
Tinggal dua hari lagi Saf akan kembali bekerja. Ia sudah bosan terus menerus di rumah sewanya. Gadis bongsor itu menaiki mobil untuk berjalan-jalan. Ia menuju sebuah mal terbesar di kota itu. Ada beberapa orang berpakaian kantor membagi-bagikan brosur.
"Silahkan, Bu ikutin eventnya!' tawar wanita itu.
Saf mengambil flyer, ia mengernyit ketika membaca tema di kertas itu. "Mencari otak!". Tim IT membutuhkan anda. Tertarik? Saf membaca tanggal dan jam lalu tempat terselenggaranya event tersebut.
"Hudoyo cyber tech, jalan xxx tanggal 2 Februari pukul 09.00 hingga selesai."
"Menarik, sudah lama juga nih otak nggak diasah," gumamnya lirih.
"Eh, tanggal dua kan sekarang ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Gadis itu pun bergegas meninggalkan mal dan menuju gedung, tempat di mana even berlangsung.
Sedang di tempat lain. Aini memandangi dirinya di cermin. Hari ini ia libur, tapi ia berjaga malam.
"Ada apa denganku? Kenapa diriku seperti begitu sakit melihat betapa acuhnya Mas Gio padaku?" tanyanya bermonolog.
"Sejak aku dilamar oleh Pak Darren. Pria itu tak sekali pun meneleponku. Hanya Daddy yang datang meminta berkasku, itu pun Pak Darren tak mengabariku sama sekali," ujar Aini dengan mata berkaca-kaca.
Ditya dan Radit sedang belajar di TPA setempat. Jadi, gadis itu sendiri di rumah. Ia menatap layar ponselnya. Tak ada lagi debaran rindu seperti ia sebelum dilamar.
Ia mencari sebuah nama, calon suami. Menekan nomor itu. Ada sambungan lalu mati karena tak diangkat. Aini mencoba lagi, hingga yang ketiga kalinya ponsel itu tak bisa dihubungi.
"Mungkin baterainya habis," ujarnya tak mau berburuk sangka.
"Kenapa, aku tak begitu antusias menghadapi pernikahanku yang terbilang hitungan minggu?"
Aini menekan dadanya. Tak ada rasa debaran yang sama. Wajah Darren pun ia sudah lupa. Ia mencoba mencari di galerinya. Ternyata tak ada satu pun foto calon suaminya itu.
"Perasaan, aku foto berempat deh kemarin pas Baby Ion ulang tahun?' ujarnya mengingat.
Ia mencoba mengingat wajah pria yang meminangnya. Entah kenapa justru wajah Gio lah yang muncul. Jantungnya pun berdegup kencang ketika wajah tampan itu melintas.
"Ya Allah, ada apa ini?" tanyanya dalam hati.
Sedang di sebuah ruangan. Darren tengah melihat berbagai kandidat yang tengah bertarung. Pria itu kehabisan sumber daya manusia kreatif. Makanya dia menyelenggarakan event besar untuk menyaring para pegiat komputerisasi, programing dan IT. Pria itu sama sekali abai dengan panggilan teleponnya. Ketika sadar, ponselnya tidak aktif lagi. Ia pun tak berusaha mencari tahu siapa yang meneleponnya.
"Ah, paling Mama mau nanya perkembangan event," ujarnya menerka.
"Om Rommy, bagaimana. Apa ada kandidat baru?" tanyanya.
"Belum Tuan. Semua masih standar belum menembus tiga bintang dan level lima," jawab Rommy.
Aden menatap layar besarnya. Gunawan yang sudah memasuki usia pensiun sudah mulai uring-uringan. Dari seribu peserta yang datang. Hanya dua orang yang masuk kriteria, tetapi keduanya gagal ketika menaiki level selanjutnya.
"Apakah otak mereka diisi konten cabul semua?" tanyanya gusar.
Darren terkekeh mendengarnya. Hingga tiba-tiba Terra datang.
"Mama!" panggil Darren.
"Nona!" panggil Rommy dan Aden juga Jenna.
