
Gisel dan Terra yang sedang mengamati para pekerja, berjalan bergandengan. Kedatangan wanita cantik yang tidak mereka kenali tentu menjadi pemandangan indah bagi para pekerja pria.
"Hai cewe!" goda salah satu karyawan pria.
"Hai cowo,'" sahut Gisel yang memang jauh lebih usil dari Terra yang kalem.
"Wih ... bidadari dari mana nih nyasar di sini!" celetuk salah satu karyawan.
Memang Virgou lebih banyak memperkerjakan pria di banding wanita. Divisi pengembangan dan produksivitas merupakan dunia kerja para kaum adam. Jadi, tak aneh jika semua di ruangan ini yang bekerja adalah mayoritas laki-laki. Makanya kehadiran mereka berdua bagai oase di padang pasir.
"Kita ke ruang IT kak Vir, yuk," ajak Terra kemudian.
Gisel mengangguk, mereka pun ke luar divis tersebut yang disahuti dengan decakan kecewa para pria yang memang membutuhkan pemandangan indah.
"Yaah ... kok pergi sih Neng ... di sini aja dong!'
Terra dan Gisel tak menggubris karena jika semakin lama, mereka pasti akan digoda lebih berani oleh para pria di sana.
Kedua wanita itu pun bertanya pada salah seorang karyawati yang memandang mereka dengan pandangan menyelidik.
"Maaf, mau apa ya Nona-nona mencari ruang IT?" tanyanya.
"Ah, kami adalah adik dari Tuan Virgou Dougher Young," jelas Gisel langsung.
Wanita itu masih memindai kedua wanita yang mengaku sebagai adik atasannya. Memang wajah bule keduanya nyaris mirip dengan tuannya. Namun, sebagai karyawati yang menjunjung tinggi kerahasiaan seluk beluk kantornya tentu tak begitu mudah mengatakan hal tersebut terlebih ruang IT yang menjadi divisi paling penting di perusahaan ini.
Terra sangat tahu hal itu. Tiba-tiba terbesit di pikiran untuk bernegosiasi.
"Kasih tau aja, Mba. Nggak ada salahnya kok," lalu ia mengambil sesuatu dari dompetnya.
Dua lembar uang seratus dolar. Karyawati itu menelan saliva kasar. Mengingat ayahnya di rumah butuh pengobatan segera. Gajinya tidak cukup untuk memberikan pengobatan pada ayahnya, sedang ia baru saja menjalani status single mothernya beberapa bulan ini.
"Ini buat, Mba," ujar Terra menyelipkan uang itu di tangan sang karyawati.
Satu titik bening jatuh dari sudut mata wanita itu. Pikirannya masih kacau dengan statusnya yang janda. Belum lagi ia harus membayar hutang peninggalan suami yang mengatas namanya. Terra melihat kesedihan itu begitu juga Gisel.
"Nona," panggilnya dengan suara berat.
"Uang itu memang bisa menyelamatkan saya, dari sebagian masalah saya di dunia ...," putusnya.
"Lalu apa masalahnya. Kan, ini bisa menolongmu," Terra masih menguji loyalitas karyawati tersebut.
"Memang, lalu bagaimana saya menghindari masalah saya nanti di akhirat ketika saya menerima pemberian ini?" tanyanya ulang pada Terra.
Wanita itu tak mengenali dua wanita yang ada di depannya. Ia masih bersikukuh loyal pada perusahaan yang memberinya pekerjaan. Terra dan Gisel tersenyum. Menatap kartu akses kerja wanita itu.
"Ah, kamu bagian administrasi ternyata," sahut Gisel kini.
"Apa kamu bisa menjadi sekretaris?" tanya Gisel lagi.
"Tidak, Nona. Saya lulusan administrasi," jawabnya.
"Sudah ini, terima saja. Anggap saja ini rejekimu. Kami tak jadi menanyakan ruang IT," ujar Terra lalu menggenggamkan uang tadi di tangan karyawati tersebut.
"Nona?"
"Terima saja, Ira!" sebuah suara berat memberi perintah.
Virgou mengenali siapapun pekerjanya. Terlebih yang sering berurusan dengannya. Pegawai administrasi tentu sering berhubungan dengan atasan. Seorang staf administrasi memiliki peranan yang penting dalam sebuah perusahaan. Staf admin dipahami sebagai sebuah profesi yang bertugas mengorganisir dan memastikan kegiatan yang sifatnya administratif atau ketatausahaan perusahaan berjalan dengan baik dan lancar.
