TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
DITYA DAN RADIT 2



Aini membawa dua kemenakannya. Sebelum itu, dia membeli kursi di depan untuk Radit dan di belakang untuk Ditya. Kursi khusus itu diikat kencang Ditya didudukan di sana dan dipasang sabuk pengaman.


"Nanti, pegangan Mba, ya," Ditya mengangguk.


Setelah menaikan Radit di depan. Aini mengikat bocah itu dengan selendang, agar jika anak laki-laki tertidur ketika di jalan tidak terjatuh.


Tak lupa Aini juga memasang helm keduanya. Setelah itu barulah ia menyusuri jalan. Hari ini ia membawa kedua adiknya untuk dirawat di rumah sakit, akibat gizi buruk yang mereka derita.


Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai halaman rumah sakit yang besar itu. Aini menurunkan dua adiknya, melepas helm dan meletakkan di stang motornya. Baru lah ia menggandeng keduanya masuk ke dalam.


"Pagi, Sus. Profesor Rini sudah datang belum ya?" tanya Aini.


"Oh, sepertinya beliau sudah datang, kenapa?" tanya suster itu kepo.


"Mau meriksa dua adikku dari kampung, nih. Sepertinya mereka gizi buruk," jawab Aini sambil menatap dua anak kecil di kedua sisinya.


"Yakin nggak nunggu Dokter Ridho aja?" tanya suster itu.


"Prof Rini itu agak-agak ...," bisiknya melanjutkan tapi memotong kalimat akhirnya.


Aini sangat paham. Banyak rumor beredar tentang para dokter di mata para perawat terlebih yang menjadi asisten dokter tersebut. Walau tidak semua, tapi ada beberapa dokter senior yang sombong dan terkesan dingin jika memeriksa pasien, termasuk profesor Rini. Makanya, pasien dari wanita itu sedikit, karena banyak pasien tak mau berurusan dengannya.


"Masa sih, Sus?" tanya Aini tak percaya.


"Ya, saya sih ngasih tau aja. Dari pada entar adik-adiknya nangis karena dokternya jutek," sahut suster itu lalu meninggalkan Aini yang mulai ragu.


Akhirnya, tak mau mengambil resiko, gadis itu menunggu dokter Ridho. Dua adiknya dimintanya untuk duduk manis di sofa ruangan prakteknya.


Ditya dan Radit bermain, tepuk-tepukan. Mereka bernyanyi dengan gembira. Aini senang melihat keceriaan dua adiknya. Suster yang menjadi asistennya datang, cukup terkejut dengan keberadaan dua anak laki-laki di ruang praktek dokternya.


"Itu dua adik saya dari kampung, Sus," ujarnya memperkenalkan Ditya dan Radit.


Kedua anak itu pun mencium punggung tangan suster bernama Tata itu. Lalu, keduanya kembali duduk, tapi kali ini, Radit merebahkan diri dipangkuan kakaknya. Dengan penuh kasih sayang Ditya mengelus kepala adiknya dan mulai bershalawat. Aini dan Tata begitu terharu mendengarnya. Ruang praktek Aini mendadak ramai. Gadis itu cukup sibuk hingga terlewat makan siang dan terlupa jika ia membawa dua adiknya.


"Kak ... Adit lapel," cicit Radit pada kakaknya.


Ditya yang melihat betapa sibuk kakak perempuannya itu, pun menenangkan adiknya.


"Tahan ya, Dik. Kita kan biasa tidak makan. Mba masih sibuk. Jangan ganggu ya," Radit mengangguk, ia menurut.


Akhirnya mereka pun tertidur dalam keadaan kembali lapar. Waktu sudah menunjukan pukul 13.24. Aini baru merasakan lapar di perutnya.


"Astaghfirullah!' sahutnya beristighfar hingga Tata juga latah beristighfar juga.


"Kenapa Dok?"


"Dua adik saya!" jawabnya.


Aini melihat dua adiknya tertidur sambil bersandar satu dengan lainnya. Aini menangis, ia begitu menyalahkan dirinya.


"Kakak macam apa aku ini, membiarkan adikku kelaparan?" cicitnya parau.


"Saya, juga lupa jika Dokter bawa adik ke sini," sesalnya.


Aini mendekat dan mencium dua adiknya.


"Dik, bangun. Kita makan yuk," ajaknya.


Radit membuka matanya terlebih dahulu baru kemudian Ditya. Keduanya tersenyum melihat kakak mereka sudah selesai bekerja.


