TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENCINTAIMU ADALAH KEBENARAN



Kanya terdiam setelah mendengar cerita suaminya. Di sana Karina menatap ibunya dengan pandangan kecewa. Sedang Zhain tengah menggendong Raka yang tiba-tiba mendatanginya ketika keluar dari kamar Darren ketika tadi di rumah adik ipar istrinya.


"Papa ... Raka mau punya kamar gambar Superman, Pa," rengeknya.


Zhain menangis mendengar putranya memanggilnya Papa. Sebegitu hebatnya kah pelukan Lidya hingga Raka mengingat dirinya sebagai papanya. Padahal beberapa jam lalu, anak laki-laki itu menyebut Herman sebagai ayah.


"Kok Papa, nangis. Ya, sudah Raka minta Ayah saja. Ayah ...," rengeknya pada Herman.


"Raka mau kamar gambar Superman," pintanya.


"Siap, Ayah buatkan kamar Raka ala Superman," ujar Herman sambil mengangkat tangannya ke pelipis bertanda hormat.


Raka bertepuk tangan sambil melompat kesenangan.


"Bener?" tanyanya tak percaya.


"Iya, nanti Ayah akan buat kamar Raka jadi banyak gambar Superman. Uangnya minta sama Papa mu. Karena Ayah nggak punya uang," ucap Herman pura-pura sedih.


"Iya nggak apa-apa. Kalau Ayah nggak punya uang, minta sama Papa, sama Papa Idal sama Kakek juga nggak apa-apa," ujar Raka dengan senang hati.


"Iya, nanti Ayah akan merampok mereka semua," ujar Herman tertawa.


"Hahahaha ... Raka kepala perampok!' sahut anak cerdas itu ikut tertawa.


Zhain menciumi wajah Raka. Kanya yang tadinya sinis terhadap pria yang seenaknya saja pergi meninggalkan putranya dulu, akhirnya menghela napas panjang.


"Maafin Mama, sayang. Mama lakukan ini karena Mama membenci pria itu," ucapnya lirih sambil mengusap pipi putrinya.


Zhain yang tidak peduli tanggapan nyaris mantan mertuanya itu, santai. Ia hanya sibuk memandangi wajah tampan putranya. Berkali-kali ia menciumi wajah yang sejak dulu sangat ia rindukan.


Baru tiga bulan kemarin, ketika ia mengetahui fakta jika keluarganya lah pembawa gen. Zhain menentang keras ayahnya.


Ia pun tak peduli ketika sang ayah dilarikan ke rumah sakit karena jantung. Ia sibuk mencari keberadaan Raka di setiap rumah sakit yang menyediakan therapy untuk anak penyandang Autism.


Hingga ia menerima kabar jika Raka hanya ditheraphy sebulan sekali. Ia pun berniat untuk membawa lari putranya. Zhain terus memandangi wajah yang tadi meminta untuk digendong olehnya.


Karina sedikit cemburu. Raka langsung lengket dengan ayah yang baru saja bersifat kasar padanya. Melihat bibir suaminya terus mengecup wajah putranya, selintas melayang dipikirannya rasa bibir itu.


"Apakah masih sama seperti dulu?' pikir Karina.


"Zhain!" panggil Kanya dengan wajah sedikit cemberut.


"Iya, M ... Nyonya," sahut Zhain sambil mendongakkan wajahnya..


"Cis ... sejak kapan aku majikanmu," sindir Kanya sinis.


"Maaf, Tante," ralat Zhain kikuk.


"Sejak kapan istriku menikah dengan Om mu!" sentak Bram tak suka.


Zhain makin gugup. Ia bingung memanggil wanita yang nyaris jadi mantan ibu mertuanya itu.


"Hais ... dia malah bengong," sungut Kanya kesal.


"Makanya kalau bertindak itu mikir dulu!" sindir Kanya lagi.


"Maaf, Ma. Zhain panik dan tidak tahu mesti apa," ujarnya lemah.


"Makanya ...."


"Ma ... kita juga salah!' tegur Bram memperingatkan.


"Ish ... Papa nggak asik ah!" protes Kanya kesal.


Karina tersenyum. Lalu menatap pria yang kini kembali memandangi wajah putra mereka. Ia sangat tahu kerinduan Zhain . Sebenarnya ia juga menyembunyikan kebenaran, jika Zhain selalu bertanya melalui pesan singkat dulu. Tapi, karena kekecewaan mendalam ia memblokir nomor Zhain dan mengganti nomor ponselnya.


"Papa!" rengek Raka merasa terganggu akan ciuman Zhain.


"Maaf sayang," kekeh Zhain lalu menimang Raka kembali.


Zhain ingin dirinya seperti Lidya. Yang memberikan kenyamanan bahkan mampu mengobati luka hatinya. Tadi, ia meminta gadis kecil yang cantik itu untuk memeluknya.


Zhain merasakan cinta kasih yang begitu besar dari sebuah pelukan Lidya. Ia bahkan nyaris pingsan di pelukan gadis kecil itu.