"Terra," panggil Gunawan.
Wanita itu tersenyum. Ia datang bersama empat anak kembarnya. Nai, Sean, Al dan Daud. Sedang dua bayi yang baru dua bulan lalu lahir itu ada di rumah, bersama Ani.
"Baby Ayi dan Baby Aya sama siapa, Ma?" tanya Darren langsung menggayut manja.
"Sama Bik Ani. Mama sudah stok banyak susu," jawaban Terra menenangkan Darren.
"Ma, Nai boleh ikutan nggak?" tanya gadis berusia empat belas tahun itu.
"Tentu Baby," jawab Terra lembut.
Sean, Al dan Daud mengikuti saudara kembar perempuan mereka. Ternyata mereka cukup penasaran dengan even ini. Tak lama Kean, Cal, Satrio pun datang bersama.
"Mama!" panggil mereka.
"Baby!"
Ketiganya mencium punggung tangan Terra.
"Mana Baby Arimbi?" tanya wanita itu.
"Arimbi ikut Bunda ke panti, katanya ada penambahan penghuni baru," jawab Satrio.
"Kalian mau ikutan even?' tawar Darren.
Ketiganya mengangguk antusias. mereka pun berbaur dengan yang lainnya. Tak lama Rion datang bersama Haidar. Rion juga mau ikut serta.
"Nona, Tuan Rion menembus level sembilan hanya dalam hitungan menit!" seru Aden.
Gunawan berdecak. Ia tak mungkin merekrut anak dari atasannya sendiri.
"Yang lain hanya menembus level delapan!" sahut Aden kembali.
Terra dan Haidar begitu bangga mendengarnya. Cal, Kean, Nai, Sean, Al, Daud dan Satrio kecewa dengan hasil mereka.
"Hei ... kalian hebat kok, hanya kalian loh yang tembus hingga level delapan," ujar Terra bangga.
Kean dan lainnya kini memeluk Terra manja. Hingga.
"Siapa kak?"
"Aku RedRose menyerobot level longkap langsung naik level tujuh!" pekik Aden kegirangan.
"Dia bisa melakukan itu?" tanya Terra tak percaya.
Terra mengambil alih layar. Wanita itu menatap pergerakan akun yang diduga mampu menerobos masuk tanpa mengikuti level awal. Kini, baik Haidar, Rommy, Aden dan Budiman kembali teringat di suatu masa ketika Terra melakukan pesta otak.
Wanita itu adu kecepatan dengan lawan di seberang sana. Tak ada yang mau mengalah.
"Kak Gun, hentikan semua pertandingan. Tinggalkan pertarungan layar kosong delapan satu kosong saja!" titahnya.
Gunawan melakukan apa yang diperintah Terra. Mengosongkan semua unit dan hanya meninggalkan Terra dan lawannya.
Wajah Terra yang berubah serius menjadi tanda jika pertarungan ini berlangsung dahsyat. Wanita itu mengambil langkah berani, menyodorkan umpan yang tak main-main untuk mematikan lawannya. Sayang, umpan itu tak disentuh sama sekali.
"Wah, menarik!' ujarnya tersenyum senang.
Darren begitu geram. Masalahnya, ia baru saja memperbarui sistem pertandingan game yang dibuat oleh ibunya beberapa belas tahun lalu. Tingkatannya kini sesuai pasar dan sulit. Makanya ia heran, ada satu akun mampu menerobos masuk tanpa mengikuti level awal.
"Apa dia segenius itu?" gumamnya bertanya.
Terra terus mengetik dan mengetik. Terdengar bunyi blam setiap ketikannya. Panelnya mulai berasap begitu juga panel lawan. Satu-satunya cara memenangkan pertandingan ini adalah kesabaran.
Terra yang malang melintang di dunia cyber tentu bukan hal sulit untuk menahan semuanya. Ia terus memberi perlawanan, memberi virus-virus andalan. Akun RedRose sempat mengecoh dengan menghanguskan akunnya. Tetapi, bukan Terra namanya jika tak melihat itu adalah trik.
