mereka ke kantor.


Ruang rapat telah siap. Semua mata memandang satu fokus yang duduk di kursi kebesaran. Gabe masih duduk di sana sedang Darren tengah membaca berkas yang ada di tangannya. Beberapa kali ia bertanya pada pria yang harusnya ia panggil kakak itu.


Rapat di mulai. Alya mengurai beberapa laporan terlebih pada harga saham yang turun nol koma satu-satu persen akibat pemberitaan media. Ketidak percayaan publik terhadap kinerja Darren akan dilihat satu bulan ke depan.


Semua sepak terjang remaja itu akan menjadi sorotan para pebisnis. Semua lawan mengeluarkan senjata mereka untuk menyerang ketidak stabilan emosi pria yang baru berusia empat belas tahun ini.


"Harga saham memang turun, tetapi lihat dengan grafik pendapatan, tidak bergerak malah naik secara berkala walau dengan indeks relatif sangat kecil," jelas Darren ketika ia memperlihatkan gerakan grafik perkembangan pendapatan perusahaan.


"Mungkin publik masih shock dengan usia saya yang masih labil ini," selorohnya.


"Tapi, saya jaminkan hidup saya untuk memajukan perusahaan ini!" tekannya meyakinkan.


Para pemegang saham merasa puas dengan penjelasan Darren. Memang pria remaja itu belum membuktikan apa pun. Tetapi, menurut desas-desus yang mereka dengar. Penciptaan BraveSmart dan kelancaran Flying internet juga berkat kegeniusan Darren.


"Kenapa tidak dialihkan saja fungsinya. Bukankan lahan itu sudah tidak produktif?" tanya Darren ketika salah satu divisi pengolahan sumber daya alam mengatakan adanya lahan sudah tak menghasilkan lagi.


"Saya juga tidak yakin, jika sumber itu benar-benar habis. Kalian mengeruknya seperti apa?" tanya Darren mulai berani.


"Kenapa tidak ada regenerasi sumber daya alamnya? Kenapa kita terus mengeruk tapi tidak berusaha mengembalikan kestabilan ekosistem yang ada hingga sumber itu terus ada?" cecar Darren serius.


"Kak Rom, coba periksa lahan di kota J. Periksa semuanya jangan ada yang terlewat!' titah Darren yang membuat kepala divisi pengembangan sumber daya alam menelan saliva kasar.


"Baik, Tuan muda!" sahut Rommy tegas.


"Saya, mau besok semua divisi melaporkan kinerja mereka selama tiga minggu terakhir!" Lanjutnya memberi titah.


Gabe sudah meminta laporan kinerja mereka dua hari lalu. Tetapi, ia juga lupa meluangkan waktu rapat karena ada sedikit kendala di beberapa proyek.


"Sepertinya, saya harus mempraktekkan tangan besi Ibu saya!" ancam Darren kemudian.


"Tenang saja, saya sudah mengusut semuanya, Dar!" sahut Gabe dengan tatapan menyeringai.


Darren mengangguk, ia juga sudah gatal membabat habis semua yang bermasalah. Apa lagi tercium aroma-aroma pengkhianatan. Gabe sudah berulang kali mengingatkan semua divisinya bahkan ia tak segan melakukan cara yang Terra lakukan.


Namun, jiwa-jiwa tamak enggan pergi. Masih ada satu-dua yang ingin bermain curang. Kali, ini tidak akan ada ampun lagi.


"Kita habisi mereka!" tekan Gabe pada Darren yang tadinya berwajah imut berubah menjadi sosok menyeramkan.


"Tuan, ada penyusup mencoba membongkar portal perusahaan!" tiba-tiba Gunawan muncul dengan wajah panik.


Darren pun langsung menuju ruangan kesukaan ibunya itu. Ia akan memperlihatkan cara dia menghabisi para hacker gadungan yang tak juga jera.


"Kita pesta otak?" tanya Gabe melihat layar komputer.


Darren menggeleng. Dengan cepat ia mengetik Lalu tiba-tiba, terdengar bunyi "Blub". Ada satu teriakan kekesalan muncul dalam ruangan. Semua menoleh. Betapa geram Gunawan melihat pria yang baru saja direkomendasikan salah satu rekannya sesama IT.


"Oh, rupanya kau pengkhianatnya!" tekan. Gabe geram.


Gunawan langsung menyeret pria itu yang sudah pucat. Ketika hendak dihajar olehnya, Darren langsung menghentikannya.


"Kak Budi!" panggilnya.


Budiman yang memang selalu berada di sisi remaja itu memang sudah gatal tangannya untuk menghajar pria pengkhianat itu.


"Bawa ke markas. Korek semuanya tanpa ada yang tertinggal!" titah Darren dengan sorot mata membunuh.


Pria itu menelan saliva kasar. Habis sudah semuanya.


"Selanjutnya. Terserah Kakak!" lanjutnya sambil menyeringai seram.


"Siap Tuan Muda!" sahut Budiman langsung menyeret pria itu dibantu oleh Gio.


"Periksa semua data. Kembalikan jika ada yang hilang dan musnahkan jika ada yang rusak!" titah Darren.


Semua sigap mengerjakan apa yang diperintahkan. Gunawan tercengang melihat betapa ketajaman Darren sangat pas dengan Terra dan Gabe. Kekejaman ketiganya juga sama.


"Aku yakin, akan banyak orang yang makin membenci kekuatan keluarga Dougher Young," gumamnya memuji sekaligus ngeri.


bersambung.


oh ... pasti ... masih banyak lagi musuh2.


bermunculan.


next?