"Mba sudah selesai?" tanya Ditya.


Aini mengangguk, ia begitu terharu melihat betapa dua adiknya itu sangat pengertian dengan tidak mengganggu pekerjaannya.


Aini dan Tata menggandeng dua anak itu pergi ke kantin. Lidya dan Putri keluar ruang prakteknya, mereka ingin makan di kantin.


"Selamat siang, Dok!" sapanya ramah.


"Selamat siang juga," sahut Aini tersenyum.


Aini pun memperkenalkan dua adiknya pada Lidya dan Putri. Tampak kesedihan di mata kedua anak itu ketika Lidya menatapnya.


Sebagai seorang psikiater anak, ia tentu sangat tahu apa yang hendak diungkapkan oleh netra jernih Ditya.


"Kami mau makan di kantin, Dok," ujar Aini.


"Ayo, kita sama-sama," sahut Lidya.


Mereka pun berjalan bersama menuju kantin. Di sana Aini bertemu dengan semua petugas medis dengan berbagai keahlian termasuk profesor Rini. Beliau adalah seorang profesor ahli gizi dan anak.


Rini yang melihat Aini mendudukkan dua adiknya, langsung mendatangi.


"Dokter Aini. Dua anak ini tengah gizi buruk, kenapa kau tidak membawanya ke ruang perawatan langsung!' tegurnya keras.


Aini dan semuanya kaget. Memang Rini terkenal dengan ketegasannya, ia akan menegur siapapun yang abai dengan kesehatan. Aini hanya diam menunduk. Ia memang akan membawa dua adiknya ke dokter Ridho setelah makan siang.


"Saya, memang akan membawanya ke dokter Ridho, Prof," jelasnya dengan suara pelan.


Lidya juga sangat segan dengan Profesor senior satu ini. Rini sangat tidak menyukai kelalaian Aini.


"Ada saya, di sini pagi-pagi sekali, kenapa anda tidak membawa kedua adik anda?" tanyanya dengan suara lantang.


"Oh, kau termakan dengan rumor profesor dingin dan kejam ya?" tanya Rini menyindir dan melirik semua perawat yang ada di sana.


"Ada apa ini Prof?" tanya Profesor dokter Hamdan, kepala rumah sakit.


"Ini Prof, dokter kita abai dengan kesehatan adiknya sendiri. Sudah tau terkena gizi buruk. Bukannya langsung diberi penangan malah dibawa makan, sudah itu ...."


Rini menghentikan ucapannya ia melihat menu yang dipilihkan Aini untuk dua adiknya. Melihat lauk lengkap dengan sayur dan susu. Ia pun mengangguk puas.


"Bagus, ternyata ilmumu cukup berguna juga!" sindirnya lagi.


Aini menunduk Hamdan hanya menggeleng. Ketegasan Rini memang di salah artikan oleh semua pekerja medis terutama para pasien.


"Prof, lain kali, menegurnya jangan terlalu keras. Kasihan kan," tegurnya, "dua anak kecil jadi ketakutan."


Rini pun menghela napas panjang. Itulah yang menjadi masalahnya sekarang. Ia akan marah pada orang tua yang hobi sekali membawa anak mereka ke dokter hanya perkara demam biasa.


"Sehabis mereka makan, bawa ke ruangan saya!" titah Rini kemudian.


"Siap Prof!" sahut Aini.


Rini kembali memesan makanan, semua perawat dan beberapa keluarga pasien yang ada di sana pun kembali melanjutkan kegiatan mereka.


Sedang, Hamdan menepuk bahu Aini untuk banyak menyetok sabar dan mengelus kepala dua anak yang kini lahap memakan makanannya.


Lidya, Putri, Tata dan Aini sendiri juga ikut makan. Usai makan, barulah mereka mengantar dua adik itu ke ruang di mana Profesor Rini bekerja.


Ketika sampai, Rini langsung memeriksa keduanya. Mulutnya tak berhenti memarahi Aini yang baru saja mengasuh kedua adiknya itu.


"Apa kerjamu sebagai kakak?" sindirnya.


"Benci dengan ayah ibunya, tapi abai dengan dua anaknya? Mereka juga bersalah padamu?" tekan Rini lagi.


Aini pun mengakui itu. Ia memang tak peduli dengan paman dan bibinya yang kini tak tahu keadaannya di mana.


bersambung.


next?