Darren yang berdiri mengamati, kini langsung tau bagaimana mengalahkan lawannya.
"Ma, biar Darren yang ambil alih!'
Terra langsung berdiri dan dengan cepat jari pria itu mengetik. Rion bertepuk tangan dengan semangat. Begitu juga ketujuh lainnya.
"Ayo Kak. Sikat aja dia!" teriak Rion.
Mendengar kata sikat. Darren timbul ide genius. Menciptakan virus saat itu juga dengan bentuk sikat.
Akun lawan terdesak. Hingga tiba-tiba.
Blam! bunyi ledakan kecil terakhir. Darren nyaris tertawa. Hanya gara-gara salah ketik. Aku. RedRose mengibarkan bendera putih.
"Eeeh ... kenapa gue pencet itu!' pekik lawan.
Semua menoleh pada panel yang ada di depan mereka. Suara perempuan.
"Cewek?" tanya Rion dan Darren bersamaan.
Saf meraung kesal setengah mati. Gara-gara jari kelingkingnya yang tak bisa diajak kompromi. Ia salah pencet.
"Iih ... bodoh ... bodoh!' umpatnya kesal.
Terra mendatangi panel itu. Wanita itu mendapati sosok gadis yang sangat cantik, iris mata abu-abu yang mampu menghipnotis semua orang kini memandang kecewa pada jarinya yang keserimpet.
"Jangan salahkan jarimu, Nak," sahut Terra membuyarkan lamunan gadis itu.
Safitri menoleh langsung berdiri. Terra harus mendangak untuk melihat wajah cantik yang kini tertunduk malu. Gadis itu lebih tinggi darinya.
"Eh, mana semuanya?" tanyanya ketika ia menyadari tak ada orang lain yang ikut serta. Semua sudah pulang ketika layar mereka mati mendadak karena tak bisa menembus level awal sekali pun. Sedangkan pertandingan antara Saf melawan Terra dan Darren berlangsung selama dua jam.
"Maukah anda bergabung dengan tim kami, Nak?" ajak Terra langsung.
Safitri tersenyum. Gadis itu menggeleng tanda menolak. Haidar yang mendatangi keduanya merasa heran.
"Loh, kenapa. Kami akan menggaji anda di atas standar pemerintah loh," sahut pria itu menimpali.
"Maaf, bukan menolak rejeki. Tapi, pendidikan saya bertolak belakang," jawab Safitri takut-takut.
"Soal pendidikan itu tak masalah," timpal Darren yang juga datang menghampiri.
Safitri menatap Darren. Pria itu tiba-tiba berhenti sejenak. Netra coklat terang miliknya langsung terhipnotis pada manik abu-abu milik sang gadis.
Terra dan Haidar langsung tahu, apa yang terjadi. Wanita itu hendak memperingati putranya. Tetapi, Haidar menahannya. Ada sedikit protes dari bibir Terra.
"Maaf, Tuan. Pendidikan saya berbasis kebidanan. Tentu saya tidak bisa mengambil pekerjaan ini," sahut Safitri. Semua terkejut mendengar jawaban gadis itu.
Safitri melihat jam yang ada di pergelangan tangan kanannya. Ia menepuk dahi dan mengelus perutnya yang tiba-tiba lapar.
"Maaf, saya permisi dulu. Mari," pamitnya.
Gadis itu setengah berlari meninggalkan gedung bertingkat itu. Haidar melihat bagaimana putranya sampai memutar kepalanya sedemikian rupa untuk melihat semua tingkah gadis yang pergi setelah menolak tawaran mereka.
bersambung.
wah ... wah ...
Hai Readers ... othor cuma mau kasih tau ... jika perjalanan ta'aruf antara Darren dan Aini sebagian cerita diambil dari jalan hidup pribadi othor.
Kisah bagaimana ketika mendapat jawaban tetapi ternyata jawaban itu untuk mendekatkan dia pada jodoh sejatinya. Dan jodoh dia itu bukan othor.
Othor terluka tapi tak berdarah ...
next?