"Mas," panggil Karina lirih.


Zhain menatap wanita yang dulu sangat dicintainya. Jujur rasa cintanya masih sama sampai sekarang. Makanya ia tak berpaling hati. Padahal ayahnya berulang kali melakukan jebakan padanya.


"Kita pulang," ajak Karina.


Zhain mengangguk. Ia melihat Kanya, ibu mertuanya cemberut. Matanya berair. Ia sedikit tidak rela.


"Zhain akan menjaga keduanya dengan nyawa Zhain sekarang dan selamanya," janji Zhain pada wanita paru baya itu.


Kanya akhirnya memeluk Zhain dan memberikan kecupan di pipi. Seperti biasa dulu ia lakukan ketika masih bersama Karina. Bram juga mengacak rambut Zhain dan menepuk pundaknya. Sama seperti dulu.


"Raka pergi, Pa ... huuuu ... uuu!" tangis Kanya meledak.


"Raka mau berobat, Ma. Kita bisa menjenguknya nanti!" ujar Bram memutar matanya malas akan drama istrinya.


"Ah ... Papa mah gitu!" rengek Kanya kesal.


Bram tertawa melihat tingkah istrinya. Ia memeluk mesra sang istri. Teringat ia akan perjuangan mendapatkan hati wanita ini.


"Dari semua kesalahan yang aku perbuat. Ternyata mencintaimu adalah kebenaran. Jika tanpa kau di sisiku saat ini. Aku pasti sudah tak mampu berdiri di atas kakiku," ujar Bram berpuitis.


Kanya merona. Selalu begitu. Padahal ia sudah bersama pria ini tiga puluh lima tahun. Namun, setiap sang suami berlaku romantis, kedua pipinya langsung menyemburatkan rona merah.


"Jangan ngegombal sore-sore ah, Pa!" ucapnya sambil memalingkan wajahnya.


"Terima kasih sayang," ungkap Bram.


"Untuk?"


"Untuk memilihku dan terus bertahan di sisiku. Terima kasih telah mencintaiku," ucap Bram lagi mengeratkan pelukannya.


"Sayang," panggil Bram dengan suara serak.


"Bentar lagi Maghrib!" sahut Kanya mengingatkan.


Bram terkekeh. Ia mendaratkan ciuman pada bibir cerewet istrinya. Bibir yang tak lelah menasehatinya dan memberinya kepuasan, seperti sekarang.


"Hhmmpph!" Kanya mendorong keras tubuh sang suami. Karena ciuman itu berubah menjadi lum*tan yang kian lama kian menuntut.


"Maghrib!" pekik Kanya.


"Iya ... Iya, sayang," Bram melepas pelukannya.


Kanya langsung melesat meninggalkan suaminya. Takut kejadian terulang dan ia sendiri tak bisa lepas dari suaminya. Bram terkekeh melihat istrinya yang melarikan diri.


Sedang di rumah Terra. Nampak semuanya sedang asyik mengaji. Terra mengajarkan Lidya dan Rion huruf-huruf hijaiyah. Hebatnya, Rion tak pernah salah atau terbalik setiap mengucap huruf demi huruf bertulis Arab itu.


"Alif," ucap Terra.


"Alif ...," sahut Rion.


"Ba."


"Ba ...."


Rion mengikuti satu persatu huruf yang diajarkan. Bahkan ia langsung tahu jika Terra menunjuk salah satu huruf. Lidya bahkan kini berpindah ke buku iqro' satu. Darren yang mengajarinya.


Melihat kecerdasan putra-putrinya membuat Haidar bangga. Budiman datang setelah berwudhu.


"Bud, gimana kabarnya Didi dan Ibunya?' tanya Haidar.


Terra langsung menoleh ketika mendengar nama itu. Ia nyaris lupa akan keadaan Didi dan ibunya.


"Oh, iya. Te juga lupa. Apa kabar mereka Kak?'


"Alhamdulillah. Mereka baik-baik saja. Bahkan Didi telah bertemu dengan ayah kandungnya," jawab Budiman.


"Benarkah?" tanya Haidar dan Terra bersamaan.


Budiman mengangguk. "Kepala ramah sakit milik Tuan Bram adalah Ayah kandung dari Didi," jelas Budiman.


"Dokter Harya Suherman, itu ayah kandung Didi?" tanya Haidar tak percaya.


"Pantas saja dulu ia menolak perjodohan dengan Kak Karina. Ternyata dia sudah punya anak istri toh," sahut Haidar bergumam.


Mereka tak bertanya perihal lebih lanjut lagi. Membiarkan kisah Didi dan ayahnya itu menjadi urusan keluarga itu.


Adzan maghrib berkumandang. Kali ini Budiman yang menjadi imam keluarga itu.


"Rapatkan shaf," titah Budiman.


Semua merapatkan tubuh. Lalu.


"Allahu Akbar!'


Mereka pun khusyuk dengan ibadah mereka. Lantunan ayat merdu terdengar dari mulut Budiman.


Bersambung.


ah ... mencintaimu adaah kebenaran.


next?