Tentu saja Virgou pasti mengenalinya dengan baik, karena semua urusan penting kantor Ira adalah salah satu karyawan yang bertanggung jawab.
"Tuan ...," panggil Ira sambil menunduk hormat.
Mengambil dompet. Ia sedikit terbelalak ketika melihat isinya hanya tinggal dua puluh ribu rupiah saja. Melihat isi dompet kakaknya membuat Dav berdecih. Ia pun yang mengeluarkan dompet dan memberi wanita itu dua ratus dolar lagi.
Ria terharu. Tak menyangka sikap loyalnya pada perusahaan, mendapatkan rejeki yang begitu melimpah. Keempat bersaudara sepupu itu meninggalkan Ira bersama biang mereka, Bart. Virgou pun mengajak Terra dan Gisel, juga Dav dan Bart ke divisi IT.
Sampai di ruang itu, tampak keriuhan terjadi. Sebuah akun mencurigakan menggangu sistem paling luar data. Walau, dalam sepersekian detik akun itu hangus. Semuanya, sampai sibuk mengamankan data yang ada.
"Ternyata begini toh cara kerjanya," celetuk Terra.
Virgou sedikit mengernyit. Perasaan tidak ada yang salah dengan pekerjaan para karyawan IT nya.
"Kakak lupa,.jika data ada yang rusak harus dimusnahkan bukan diperbaiki," jelas Terra mengingatkan.
Virgou langsung tercerahkan. Ia ternyata salah mengambil sikap. Bertujuan agar tidak bekerja dua kali. Ia menyuruh para IT memperbaiki data yang rusak. Terra duduk di kursi utama panel. Menatap pergerakan data.
"Jauhkan tangan kalian dari layar keyboard!' titah Terra.
Semua menatap Virgou.
"Lakukan apa yang diperintahkan adikku!" titahnya tegas..
Semua menjauhkan tangan mereka. Dalam hitungan jari, terdengar bunyi "Blar". Para karyawan terkejut mendengar suara itu. Mereka mencari dari mana suara itu berasal.
Satu unit kecil database paling bawah mengeluarkan asap. Para IT langsung tahu apa yang mereka kerjakan.
"Putus semua sistem pada data yang rusak. Hancurkan dan ganti dengan yang baru!' titah Terra.
"Jangan khawatir. Data itu memang sudah kadaluarsa, jadi tak berimbas dengan data yang lain!" sahutnya menenangkan Virgou.
Pria itu mempercayai perkataan adik sepupunya itu. Gisel, makin bangga memiliki Kakak yang begitu Genius. Bahkan, ia sampai menahan napas melihat pergerakan tangan Terra. Dav hanya mencibir.
"Pamer!"
"Iri ... bilang, Boss!' sahut Terra tak kalah sengit.
"Hei ... ayo pulang. Aku sudah lapar," ajak Bart.
Virgou mengangguk. Ia akan pulang makan siang bersama keluarganya, lalu akan kembali lagi. Karena sore hari akan ada rapat dengan para divisi lapangan.
Sepeninggalan mereka para karyawan IT sibuk kembali. Beberapa ada yang mulai berbisik-bisik, bertanya siapa wanita yang duduk di kursi utama panel.
"Kalau nggak salah, itu tadi bukannya Terra Arimbi Hugrid Dougher Young?'" tanya salah satu karyawan menyadari.
"Iya, dia adalah penggagas Flying internet yang terkenal itu kan?"
Dua karyawan lainnya mengangguk. Mereka baru menyadari setelah mengingat beberapa tabloid memajang wajah Terra sebagai pengusaha tergenius versi majalah bisnis.
"Ternyata keluarga Dougher Young begitu terkenal. Bukankah, yang satunya tadi adalah Gisella Elizabeth Dougher Young dan yang pria adalah David Leonidas Dougher Young?''
"Aku dengar David adalah seorang tentara berpangkat Mayor!'
"Suami Gisel adalah seorang CEO yang disembunyikan identitasnya. Menurut kabar, jika suaminya itu bekerja sebagai ketua pengawal pribadi!"
Semua berdecak penuh kekaguman dengan keluarga Dougher Young. Itu baru sebagian yang mereka ketahui. Belum yang lain, seperti Frans, Leon dan Gabe yang kini makin meroket namannya di belantika para pebisnis Eropa.
bersambung.
Dougher Young gitu loh!
next?